Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Kematian Jerrol


"Tugasmu sudah berhasil?" tanya Alice kepada seseorang dibalik teleponnya. "Bagus, sekarang pergilah dari sana."


Alice segera menutup teleponnya dengan rasa bahagia, ia senang setelah seseorang berhasil melakukan tugas yang sudah ia beri.


"Maafkan aku, Jerrol. Tapi, kau sudah terlalu banyak ikut campur dalam urusan ku," batin Alice yang memiliki maksud tersendiri.


Seakan-akan tidak tahu apapun, Alice membawa segelas minuman ke dalam kamar Erlan.


"Ternyata kamu sudah bangun. Ini minum obatnya dulu, ya. Baru nanti kita makan siang," pinta Alice dengan penuh perhatian.


"Terima kasih banyak, tapi sepertinya aku belum lapar. Kau makanlah lebih dulu."


"Hei, jangan begitu. Supaya kamu cepat sembuh, maka sebaiknya makanlah. Aku tidak mau kalau sampai kekasihku ini jadi tambah sakit. Nanti yang ada Papa Agra akan curiga kalau ternyata kamu tidak benar-benar pergi honeymoon, ternyata terbaring di rumah sakit. Sulit, bukan?"


"Alice, aku pun ingin memberitahukan tentang kebenaran ini. Sepertinya rahasia ini tidak bisa disembunyikan lagi. Apalagi saat Yoona dengan terang-terangan menginginkan diriku."


"Lalu apa keinginanmu, Sayang?" tanya Alice sembari duduk tepat di sampingnya.


"Keputusan ku sudah bulat untuk menceraikan Yoona. Mungkin aku harus mengambil resiko dari Papa Agra, tapi setelah itu aku akan lebih tenang," sahutnya.


"Ya, itu keputusan yang sangat bagus. Aku mendukungmu, Sayang."


"Terima kasih banyak."


"Aku ini kekasihmu, jadi jangan terus berterima kasih. Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana kalau kita pergi berlibur ke Paris sembari menunggu kesembuhan mu ini? Ya mungkin saja kita bisa menikmati suasana yang lain agar kamu tidak terus-menerus terbaring di atas tempat tidur seperti ini, kan?"


"Alice, seperti jangan dulu."


"Kenapa, Sayang? Aku pikir itu waktu yang tepat, bukan?"


"Aku rasa tidak begitu. Nanti saja ya kapan-kapan kita pergi."


Alice mengeluh dengan raut wajah yang cemberut, ia memperlihatkan kekesalannya. "Padahal, aku sudah menunggu waktu lama untuk berlibur denganmu. Tapi, baiklah."


"Aku harap kamu mau mengerti dengan keadaanku sekarang ini."


***


Ambulan baru saja tiba dan membawa Jerrol dalam keadaan yang terluka parah. Pria itu terbaring tanpa sadar diri dengan darah yang terus mengalir deras. Membuat Yoona ikut masuk ke dalam mobil ambulan.


Melihat kejadian kecelakaan itu, seketika Yoona kembali teringat dengan semua kejadian buruknya dulu.


"Semuanya salahku, kenapa aku selalu menjadi kemalangan untuk orang lain? Pertama kakak dan selanjutnya mama. Bahkan sampai sekarang aku pun tidak tahu di mana mama berada."


Menunduk dalam tangisan saat ia mulai menyalahkan dirinya sendiri. Rasa bersalah itu mampu membuat Yoona ketakutan. Tapi tiba-tiba saja, tangannya digenggam oleh Jerrol yang ternyata masih tersadar, meskipun matanya tak sanggup terbuka karena pendarahan di kepala yang sudah mengotori wajahnya.


"Ja—jangan salahkan dirimu, Yoona."


"Jerrol, kau bisa mendengar ku? Bertahanlah sedikit lagi kita akan tiba di rumah sakit. Tolong jangan pergi terlalu cepat."


Membuat Yoona semakin panik dan takut terjadi sesuatu dengan Jerrol, ia berusaha mengerakkan tubuh pria itu sembari merasakan denyut jantungnya. Tetapi sayang, Jerrol sudah tidak lagi merasakan sakit apapun.


Hingga tiba di rumah sakit, sang dokter pun mengatakan hal yang sama. Di mana Jerrol benar-benar telah tiada. Akibat pendarahan di kepala yang terlalu besar dan mengeluarkan banyak darah. Termasuk benturan keras di bagian dadanya yang membuat organ dalamnya remuk, hingga tak dapat tertolong lagi.


Yoona menangis di depan jenazah Jerrol yang sudah tertutup dengan kain putih. Ia berteriak keras, berharap agar pria itu mendapatkan keajaiban. Tetapi takdir sudah membawa Jerrol pergi dengan kedamaian.


