Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Pertama Jadian


"Sebelum aku menjawabnya, katakan dulu padaku, Alice. Sejak kapan kau mencintaiku? Padahal selama Fiona masih denganku, dia berkata jika kalian sering curhat bersama. Bahkan Fiona sering menceritakan tentangku," tanya Erlan dengan penasaran.


"Aku tahu, tapi aku mencintaimu jauh sebelum kau mengenal sosok Fiona. Rasa ini sudah aku pendam begitu lama, dan selama itu pula aku berusaha untuk dekat meskipun harus menjadi sekretaris mu sendiri. Dengan cara lain aku dapat melihatmu setiap waktu, meskipun aku tahu kebahagiaan bukanlah berada denganku. Sekarang kau sudah yakin dengan ucapan ku ini?" Alice terlihat begitu serius. Terlebih dengan tatapan matanya yang tak sedikitpun tak berpaling.


Begitupun dengan Erlan yang bisa melihat kejujuran dari mata Alice. Meskipun ia tidak menduganya, namun ia bisa menghargai sebuah perasaan seseorang untuknya.


"Alice, aku tidak mengecewakan dirimu. Tetapi, aku sudah menikah. Walaupun kau sendiri tahu tentang pernikahan yang aku anggap beban, tapi di mata dunia aku tetaplah suami orang. Bahkan menunggu sampai dua tahun lagi supaya aku bisa menceraikan istriku, atau mungkin saat Papa Agra berubah pikiran," jelas Erlan.


"Meskipun demikian, aku siap menjadi yang kedua untukmu, Erlan."


"Sungguh? Kau tidak akan keberatan tentang pernikahanku?" Erlan bertanya dengan berusaha menyakinkan.


"Ya, tentu saja, Erlan. Aku sama sekali tidak keberatan. Lagi pula hidupku selama ini sudah sendirian. Itu artinya aku malah bahagia bisa bersama denganmu. Tapi tunggu dulu, itu artinya ... kau menerima diriku, Erlan?!"


"Sudah pasti. Lagi pula kau wanita hebat aku temui," sahut Erlan dengan begitu mudahnya meskipun ia tidak merasakan perasaan apapun juga.


"Erlan, aku sangat mencintaimu!" Alice tersenyum dengan sangat kegirangan. Ia sampai melompat dengan memeluk tubuh Erlan.


"Baguslah jika kau bahagia, Alice. Walaupun aku tidak tahu apakah keputusan ini benar atau tidak, tapi aku akan berusaha untuk membuka hatiku untukmu," batin Erlan di tengah pelukan mereka.


"Itu artinya sekarang kita sudah jadian, benarkan?"


"Tentu saja." Erlan menjawab dengan anggukan kecil.


"Ya ampun. Sungguh aku tidak menduga kalau ternyata aku bisa bersama denganmu. Pria yang selama ini aku idamkan. Bahkan aku rela bertahan dalam rasa sakit saat melihatmu bersama dengan wanita lain, hanya untuk bisa memperjuangkan cintaku ini. Lalu sekarang tidak lagi, akan aku perjuangkan kita berdua sampai bisa memilikimu sepenuhnya, Erlan. Karena hanya diriku yang berhak untuk menjadi istrimu, bukan wanita bodoh itu, batin Alice.


Malam terlihat begitu cerah sampai keduanya masih betah berada di atas. Meskipun angin malam mulai menusuk ke tulang. Alice tidak ada hentinya bersandar di atas bahu Erlan. Ia terlihat begitu nyaman.


"Apa kau tidak kedinginan, Sayang?" tanya Alice.


"Sedikit, lalu bagaimana denganmu?"


"Aku merasa kedinginan. Tapi, ngomong-ngomong kenapa kau tidak memanggilku dengan panggilan tertentu? Seperti yang kau lakukan terhadap kekasihmu dulu, Sayang?"


Pertanyaan itu membuat Erlan merasa sedikit risih, apalagi ketika hari pertama jadian dalam keadaan tanpa ada perasaan. Ia segera bangkit dari duduknya, dan membuat Alice merasa bingung dengan sikap kekasihnya.


"Ada apa? Apa kau marah hanya karena aku bertanya seperti itu, Erlan?"


"Bukan, tapi aku masih belum terbiasa dengan semua ini, Alice. Begitupun dengan meminta agar aku memanggilmu panggilan yang lain, terlebih aku masih teringat dengan mendiang tunanganku. Setiap kali ada panggilan kesayangan untuknya, aku selalu merasa kalau dia ada bersamaku. Itu sebabnya, jangan paksakan aku untuk melakukan hal yang sama seperti dulu karena aku sangat takut kehilangan untuk kedua kalinya," jelas Erlan.


"Ya, aku mengerti. Baiklah mulai sekarang aku tidak akan memaksa." Alice mencoba memahami sembari ia merangkul tangan Erlan dengan mesra.


