Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Episode 125 : Kalian akan menderita!


Episode 125 : Kalian akan menderita!


.


.


Ketika Aluna masih menangis, Edgar memeluknya dengan sangat kencang sembari membuka tali yang mengikat tangan istrinya.


Dia melihat tangan istrinya yang memerah karena ikatan yang terlalu kuat.


Amarah yang begitu hebat dan rasa marah yang tidak lagi terbendung, Edgar melonggarkan pelukannya sejenak dan meraih kedua pipi istrinya.


Di kecupannya kening istrinya yang masih menunduk takut dan menangis.


Dengan sangat lembut Edgar menggendong istrinya ke luar gubuk dan membuatnya berdiri disana.


Edgar sekali lagi mengecup kening istrinya dan berbisik.


"Sayang ... maafkan aku tetapi tolong tunggu disini sebentar." bisik Edgar mengusap rambut istrinya lembut sekali.


Mendengar itu Aluna terkejut, dia mendongakkan wajahnya dan akhirnya melihat keadaan suaminya yang tidak baik-baik saja.


Di wajahnya ada darah dan wajahnya terlihat pucat dan keringat dingin.


"Mau kemana? apa yang mau kau lakukan?"


"Ed ..."


Aluna tentu saja langsung khawatir, dia mencoba masuk lagi ke dalam ruangan gubuk itu akan tetapi Edgar sudah terlanjur menguncinya dari dalam.


"Ed ... buka, kenapa kau bisa terluka? jangan pergi ..." Aluna menangis dengan hebat, dia memukul-mukul pintu gubuk itu dan mencoba mendorong sekuat tenaga.


Aluna takut sekali bagaimana Edgar akan melakukan sesuatu yang gila di dalam, dia tidak ingin suaminya menjadi kriminal dan membunuh orang lain.


Aluna tahu betul bagaimana tempramen suaminya yang sangat meluap-luap.


Saat Aluna mencoba memukul-mukul pintu gubuk, Edgar sudah melihat dengan tajam ke arah para penculik Aluna yang sudah gemetaran ketakutan karena tahu siapa orang yang ada di sana.


"Tu ... Tuan Edgar Brown?"


Seru salah seorang yang sudah membuka baju itu.


"Buk!"


Sebelum lelaki itu bisa menghindar, Edgar dengan sangat membabi buta meninju lelaki itu sampai terbentur dinding kayu gubuk.


"Ahk!"


Penjahat itu merasakan rasa sakit yang teramat sangat di pipinya dan darah mulai keluar dari pinggiran bibirnya.


"Apa yang mau kau lakukan kepada istriku? kenapa kau membuka baju mu?" bisik Edgar seperti seorang yang gila.


"Ampun Tuan, kami tidak tahu jika dia adalah wanita mu ... ampuuunnnn!" penculik yang tadi mau melecehkan Aluna itu memohon ampun, dia merangkak bersimpuh di sepatu Edgar memohon agar dimaafkan.


Tetapi semuanya sudah terlambat.


"Brak!"


Saat lelaki itu menyentuh sepatu Edgar dengan begitu kuat, Edgar menerjang kepala lelaki itu sampai berdarah.


"Ahk!"


Lelaki itu berteriak lagi dan merasakan rasa sakit yang begitu hebat, sampai saat ia tidak bisa menahan rasa sakit di kepalanya, lelaki itu terjatuh pingsan begitu saja.


Seolah tidak puas, Edgar datang lagi mendekat dan segera menarik tangan lelaki itu dan akan menerjang nya lagi.


Saat itu penculik yang lain yang sadar jika rekan mereka akan mati jika terkena terjangan lagi mencoba menahan Edgar.


Saat mereka melakukan itu, Edgar menyeringai tajam, dia meraih kedua tangan yang ada di bahunya dan dia mengangkat kedua lelaki itu sampai terbentur ke lantai papan.


Edgar benar-benar menghabisi setiap dari mereka ...


"Tangan ini yang tadi mau menyentuh istriku, aku akan patahkan sampai kau tidak akan lagi bisa menyentuh apapun!"


"Mata yang tadi melihat istriku dengan buas akan kau copot semuanya, agar kalian tidak akan lagi bisa melihat apapun!"


"Kalian semua yang ada di ruangan ini tidak akan mati dengan mudah, kalian akan menderita dengan cara yang mengerikan, sampai kalian akan memohon untuk mati!"


Para penculik yang menyadari mereka akan merasakan derita yang begitu hebat langsung memohon semuanya.


"Ampun Tuan, ampuuuunnn ... kami hanya diperintahkan oleh wanita itu, mereka yang merencanakan semua ini dan menjebak kami ... ampuni kami Tuan ..." seru mereka dengan tubuh yang gemetaran dan ketakutan yang teramat sangat.


"Wanita?"


"Ho? rupanya yang ada di mobil tadi, mereka akan habis di tangan ku!"


"Oh ya, aku tidak peduli apakah kalian dijebak atau tidak, fakta bahwa kalian hendak melukai istriku sudah cukup menjadi alasan untukku menghabisi kalian!"


Bisik Edgar tetap dengan ekspresi nya yang sungguh mengerikan, dia kembali menghabisi mereka.


Walaupun saat itu dirinya juga terluka dan darahnya sampai mengering di dahinya.


.


.


.


.