
Episode 135 : Kesabaran setipis tisu.
.
.
"CUCU?!"
Camelia sangat syok, dimana kedatangannya ke kediaman putranya benar-benar mendapatkan kabar yang membuat jantungnya berpacu dengan sangat cepat.
Edgar langsung berlalu menjauh, tetapi dia tidak benar-benar pergi, dia menunggu di ruang tamu yang dimana jaraknya paling dekat dengan ruang makan.
"Hmmm!"
Edgar duduk dengan tegap sembari hendak melipat tangan.
"Aduh tangan ku ..." keluh Edgar saat menyadari tangannya terasa sangat pegal.
Saat ia melihat tangannya, bisa terlihat dengan jelas bekas salep yang diolesi oleh istrinya tadi pagi.
Senyuman lembut dan hati yang berdebar kencang, "Istriku ini memang benar-benar selalu saja bisa membuat ku berdebar-debar seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta setiap hari kepada mu?!" gerutu Edgar tiba-tiba saja moodnya berubah menjadi baik dan hangat ketika menyadari tadi pagi seperti nya istrinya mengolesi salep di tangan nya.
.
.
Sedangkan di ruang makan, dimana Aluna sudah duduk dengan sangat hormat dan sedikit gugup.
'Ya, mau bagaimana pun, Edgar adalah suamiku, jadi sebagai istri sudah sepantasnya aku juga mengambil hati keluarga suamiku, hmmm!'
Aluna berbicara sendiri dalam hatinya, dia merasa walau pernikahan nya dengan Edgar sejak awal adalah pemaksaan, akan tetapi dengan berjalannya waktu, Aluna merasa jika pernikahan nya tidak terlalu buruk dan pantas untuk dipertahankan.
Aluna juga selalu menjaga ajaran Ayahnya, dimana pernikahan itu bukanlah permainan yang bisa asal berpisah jika sudah tidak cocok, pernikahan itu sakral karena tidak hanya disatukan oleh manusia tetapi juga disatukan oleh Tuhan.
Jadi, jika dipikirkan lagi, karena itulah Ayah Aluna tidak mau menikah lagi walau istrinya telah tiada dalam waktu yang cukup lama, karena baginya menikah itu hanya untuk sekali seumur hidup.
.
.
Camelia yang tadi memegangi kepalanya karena merasa pusing dengan banyaknya kejutan yang ia baru tahu membuat nya terdiam sebentar.
Camelia harus bisa menarik nafas dengan tenang terlebih dahulu agar dia tahu apa yang akan ia katakan kepada Aluna.
"I ... Ibu, mi ... minum dulu, sepertinya anda kelelahan dan ..." Aluna menyodorkan air minum di gelas dengan sigap.
Walau gelas yang ia pegang bergetar karena kedua pergelangan tangannya masih perih dan tidak bisa memegang apapun dengan seimbang.
Mata Camelia melebar saat itu, yang ia bayangkan saat melihat Aluna hanyalah Fiona, dimana Camelia merasa di dalam minuman itu pasti ada racun.
"Tidak perlu! saya tidak ingin meminum air yang kau berikan! bagaimana jika ada racun?!" seru Camelia memperlihatkan wajah sedikit panik dan pucat.
Keberadaan Fiona yang telah menjebak mereka semua dimana bekerja sama dengan putra angkatnya sekitar 3 tahun lalu masih memberikan rasa trauma baginya.
"Ra ... racun?" seru Aluna tidak bisa menolak permintaan Camelia, dan segera meletakkan air minum itu di atas meja.
Aluna menjadi semakin tegang, tetapi dia sama sekali tidak sakit hati atas perkataan Camelia barusan, karena memang sejatinya keberadaan Aluna di sisi Edgar saja sejak awal karena kemiripannya dengan Fiona.
Pastilah kesan yang ditinggalkan oleh Fiona kepada keluarga Edgar terkhusus Ibu Edgar ini melekat juga di diri Aluna karena kemiripan itu.
"Haaaah!"
Camelia segera menghela nafasnya dalam-dalam.