"Bagaimana kalau sekarang kita pulang, Alice? Besok pagi-pagi sekali aku harus ke suatu tempat."


"Akan lebih baik jika aku tidak perlu memberitahu kalau aku ingin mencari bukti tentang kematian Fiona," batinnya.


"Aku akan pergi dengan Papa Agra dan Emma. Maafkan aku, Alice. Bukan aku tidak mau, tapi Papa Agra akan pasti risih kalau dia sampai tahu tentang hubungan kita. Apalagi kalau sampai kau ikut. Sudah pasti papaku akan curiga." Erlan berusaha berbohong dengan sengaja.


"Baiklah, aku memahaminya, Sayang. Tapi sekarang bisakah kita bermalam di sini saja? Apalagi di ruangan mu ada tempat tidur, kan?" pinta Alice sembari mendekati wajahnya dengan mengusap pipi kanan Erlan.


Membalas usapan dengan menggenggam tangan, Erlan tersenyum saat melihat sikap manja kekasihnya.


"Tidak bisa, Alice. Aku harus pulang sekarang. Terlebih Emma tinggal denganku. Kau tahu sendiri bagaimana mulut cerewetnya itu, kan? Sudah pasti dia akan banyak mengadu kepada papa. Jadi, kita bisa bertemu lagi setelah aku pulang dari urusan keluarga."


"Yah ... padahal aku sangat ingin denganmu malam ini, Sayang." Raut wajah Alice terlihat cemberut.


"Hei, tenanglah. Kita bisa memiliki banyak waktu untuk bisa bersama. Apalagi kau sekretaris ku. Ya sudah ayo kita pulang. Aku akan mengantarkan mu pulang."


"Baiklah, Sayang. Ayo!" Alice memilih untuk pasrah. Namun, ia sangat semangat ketika Erlan bersikap begitu hangat di hari pertamanya.


Dalam perjalan, Alice terus menempel seperti ada perekat dalam tubuhnya. Rasa bahagianya itu sampai membuat Erlan sedikit tidak nyaman ketika sedang mengemudi, namun pria itu berusaha menjaga perasaan Alice untuk tidak melawannya.


"Sayang, ngomong-ngomong bagaimana kalau kita pergi liburan? Apalagi cuti panjang saat tahun baru sudah dekat, jadi kita bisa mengatur waktu untuk pergi berlibur, kan?"


"Um ... aku belum bisa memutuskannya dulu, Alice. Terlebih aku baru saja menikah, dan sudah pasti Papa Agra akan terus mengatur pernikahanku ini. Lain waktu saja, ya?" tolak Erlan dengan baik-baik.


"Itu artinya ... kau dan Yoona akan pergi honeymoon? Benarkan? Sayang, bisakah kau jujur padaku? Apakah kalian sudah tidur bersama?"


Pertanyaan tersebut tiba-tiba membuat Erlan terdiam sampai ia menghentikan mobilnya dengan cepat. Menatap wajah Alice dengan tatapan yang tajam.


"Kau marah?" Alice bisa merasakannya.


"Sedikit, tapi aku tidak marah melainkan sedikit kesal denganmu, Alice. Kita baru meresmikan pernikahan ini beberapa menit, bahkan belum genap sehari. Kau sampai bertanya hal pribadiku. Jujur aku tidak suka itu," tegas Erlan.


"Meskipun begitu, aku juga berhak untuk tahu tentang hidupmu, kan? Sehari atau setahun, kita juga akan tetap menjadi kekasih. Pertanyaan seperti itu akan semakin sering aku tanyakan nantinya, tolong berhentilah untuk bersikap egois. Lagi pula aku hanya tahu saja." Alice segera membantah tanpa ada rasa takut. Meskipun sebelum memiliki hubungan, ia terlalu takut akan itu.


"Baiklah, aku mengalah, kau puas?"


"Aku belum puas sebelum kau mengakuinya padaku, Erlan. Katakan saja yang sebenarnya."


"Belum. Aku sama sekali belum menyentuh istriku. Kami tidur terpisah," sahut Erlan dengan sekadarnya sembari ia kembali melanjutkan mengemudi.


"Baguslah jika kau belum menyentuh wanita itu, Erlan."


"Tentu saja." Erlan berusaha mengalihkan pandangannya. Ia sampai memilih menaikkan kecepatan karena tidak suka hal-hal pribadi terus diperbincangkan.


"Maafkan aku, Alice. Namun tanpa kau ketahui, bahwa Yoona terlalu membuatku lemah saat di dekatnya. Entah mengapa, aku tidak tahu. Tetapi yang pasti, aku menyukai saat kebersamaan itu. Walaupun tidak tahu perasaan apa yang sedang aku rasakan sekarang dengannya," batin Erlan.