
.
.
Setelah Edgar selesai mandi, mereka makan sebentar dan ekspresi wajah merona dan senyam senyum itu tidak bisa lepas dari wajah Edgar.
"Sayang, hari ini aku akan mengirimkan orang ku untuk menjemput mu sore hari, bersiap-siap lah nanti, aku memiliki sesuatu yang baik yang ingin aku berikan untuk mu," seru Edgar sekarang ini sudah berada di depan pintu mansion.
Aluna mengantarkan suaminya ke depan dan Edgar belum juga melepaskan pelukan mereka.
"Hal baik apa? kenapa harus sore hari? tidak sekarang?" seru Aluna lagi dengan rasa penasaran yang tinggi.
Ini adalah pertama kalinya Aluna merasa suaminya menyembunyikan sesuatu yang aneh darinya.
"Sssttt ... istriku yang cerewet ini bahkan tidak bisa menahan rasa penasaran nya, nanti saja ... yang jelas ikuti saja apa yang dikatakan suami mu yang paling tampan se-dunia ini ..." balas Edgar langsung melonggarkan pelukannya sebentar dan mengecup bibir istrinya berkali-kali.
"Cup! Cup! Cup!"
"Sayang, aku pergi dulu ya ..." seru Edgar masih dengan senyuman merekah dan bersemangat tentunya.
.
.
Setelah beberapa saat ...
Waktu sudah berlalu begitu cepat, Aluna masih saja bertanya-tanya dalam dirinya sendiri.
Rasa penasaran nya membuat nya termenung seharian, hamil mudanya ini juga membuat nya sedikit malas menggerakkan badan dan lebih suka berbaring dan tidur menunggu suaminya pulang.
"Sejak tadi sikap suamiku aneh sekali, kenapa dia senyam senyum dan menatap ku seperti itu?"
"Apakah ada hal nakal yang ada di pikirannya itu? ah pasti itulah alasannya!"
Seru Aluna sedang berada di depan cermin.
Dia baru saja membersihkan dirinya dan menggantikan pakaiannya, dan berbicara sendirian.
Sejak tadi pagi, sejak Assiten suaminya itu datang, Edgar tiba-tiba saja bersikap sedikit aneh.
Edgar memang akan selalu tersenyum nakal dan menatap nya dengan intens, akan tetapi kali ini sangat berbeda, seolah-olah ada hal yang disembunyikan oleh Edgar.
"Tring ... Tring ... Tring!"
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dimana itu adalah dari suaminya.
"Halo?"
Sahut Aluna melangkahkan kakinya dan duduk di tepian ranjang.
"Sayang, turunlah sekarang, aku sudah mengirimkan orang ku untuk menjemput mu ..." seru Edgar meminta Aluna untuk segera turun.
"Baiklah ... aku segera turun."
Aluna membalas ucapan suaminya dimana Aluna yang sudah berdandan simple dan sangat cantik itu segera menuju lantai bawah.
Dan benar saja ada mobil putih disana, dengan hiasan bunga yang sangat indah.
Bahkan di sana, banyak pelayan menundukkan kepalanya menyambut Aluna bak putri raja.
'Astaga ... apa ini? apa yang dipikirkan suami ku? aku kan sudah bilang aku tidak suka jika di hormat oleh orang banyak seperti ini?' Benak Aluna hanya bisa tersenyum kaku berjalan dengan sangat sopan melewati para pelayan itu.
"Nyonya Aluna silahkan masuk, Tuan muda Edgar juga meminta anda untuk mengenakan penutup mata ini ..." seru pelayan yang sudah berada disana dengan sangat sopan memberikan penutup mata itu kepadanya.
Aluna semakin bingung, dia takut mengenakan penutup kepala tapi dia yakin dan percaya dengan suaminya jadi untuk sekarang dia akan menurut dan memakai penutup mata itu.
Saat itu Aluna sudah berada di dalam mobil, dengan mata tertutup dia tidak tahu kemana mobil ini melaju.
"Nyonya sudah sampai, silahkan ikuti kami ..." seru beberapa pelayan wanita memegang tangan Aluna dan menuntun Aluna masuk ke dalam sebuah gedung dan memasuki lift.
"Drap ... Drap ... Drap!"
Langkah kaki mereka akhirnya berhenti, lalu saat itu pelayan itu meminta ijin untuk membuka tapi penutup mata Aluna.
"Srak!"
Mata Aluna Melebar, jantung nya berdegup sangat kencang dan air matanya melebar.
