Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Rencana Besar


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Alice mengintai Ernio yang sedang membuka kota kecil pemberiannya. Ia merasa senang saat Ernio mulai melihat benda itu. Namun kehadiran Erlan yang tiba-tiba justru membuatnya terkejut.


"Loh? Kenapa malah di sini? Apa sedang menunggu seseorang, Alice?" tanya Erlan.


"Enggak. Aku cuma berdiri di sini buat cari angin, lagian kamu sendiri juga pergi dari pesta dansa itu, kan? Lalu buat apa aku ada di sana," sahut Alice yang terlalu pintar mengarang alasan.


"Huuf! Kau tahu kenapa aku tidak ingin melanjutkan pesta itu? Entahlah, tapi aku merasa tidak senang dengan keputusan Papa Agra yang ingin menikahi Mama Geisha, bahkan yang lebih buruknya lagi sampai mengumumkan di depan banyak orang." Deru nafas terdengar panjang saat Erlan mulai curhat.


Terlihat rasa kesal yang bercampur rasa benci yang begitu jelas, namun Alice dengan sangat memeluk tubuh Erlan demi bisa membuat pria itu jauh lebih tenang.


"Percayalah, Sayang. Semuanya akan membaik jika kamu bisa sedikit bisa mengatasi masalah ini, setelah pesta selesai, kita akan bicarakan semuanya sama papa kamu. Memang aku pun tidak setuju saat mengetahui kalau ibunya Malvin ternyata calon mama barumu. Pasti Yoona juga akan sangat bersemangat ketika mengetahui hal ini, atau bisa saja dia sudah mengetahuinya sejak lama," sahut Alice yang langsung menekan orang lain.


Sikap buruk yang Alice tunjukkan untuk Yoona mampu membuat Erlan tiba-tiba tidak senang, terlebih ia mulai tidak suka jika ada orang lain yang menjelek-jelekkan istrinya itu, sekaligus orang itu Alice.


Menatap wajah Alice dengan kesal sembari berkata. "Yoona tidak tahu apapun, dia pasti tidak terlibat dalam urusan papaku. Jadi tolong, tidak perlu menuduhnya seperti itu."


"Hei! Kau bahkan sudah mulai membantah diriku, Sayang? Ada apa? Aku hanya berpendapat, dan tidak sedang menuduh siapapun."


"Tetap saja aku tidak suka jika itu tentang Yoona," jelas Erlan yang semakin membuat Alice sangat tidak mempercayainya.


"Tapi, Erlan. Aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Kenapa harus marah-marah padaku sekarang?" Alice terlihat sangat kebingungan.


"Terserah, tapi aku sama sekali tidak menyukai sifatmu seperti itu," bantah Erlan sebelum akhirnya melangkah pergi.


Membuat Alice terdiam dengan penuh rasa kesal, ia juga tidak mengerti dengan tiba-tiba sikap Erlan bisa berubah total.


"Apa mungkin Erlan sudah mulai mencintai Yoona? Jika itu benar, maka posisiku akan tergantikan. Belum sempat menjadi menantu, keberadaan ku mulai terancam, tapi tidak karena aku harus bisa memastikan Ernio sudah melakukan semuanya," batin Alice.


***


Membuka kotak kecil pemberian dari Alice, namun hanya terlihat berupa beberapa bubuk kecil yang dibungkus dalam plastik. Membuat Ernio mengerti bahwa benda tersebut adalah untuk membuat seseorang terangsang atau tidak sadar diri.


"Apa yang akan aku lakukan dengan benda ini? Bagaimana mungkin bisa aku memberikan benda ini jika pesta itu dimulai di rumah Kak Erlan sendiri?" tanya Erlan yang terlihat terheran.


"Lakukan saja, dan aku yang akan membantumu." Terdengar suara Alice yang sejak tadi mengintainya.


"Kau juga ada di sini? Ya ampun ... berniat sekali. Tapi, Alice. Aku tidak ingin mengambil kesempatan yang berat seperti sekarang, ini cukup beresiko dan Kak Erlan bisa saja membunuhku."


"Ayolah, Ernio. Aku tahu jika kau merasa tidak nyaman, tapi pastikan bahwa semuanya tetap aman. Hei! Kau ini pria jantan, lalu kenapa harus bersikap seperti itu? Tenang saja, Ernio. Ini bukanlah urusan yang sulit," ucap Alice dengan begitu santai sembari tersenyum manis.


"Katakan apa solusinya?"


