
Yoona yang sudah lebih dulu pulang, ia sampai rela menunggu Erlan hanya untuk sekedar memastikan kalau pria itu akan pulang atau tidak. Sampai menonton televisi seorang diri, meskipun matanya sudah menjerit untuk meminta terpejam.
Terdengar suara pintu terbuka diketuk, ia segera bergegas membuka. "Baguslah kamu sudah pulang, Mas."
"Ya, aku tahu. Tapi tolong, tidak perlu menungguku pulang karena nanti aku akan lebih sering pulang larut seperti ini, kau paham?"
"Meskipun begitu, aku akan tetap menunggumu pulang, Mas Erlan," sahut Yoona dengan sangat keras kepala.
"Ya sudah itu urusanmu saja." Erlan menjawab sembari berlalu pergi masuk ke kamarnya begitu saja.
"Oh ya, Mas Erlan. Tadi Papa Agra titipkan tiket untuk kita berdua. Sepertinya dia sangat ingin kita pergi honeymoon. Sampai-sampai memberikan kita hadiah tiket ini," ucap Yoona sembari memberikan dia lembar kertas berharga.
"Aku sudah tahu tentang itu, tapi kita tidak akan pergi honeymoon. Melainkan berkunjung ke tempatmu tinggal," sahut Erlan setelah ia memikirkannya dengan matang.
Membuat Yoona terheran. "Apa maksudmu, Mas Erlan? Kau ingin mengabaikan tentang hadiah dari papamu sendiri, begitu?"
"Bukan sama sekali, Yoona. Namun, setelah aku pikir-pikirkan tidak akan baik jika kita pergi honeymoon dalam keadaan seperti ini. Aku tidak mencintaimu, dan pernikahan ini terjadi karena keterpaksaan. Untuk itu aku akan memutuskan untuk pergi mencari bukti kebenaran tentang kepergian tunanganku dengan mataku sendiri. Jika perlu aku akan menggali pemakamannya supaya bisa melihat jelas wajahnya itu. Kalau kau ingin tidak ingin ikut denganku, tidak apa. Tetapi tolong kerjasamanya agar pergi sementara dari rumah ini supaya Papa Agra mengira kita benar-benar pergi honeymoon," tekad Erlan.
"Apa kau sudah tidak waras, Mas Erlan? Kau sampai ingin menggali makam Kak Fiona. Dia sudah tenang di sana, Mas. Apakah kau ingin mengusik alam terakhirnya juga? Aku tidak mau ikut dan tidak mau pergi dari rumah ini. Biarkan saja Papa Agra tahu jika kita tidak benar-benar honeymoon," bantah Yoona.
"Jaga bicaramu, Yoona. Kaulah penyebab dari semua ini, dan aku tidak sedang mengusik siapapun. Melainkan kau yang mengusik kehidupan hidupku. Lagi pula, apa salahnya jika aku ingin tahu kebenarannya langsung? Apakah kau sudah melihatnya sendiri dengan matamu saat dia di makamkan? Jika tidak. Maka berhentilah untuk banyak membantah ucapan ku. Apalagi akhir-akhir ini kau sudah sangat keterlaluan melawan suamimu sendiri."
Perlawanan Erlan membuat Yoona terdiam tanpa berani untuk menyela. Ia sadar semuanya adalah salahnya sendiri.
Terdiam seribu bahasa, namun tidak pikirannya yang terus memikirkan sesuatu. "Sejujurnya aku tidak melihat secara langsung saat Kak Fiona pergi ke tempat peristirahatannya. Aku datang setelah pemakamannya selesai dalam keadaan mataku yang masih diperban. Meskipun aku ingin sekali melihat detik-detik terakhirnya itu. Tapi bukan kuasaku, dan aku hanya mendengar cerita dari Tante Rega kalau Kak Fiona rela mendonorkan matanya untukku. Apakah seharusnya aku ikuti saja keinginan dari Mas Erlan?"
Melihat Yoona melamun, Erlan tidak peduli dan memilih pergi ke kamar mandi.
Mentari pagi kembali datang. Emma sudah bersiap untuk menunggu kedua kakaknya turun untuk sarapan bersama. Tapi, justru ia dikejutkan saat melihat Erlan membawa tas belakang yang besar seorang sendiri. Hanya Erlan terlihat, tidak dengan istrinya.
"Loh? Kak Erlan mau ke mana sampai bawa barang seperti itu? Mau honeymoon apa mau manjat gunung? Lalu di mana Kak Yoona berada?"
"Sudah lanjut saja sarapan mu. Anak kecil tidak boleh tahu urusan orang dewasa," ledek Erlan.