Bagaimana tidak, sekarang ini Aluna berada di atas gedung hotel saat pertama kali ia melihat suaminya.
Di atas gedung itu sudah dihiasi sedemikian rupa dengan bunga mawar putih dan bunga Lily of the valley.
Di sana background nya adalah matahari keemasan yang megah dan indah, lampu-lampu indah mewarnai dan terlibat seperti bintang.
Dan yang paling membuat hati nya menjadi hangat adalah, seorang lelaki dengan pakaian jas putih mengulurkan tangannya dan tersenyum kearahnya.
"Sayang ... ayo ikut aku," bisik lelaki itu meminta Aluna untuk menggenggam tangannya.
"Apa ini Ed?" bisik Aluna masih merasakan haru yang membuat hatinya berdegup kencang.
"Genggam saja tanganku, aku akan membawamu ke kebahagiaan, ini adalah salah satu janji ku kepada diriku sendiri, jika aku akan membuat mu jauh lebih berharga dan dicintai ..." seru Edgar langsung meraih tangan istrinya dan menggenggam nya.
Membawanya melangkah ke tepian rooftop, disana ada bunga yang sangat besar dan sebuah meja kecil panjang seperti yang dilihat oleh Aluna di pernikahan orang-orang.
Saat mereka sudah tiba disana, Edgar mengambil kotak indah itu dan dia segera berlutut di hadapan wanita yang paling ia cintai ini.
"Aluna, wanita yang menjadi cahaya bagiku, wanita yang membuat ku menjadi pribadi yang lebih baik, wanita yang sangat aku cintai, hari ini di bawah langit keemasan, aku ingin kau mau menjadi pendamping hidupku selamanya ..."
"Berikan aku kesempatan untuk menjadi lelaki paling bahagia di dunia, aku tahu sudah terlambat melakukan ini semua, tapi aku belum pernah melamar mu dengan benar dan berlutut di hadapan mu meminta ijin mu ..."
"Jadi, kali ini jawablah aku dengan hati mu,"
Edgar akhirnya menuntaskan janjinya kepada ayah Aluna dan kepada dirinya sendiri.
Dimana dia akan melamar Aluna dengan benar dan menggelar pernikahan secara terbuka dan megah.
Edgar akan memperkenalkan Aluna kepada dunia, jika Aluna adalah wanita yang paling ia cintai.
"Tes!"
Air mata Aluna menetes, dia melihat tangan suaminya dibalut beberapa perban, artinya Edgar bahkan menyusun bunga-bunga ini dengan tangannya sendiri.
Seperti bunga Lily yang mekar setelah salju berkepanjangan, hangat yang memancarkan kebahagiaan, kisah sedih itu akhirnya ditutup dengan genangan air kebahagiaan.
Seperti hadiah yang tidak akan pernah tergantikan, Aluna akhirnya mendapatkan happy ending paling mengharukan yang bisa ia bayangkan.
Aluna menggenggam tangan suaminya dan meminta suaminya untuk berdiri.
"Bagaimana mungkin aku bisa menolak, jika kau memberikan aku kebahagiaan lebih dari yang aku bayangkan ..."
"Aku mau dan aku juga mencintai mu," seru Aluna memeluk suaminya itu erat sekali.
Dia menangis karena bahagia, dia menangis karena tidak menyangka suaminya masih memikirkan tentang hal seperti ini.
Walau mereka sudah menikah secara hukum, tentu saja sebagai seorang wanita Aluna ingin dilamar secara resmi dan menggelar pesta pernikahan juga.
Dan suaminya mengerti dan mengabulkan semuanya.
Edgar tersenyum dan melonggarkan pelukannya sebentar, dia memasangkan cincin di jari manis istrinya dan langsung memeluk istrinya erat sekali.
"Ah ... aku senang sekali sayang, seharian aku menyiapkan semua ini sendirian, aku bahkan tidak ingin Dean membantu ku, aku ingin segala sesuatu dibuat oleh tanganku, karena kau memang seberharga itu untukku ..."
"Aku sangat sangat sangat mencintai mu ..." bisik Edgar memeluk istrinya erat sekali.
Di bawah matahari keemasan yang indah, yang sebentar lagi akan digantikan oleh bintang yang gemerlapan.
Kali ini kebahagiaan itu benar-benar telah sempurna.
Setelah pesta pernikahan itu, Edgar dan Aluna akan menunggu kelahiran anak mereka, yang akan melengkapi kebahagiaan keduanya.
.
.
.
Tamat.