"Bukankah kau bilang jika ingin berikan hadiah untuk Yoona? Ya sudah berikanlah hadiah itu sebagai alasan untuk mengajak Yoona pergi dari sini. Dengan begitu, semuanya akan berjalan dengan sangat aman, bukan?" saran Alice.


"Itu ide yang mudah sekali, ayo ikut denganku karena pesta dansa juga membutuhkan kita. Nantinya aku akan membantumu, Ernio. Tapi, kau harus menyiapkan mobil sebelum membawanya pergi."


"Pasti akan aku lakukan."


Ernio sudah mulai terperdaya dengan semua keinginan buruk dari Alice. Mereka berdua memasuki acara pesta di saat beberapa orang sedang berdansa. Mencari keberadaan Erlan, namun ternyata pria itu hanya berdiri diri saja.


"Sayang, apa kau hanya mau diam saja sampai besok pagi di sini? Ayo ... kita berdansa," ajak Alice sembari menggenggam erat tangan pria itu.


"Tapi, aku sedang menunggu Yoona."


"Kau bisa berdansa dengannya nanti, tapi lihatlah sekarang Ernio juga lebih dulu membawa Yoona ke tempat dansa ini. Tunggu apalagi, Erlan? Ayolah ... kau benar-benar ingin menolak permintaan kekasihmu sendiri?" pinta Alice dengan rautnya yang terlihat cemberut.


Alhasil mau tidak mau, Erlan pun melangkah menuju ke tempat dansa. Mereka mulai bergerak, begitupun dengan Ernio dan Yoona. Namun sejak dansa berjalan, tatapan Erlan terus saja menatap ke arah Yoona dengan rasa cemburu yang berat.


Meskipun begitu, Alice mencoba untuk tetap mencari perhatian kekasihnya dengan sesekali memegang kedua pipi Erlan. Lampu remang-remang mulai berubah berbeda, dan pesta dansa berlanjut seperti di dalam club malam. Para tamu mulai bergoyang dengan sesuka hati, dan beberapa minuman mulai tersebar.


Kesempatan yang bagus untuk Ernio, sampai ia menarik tangan Yoona untuk menjauh dari sekumpulan orang.


"Kau mau membawaku ke mana, Ernio?"


"Ikut sebentar denganku, Yoona. Kau ingin dengan janji hadiah yang ingin aku berikan? Sekarang aku ingin kamu menerimanya," ajak Ernio dengan sedikit memaksa.


"Tapi, setelah pesta berakhir kita masih bisa pergi, kan? Lagi pula aku belum berpamitan dengan Mas Erlan, dia pasti akan mencari ku nantinya."


"Yoona, kau ini kenapa? Erlan dan Alice saja sedang sibuk bersama di sini? Lihatlah mereka terus bergoyang, bukan? Ayolah ikut denganku sebentar saja, tidak ada yang akan mencari mu karena kita tidak akan lama."


"Memangnya di mana hadiah untukku itu, Ernio? Kenapa tidak memberikannya di sini saja?" tanya Yoona, namun pandangannya sejak tadi melirik ke arah Erlan dengan rasa cemburu.


"Tidak bisa di sini, Yoona. Hadiah itu tidak akan mungkin aku bawa ke mari. Ayolah jika memang kau mau, supaya kita tidak terlambat," desak Ernio terus-menerus.


Membuat Yoona terdiam, namun tidak batinnya. "Sepertinya Mas Erlan terlalu senang sampai tidak menghiraukan diriku, bahkan dia juga tidak mengajakku menikmati pesta ini bersama. Mungkin benar kalau Alice lebih dari segalanya daripada diriku. Apalagi sekarang tubuhku sudah terlihat lebih berisi saat kehamilan ini terjadi."


"Hei! Kenapa malah melamun? Jadi tidak?" tanya Ernio setelah ia menepuk pundak Yoona dengan sengaja.


"Eh, iya! Ya sudah aku mau, tapi janji tidak akan lama."


"Tenanglah, Yoona. Aku tidak akan menculik mu."


Keduanya pergi, namun Alice tersenyum saat Erlan tidak menyadari pandangannya yang perlahan menatap Ernio dan Yoona.


"Baguslah jika mereka sudah pergi dari sini, maka aku akan membuat Erlan sibuk sendiri. Lebih baik seperti ini, agar niatku menjadi menantu keluarga besar ini bisa terkabulkan," batin Alice dengan penuh semangat.