"Ish ditanya baik-baik juga." Emma segera melangkah masuk ke dalam kamar kakaknya. Terlihat Yoona sedang bersiap-siap.
"Hei, Kak. Kalian sebenarnya mau camping di hutan atau honeymoon di hotel sih? Aneh," tanya Emma yang penuh penasaran.
"Loh? Enggak sarapan bareng gitu? Malas tahu makan sendiri, Kak Yoona."
"Hei, kau sudah dewasa. Terbiasalah belajar kesepian, Emma. Tidak selamanya kita akan memiliki teman ataupun teman hidup. Baiklah, katakan pada Papa Agra kalau kami akan pergi. Kak Erlan sangat buru-buru sekali. Dia sampai tidak memberikanku waktu berdandan lebih lama."
"Ya ampun. Menyebalkan sekali kalian. Ya sudah, hati-hati kalian."
Melambaikan tangan dengan rasa sedih saat Emma di tinggal oleh kedua kakaknya. Meskipun selama ini aku sudah sering tinggal seorang diri di luar negeri, tetapi saat melihat orang lain yang meninggalkannya rasanya begitu berbeda.
"Andai aku bisa memiliki hubungan baik seperti pasangan itu," gumamnya.
Selama satu jam, Erlan dan Yoona akan menempuh perjalanan untuk bisa tiba di kota tempat tinggal Yoona. Keduanya hanya terdiam sembari menatap ke arah perumahan. Hingga tidak terduga telah sampai.
Untuk kedua kalinya setelah hari pernikahan, Erlan baru kembali berkunjung, sebab sebelumnya tunangannya dulu memilih menyewa apartemen sekaligus melanjutkan karirnya. Namun tidak dengan Yoona, yang memilih menetap di rumah bersama dengan ibunya.
"Apa kau terasa asing dengan tempat ini, Mas Erlan?" tanya Yoona dengan tiba-tiba saat mereka melewati jalan kecil yang memasuki pekarangan rumahnya.
"Ya, ini terasa asing bagiku setelah kepergiannya," sahut Erlan dari dalam batinnya.
"Kau ini cerewet sekali, ya? Sebaiknya teruslah berjalan karena kita di rumahmu tidak akan lama. Baru setelah itu, kita akan menuju ke pemakaman."
"Aku tahu, Mas. Alangkah baiknya jika kita menginap di sini semalam. Pasti Tante Rega akan berpikir aneh kalau kita hanya datang dan pergi tanpa bermalam. Kau tahu sendiri, kan? Jika kita ini pengantin baru?"
"Aku tahu, tapi aku tidak peduli tentang itu," sahut Erlan dengan begitu tak acuh. Ia segera berjalan pergi meninggalkan Yoona di belakang.
Melihat kedatangan pengantin baru, membuat Tante Rega begitu senang. Ia segera memberikan pelukan hangat kepada Yoona, terlebih setelah kepergian keponakannya itu. Ia merasakan kesepian saat harus tinggal di kediaman orang tua Yoona.
"Wah ... Tante tidak menduga kalau kalian akan datang berkunjung ke sini. Ya sudah ayo masuk, Nak Erlan! Kebetulan hari ini Tante ada masak banyak."
"Terima kasih banyak sebelum, Tante. Namun, kedatangan kami ke sini tidak ingin berkunjung sebagai tamu, namun aku ingin mengetahui bahwa kebenaran kematian tunanganku. Aku akan langsung terus terang karena memang Yoona mengatakan kalau Tante yang ikut terlibat untuk memaksanya menjadi istriku. Sekarang ceritakan bagaimana kejadian setelah kecelakaan itu?" tanya Erlan dengan raut wajah yang datar. Tanpa ingin menundanya.
Pertanyaan itu membuat Tante Rega tiba-tiba bersedih. "Nak, apa maksudmu ini? Kau berusaha mencurigai diriku? Yoona, kenapa dengan suamimu? Kenapa kau sampai menceritakan kebenaran ini, Yoona?"
"Hei, Tante. Tanpa Yoona ceritakan siapa dirinya pun, aku sudah tahu bahwa dia bukanlah orang yang sama. Meskipun wajah mereka memang sama. Jika kau tidak ingin memberitahukan kebenarannya, maka aku tidak akan segan-segan membongkar pemakamannya." Erlan terlihat begitu serius.
"Kau benar-benar tidak waras. Kalian berdua sama saja!" Tante Rega terlihat kesal. Sampai ia bergegas pergi seperti ingin membawa sesuatu.