
Episode 121 : Rencana yang jahat.
.
.
Clara dengan rasa amarah dan jengkel terhadap wanita yang menurut nya sangat jahat dan licik itu segera memberitahu kepada tiga pelayan gadungan yang memang memiliki rencana jahat terhadap Aluna.
Setelah itu dia pergi begitu saja, dia tidak ingin tinggal di tempat itu lagi, dia akan segera memberitahu semua ini kepada keluarga Edgar.
Untuk apa dia menyembunyikan hal ini lagi, apalagi saat dia dipermalukan oleh Aluna seperti itu.
.
.
Di tempat para pelayan,
"Bagus sekali, ini adalah kesempatan langka, kita harus mengambil resiko, jika tidak begini maka wanita miskin sialan itu akan terus berada di sisi Edgar, mulai hari ini kita tidak boleh menahan diri lagi!"
"Setelah kita menyingkirkan Aluna, kita buat aja seolah-olah Clara yang melakukan nya, jadi kita bisa mendekati Tuan Edgar dengan mudah ..." bisik ketiga pelayan itu memiliki rencana yang sangat jahat.
Mereka tidak akan peduli lagi konsekuensinya, mereka hanya tidak ingin melepaskan kesempatan untuk mendekati Edgar lagi.
"Apakah kau yakin? bagaimana cara kita membebankan semua ini kepada Clara?" seru salah seorang dari mereka masih sedikit takut.
"Heh? kan ada CCTV, ada bukti jika mereka bertengkar sebelumnya, jadi Clara akan menjadi orang yang paling dicurigai, Tuan Edgar memiliki tempramen yang gila, dia pasti akan langsung menjadikan Clara sebagai tersangka!" seru seorang dari mereka yang memiliki ide gila ini.
"Benar juga, kita bisa menghancurkan dua pesaing dalam satu kali tindakan! kau jenius!"
Rencana gila dimana mereka akan membuat Aluna kecelakaan dengan cara merusak mobil yang akan dikendarai oleh supir pribadi yang membawa Aluna.
Dengan rencana keji itu, salah satu pelayan segera menjaga pintu belakang dimana mobil diparkir, salah satu lagi segera mematikan cctv khusus tempat dimana mobil memang di parkirkan.
Dan salah satu lagi berada di mobil untuk memutus rem mobil.
Cara memutus rem bahkan hanya mengandalkan browsing internet karena dia sama sekali tidak mengerti.
Hanya dalam beberapa menit, rencana gila itu sudah selesai dilakukan hanya tinggal eksekusi.
.
.
Di perusahaan Edgar Brown,
"Tring ... Tring ... Tring!"
Panggil telepon dari suaminya sudah datang bahkan saat jam masih menunjukkan pukul 10 pagi.
"Halo suami?" seru Aluna sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian rapih.
Hanya tinggal membuatkan makanan untuk suaminya saja.
"Sayang, kenapa kau kelihatan cantik sekali? padahal kita baru berpisah hanya dalam beberapa jam tapi kecantikan mu sudah bertambah saja!" seru Edgar berpangku tangan karena dia merasa sangat bosan.
Di meja kerjanya begitu banyak berkas penting yang harus ia bereskan segera.
Sudah tiga hari dia memaksakan bekerja dari rumah, jadi pekerjaan yang tidak bisa ia handle dari rumah menumpuk begitu banyak.
Setelah tadi dia menghadiri meeting, dia langsung disambut oleh tumpukan berkas di atas mejanya.
Tetapi baru saja hendak memulai pekerjaan nya, dia sudah sangat merindukan sang istri.
"Dasar gombal, apakah ada yang ingin kau sampaikan? aku akan memasak untuk dibawakan ke kantor ..." Aluna merasa suaminya ini sangat pandai menggoda.
Sepertinya, menggoda adalah bakat terpendam dari suaminya.
"Tidak ada, aku hanya ingin kau cepat ke sini saja, aku benar-benar sudah merindukan mu, nanti jangan lupa hafalkan nama-nama teh yang aku berikan ya, nanti di kantor aku akan menanyakan nya ..." seru Edgar tersenyum sangat lebar saat melihat istrinya.
Dia masih berpangku tangan dan menatap istrinya dengan sangat lekat, seolah-olah mereka sudah lama berpisah.
"Haaah!"
Aluna menghela nafasnya dalam-dalam, selama tiga hari ini suaminya mengajarinya mengenai kebiasaan keluarganya, juga mengenai nama-nama makanan juga teh kesukaan ibu Edgar.
"Baiklah, aku akan menghafalnya, sudah mau siang, aku harus segera memasak." Aluna sudah melangkah menuju dapur dimana dia akan segera memasak, sebentar lagi jam makan siang, jadi dia harus segera memasak makanan kesukaan suaminya.
"Baiklah sayang, aku juga sudah melihat wajah mu, setidaknya sedikit kerinduan ku sudah terobati, aku tunggu ya disini ..."
Seru Edgar sangat puas saat tahu istrinya akan segera memasak untuk nya.
Panggilan itu akhirnya berakhir, Edgar langsung berkutat lagi dengan pekerjaan nya sedangkan istrinya memasak di rumah untuk makan siang suaminya.
