
Episode 160 : Kau milikku!
.
.
Saat itu, sentuhan yang sangat dirindukan, nafas yang berat dan hangat, ciuman yang menyentuh setiap sudut tubuh, dan tatapan mata yang saling menginginkan.
Ada perasaan aneh melakukan hal seperti ini di tempat yang tidak bisa di duga.
Aluna memang tidak nyaman tapi dia selalu saja merasa damai jika suaminya memeluknya.
Seperti pohon yang menaungi, Aluna selalu bisa mengandalkan Edgar dalam hal apapun.
"Aku mencintaimu!"
"Aku sangat mencintaimu!"
"Aku menginginkanmu!"
"Hanya kau satu-satunya di hidupku,"
Edgar membisik kata-kata cinta di saat dia mulai merengkuh tubuh istrinya erat-erat, dia berlaku sangat lembut sampai sampai ia tidak mengerti mengapa dia bisa selembut ini
Dia mengecup dan meninggalkan banyak sekali bekas.
Setiap ia berhasil meninggalkan bekas maka dia akan tersenyum dan membisik lagi.
"Kau milikku! aku akan menandai mu setiap hari!" bisik nya lagi dengan terus melakukan penyatuan itu.
Tanpa di duga, olahraga panas di siang hari yang tidak bisa lagi ditunda akhirnya berakhir.
Aluna dengan hati-hati membersihkan dirinya di salah satu ruangan rahasia di ruangan kerja suaminya.
Dia juga mengenakan pakaian suaminya yang tersedia di kantor itu, karena tadi bahunya sudah kusut.
Matanya menatap dengan tajam ke arah suaminya yang dengan senyuman lebar sudah duduk di kursi sofa.
"Ah ... indah nya hari ini, aku merasa sangat bahagia!" serunya tersenyum puas dan kemudian menyadari jika istrinya sudah selesai dengan kegiatannya dan sudah berjalan ke arahnya.
"Sayang, kau terlihat sangat cantik mengenakan pakaian ku, kemeja ku terlihat jumbo di tubuh mu," seru Edgar langsung berdiri dan langsung melangkah ke arah istrinya.
"Aku sudah bilang tidak boleh melakukan itu, apalagi ini di perusahaan mu, bagaimana jika karyawan mu tahu?" Aluna langsung merepet dan menunjukkan kekesalannya sembari dia melangkah dengan tangannya di genggam oleh suaminya.
"Sayang ... itu semua karena mu, kau datang dan menggoda ku, jika aku menahan nya lebih lama lagi maka mungkin aku akan menderita!"
"Aku melakukan nya dengan sangat lembut, kau tadi menikmati nya kan? kau bahkan mengatakan jika kau adalah milikku ..." goda Edgar menarik tangan Aluna dan membuat nya duduk di pangkuan nya lagi.
"Sejak kapan aku mengatakan itu? kau yang mengatakan hal itu? kenapa jadi aku?" seru Aluna tentu saja tidak terima.
Bagaimana pun, yang mengatakan semua itu suaminya bukan dirinya.
Walau memang dia tanpa sadar juga menikmati hal yang tadi.
"Sayang, jangan kesal lagi ... aku memang tidak bisa menahannya tadi, aku sangat menginginkan mu!"
"Aku lapar, berikan aku makan!"
Edgar langsung menghentikan istrinya yang sedang ngambek itu dan bermanja-manja sembari memeluk istrinya.
"Hmmmm!"
Aluna menghela nafasnya dalam-dalam, tadi suaminya terlihat sangat buas dengan tindakan dan mata tajamnya.
Tetapi sekarang, suaminya ini terlihat seperti kucing manis yang sangat manja.
"Baiklah, tapi biarkan aku duduk di sofa saja," balas Aluna ingin duduk di sofa saja.
Entah mengapa Edgar sangat suka membuat istrinya ini duduk di pangkuan nya.
"Tidak mau, begini saja! aku suka memeluk mu!" Edgar malah memeluk istrinya ini lebih erat lagi dan tidak mau melepaskan nya.
Edgar merasa, istrinya sudah ada di dekatnya jadi dia bisa sepuasnya berdekatan dan bersentuhan dengannya setelah satu Minggu penuh menahan diri sendiri.
.
.
.