Mengambil ponselnya untuk memberikan kabar kepada Erlan. Tetapi justru panggilan tersebut disambut oleh Alice.


"Ada apa lagi kamu menghubungi kekasihku? Tidak cukup setelah dia menyuruhmu pergi?" ketus Alice dengan kasar.


"Aku tidak ingin berbicara denganmu karena aku ingin berbicara dengan suamiku. Tolong berikan telepon ini padanya terlebih dahulu."


"Oh ya? Benarkah? Apa ini tentang Jerrol?" tanya Alice dengan sengaja memancing.


"Apa? Bagaimana bisa kau tahu tentang Jerrol? Jangan-jangan ... Alice, apa kau terlibat dengan kecelakaan itu? Jawab aku, Alice!" Yoona berteriak keras dari teleponnya hingga membuat beberapa orang yang lalu-lalang menatapnya dengan heran.


"Permisi, Bu. Tolong jangan berteriak di depan kamar mayat. Sebaiknya pergilah ke luar agar tidak membuat orang lain terganggu," ucap seorang Suster yang tiba-tiba datang.


"Maafkan saya, Sus."


Alice mendengar pembicaraan mereka, ia menduga bahwa ternyata Jerrol telah tiada.


"Yoona, apa aku tidak salah mendengarnya sekarang? Itu artinya Jerrol benar-benar telah pergi, kan?"


"Rupanya kau memang ular betina yang sangat berbisa. Alice, aku akan membongkar tentang kejahatanmu yang sudah kau lakukan pada Jerrol. Aku akan mendatangi suamiku," ancam Yoona lalu mematikan ponselnya.


"Lakukan saja apapun yang kau inginkan itu. Tapi, nanti justru dirimu yang akan menjadi tersangka. Yoona, meskipun kita sekarang saudara tiri, tapi maafkan diriku. Tapi, karena dirimu juga Ibuku pernah terluka dan saudaraku—Fiona telah tiada. Seharusnya kau tidak di sisi Erlan, melainkan dipenjara," batinnya.


Alice berlari dengan menangis, namun sebelumnya ia meneteskan obat mata agar terlihat matanya memerah. Membuat Erlan yang sedang duduk diam tiba-tiba terkejut.


"Ada apa? Tenanglah dulu, baru bicara," tanya Erlan yang ikut-ikutan cemas.


"Sayang, Jerrol sudah tiada. Aku baru saja mendapat kabar dari Yoona kalau dia telah pergi. Entah bagaimana bisa, tapi Yoona mengatakan jika semua itu karenanya. Kita harus ke sana. Apalagi Jerrol sudah menjadi temanku di perusahaan kita ...." Berusaha berakting hingga membuat Erlan ikut mengusap air matanya.


"Aku yakin ini kabar yang tidak benar. Apalagi aku tahu Jerrol selalu berhati-hati dalam mengemudi bahkan segala hal. Berhentilah menangis, Jerrol tidak apa-apa." Erlan masih tidak percaya dengan kabar tersebut, apalagi ia selalu tahu bagaimana saat tangan kanannya bekerja dengan baik.


"Sayang, kita harus ke rumah sakit sekarang. Kalau kamu tidak bisa percaya padaku, sebaiknya sekarang kita pergi ke sana. Ayolah cepat!" Alice terus memaksa tanpa berhenti menangis. Hingga membuat Erlan mulai percaya dengannya.


"Jadi, ini bukan sebuah kebohongan?" tanya Erlan dalam kecemasannya.


"Aku juga sudah bilang padaku, kan? Kalau ini memang kebohongan, tapi kamu masih tetap tidak percaya. Yoona baru saja menghubungi ponselmu, tapi aku yang menjawabnya. Dia bilang kalau Jerrol tertabrak truk besar setelah mengantarkannya. Aku tahu ini sangat mustahil, tapi itulah yang sebenarnya terjadi, Sayang!"


Semakin tidak bisa Erlan terima dengan fakta tersebut. Ia terdiam dengan rasa takut. Terlebih selama ini Jerrol yang sudah seperti keluarganya.


"Kita akan segera ke sana." Tiba-tiba Erlan bangkit dari duduknya sembari menggenggam tangan Alice.


Diam-diam Alice tersenyum kecil saat melihat Erlan yang mulai panik. Hal itu membuat batinnya berucap. "Masuk jebakan. Aku tahu ini salah, tapi itulah cara agar Erlan tidak mengetahui tentang kehamilan Yoona. Terlebih saat itu aku sudah mendengar pembicaraan mereka setelah memasangkan alat perekam di dalam mobil Jerrol."