"Entah kenapa pernikahan ini jadi seperti ini, rasanya ini seperti pernikahan sungguhan dimana aku dan Edgar saling mencintai ..."
Benak Aluna merasa pernikahan ini semakin lama semakin terlihat nyata, dimana Edgar semakin memperlihatkan rasa sukanya padanya.
*Blush*
Saat Aluna memikirkan mengenai hal itu, pipinya jadi memerah dan dia segera menggelengkan kepalanya.
Sembari menepuk kedua pipi untuk menyadarkan dirinya, Aluna segera memulai memasak makanan yang akan dia bawakan.
.
.
Lala dan Mina yang merupakan pengawal pribadi Aluna tentu saja mengikuti Aluna kemanapun dia pergi.
Posisi saat di mobil, di kursi pengemudi ada supir, di sisi supir pribadi ada Lala, dan di sisi Aluna ada Mina.
Lala dan Mina akan menjaga Aluna dari dekat dan tidak akan membiarkan satu bahaya pun mendekat sesuai dengan perintah Edgar Brown.
"Hei, itu dia mobil nya, ayo kita ikuti, saat ada waktu lengah kita langsung culik wanita itu!" Para penculik bayaran yang sudah dibayar oleh Freya sudah mulai mengikuti Aluna dan mengintai pergerakan nya.
Jika ada peluang maka mereka akan langsung menculik Aluna dan mendapatkan bayarannya segera.
Lokasi kediaman Edgar memang sedikit jauh dari kantor, mansion Edgar berada di lokasi yang ekslusif yang tidak bisa sembarangan orang masuki.
Awalnya perjalanan itu baik-baik saja.
Sampai ketika ...
"Tring ... Tring ... Tring!"
Edgar lagi-lagi menghubungi istrinya, dimana dia sudah sangat ingin melihat istrinya sekarang juga.
"Sayang, sudah dimana? aku sudah lapar!" seru Edgar dengan sangat manja dan menuntut.
"Aku sudah berada di perjalanan, sebentar lagi akan sampai, tunggu dulu ya suami." Aluna tersenyum saat mendengar suaminya bermanja-manja.
Rasanya Edgar seperti anak kecil yang butuh perhatian jika sedang bermanja-manja.
"Hummm, baiklah, nanti aku akan menjemput mu di lobby, hati-hati di jalan ya sayang!" Edgar semakin bersemangat.
Dia memang sudah lapar dan dia sudah sangat ingin memakan makanan yang dibuat istrinya sekarang ini.
.
.
"Pak, sepertinya mobil ini melaju terlalu cepat, kami tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, apakah kecepatan nya bisa di turunkan sedikit?" Seru Lala saat menyadari mobil yang sedang melaju itu terlalu kencang.
"Baiklah Nona ..." balas supir pribadi itu mencoba mengurangi kecepatan mobil.
Akan tetapi ...
"Tak ... Tak!"
Supir itu mencoba beberapa kali menurunkan kecepatan mobil dan menarik rem, tetapi semakin dia coba semakin mobil hilang kendali dan semakin kencang malu.
"Ada apa Pak? kenapa semakin cepat?" seru Lala menjadi panik.
"Saya tidak tahu Nona, sepertinya mobil ini mengalami kerusakan, bagaimana ini?" sang supir sudah panik dan tentu saja semua penumpang juga panik termasuk Aluna.
Rasa takut segera menghampiri dan jantung berdegup sangat kencang.
"AAAAAAAAA!"
Supir yang tidak bisa mengendalikan mobil sudah tidak bisa melakukan apapun lagi, mobil sudah akan melewati belokan dimana Mobil akan berbenturan dengan batu atau pohon yang ada di sana.
"Nona, saya akan melindungi anda dengan tubuh saya, maafkan kami tidak becus menjaga anda!" Mina langsung panik, dia segera memeluk Aluna kencang sekali.
Sedangkan Aluna, dia masih belum bisa memproses semua ini sampai ketika ...
"Brak!"
Mobil yang mereka kendali menabrak sesuatu dan akhirnya berhenti.
Untung saja mobil itu menabrak pohon bukan batu sehingga daya rusaknya tidak sampai membuat mobil meledak.
"Ting!"
Semua makanan yang tadi disusun oleh Aluna di bekal makanan sudah berserakan, darah mengalir dan semuanya menjadi diam.
"Mi ... Mina?" Aluna masih sempat sadar saat itu namun ia segera pingsan dengan hanya meninggalkan luka ringan di siku.
Benturan di kepalanya tidak membuat kepalanya sampai berdarah hanya saja masih terasa sangat sakit.
Mina memeluk Aluna dan membuat Mina terluka sangat parah.
Seperti mendapatkan Jack pot, para penculik yang mengikuti Aluna segera mendatangi mobil yang baru kecelakaan dan memeriksa mengenai target mereka.
"Dia masih hidup, cepat bawa! ini adalah kesempatan!" seru orang yang memeriksa denyut nadi Aluna.
Saat tempat itu masih sepi, mereka segera membawa Aluna ke tempat persembunyian.
.
.
.