"Kenapa aku jadi merasa bersalah karena menolak air minum darinya? tidak boleh ... wanita ini harus diselidiki oleh ku terlebih dahulu, tidak akan ku biarkan malapetaka menghancurkan keluarga ku lagi ..."
Benak Camelia dimana dia segera menanyai Aluna.
.
.
Aluna yang tadi menundukkan kepala segera terperanjat dan duduk dengan benar dan tegak kali ini.
"Tidak Ibu, awalnya aku lah yang dijebak oleh Edgar, Saat itu hidupku benar-benar sulit, aku memiliki banyak sekali pekerjaan, dan dalam proses itu tiba-tiba saja aku bertemu dengan Edgar, sejak saat itu sepertinya kemiripan ku dengan wanita itu membuat nya menjebak ku ..."
"Awalnya aku tidak mau, tapi Ayahku koma dan butuh uang untuk biaya pengobatan hingga kini, sepertinya Edgar memata-matai ku jadi dia menawarkan pernikahan rahasia untukku, degan imbalan uang untuk pengobatan Ayah ..."
"Aku sama sekali tidak memiliki pilihan, dia meminta ku untuk menjadi pengganti, awalnya aku memang tidak suka dan selalu menangis, juga merasa menderita."
"Tapi semakin lama, aku melihat Edgar adalah lelaki yang sangat baik dan bertanggung jawab, dia melindungi ku, dan pada akhirnya aku pun merasa pernikahan ini layak untuk dipertahankan ..."
Aluna menjawab pertanyaan Camelia dengan cepat dan singkat.
Camelia yang mendengar cerita menyedihkan Aluna benar-benar syok.
Apalagi tingkah putranya yang benar-benar diluar nalar.
Mata Camelia masih melebar dan seolah tidak menyangka, cerita pernikahan mereka terjadi begitu saja.
"Jadi, jangan-jangan, bekas memar di pergelangan tangannya dan merah di pipinya juga karena ulah putraku? astaga ... saat dia hamil?"
"AWAS SAJA KAU EDGAR!"
Camelia jadi berpikiran yang tidak-tidak sekarang.
"Jadi, apakah luka di pergelangan tangan mu dan merah di pipi mu diperbuat oleh Edgar?" tanya Camelia tetap harus tahu segala sesuatu yang terjadi.
Ketika mendengar itu, Aluna langsung menunduk, dia selalu ketakutan berlebihan jika mengingat hari itu.
"Tes!"
Aluna menunjukkan gelagat gugup dan ketakutan berlebihan, air matanya mengalir begitu saja.
"Bukan suamiku yang melakukan nya, malahan dia yang menyelematkan aku dengan mempertaruhkan nyawa nya ..."
"Sebenarnya kemarin, ada beberapa bandit yang menculik ku dan hendak me ... melakukan itu ..." Aluna semakin terlihat takut, tangannya gemetaran dan dia sudah tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
"ITU APA? MAKSUD MU ITU? SAAT KAU SEDANG HAMIL MUDA?"
Tempramen Camelia yang hanya setipis tisu itu sudah habis, dia benar-benar tidak mengerti mengapa manusia bejat bisa berkeliaran di muka bumi.
"Hmmmm ... untung saja suamiku datang dan ... itu," Aluna gagap menceritakan hal itu.
"Sudah cukup! KATAKAN SIAPA MEREKA! TIDAK BOLEH ADA SATU NAMA PUN YANG TERTINGGAL!" geram Camelia menatap dengan tajam seolah ada laser keluar dari matanya.
Wanita yang tadi sangat anggun itu berubah menjadi sangat tempramental hanya karena emosi.
Ternyata emosi Edgar selama ini yang selama meledak-ledak ternyata turun dari Ibunya.
"Hmmm?"
Aluna jadi bingung, dia melihat kemarahan membara dan tangan mengepal yang terlihat sangat mirip dengan suaminya.
"Ibu? apa yang Ibu lakukan pada istriku? dia sampai menangis begitu, aku kan sudah bilang kalau dia hamil cucu mu," seru Edgar langsung dengan cepat berdiri di hadapan Aluna yang duduk menangis itu.
Camelia yang masih emosi langsung meneguk air minum yang tadi diletakkan oleh Aluna di atas meja.
"KALAU DIA HAMIL BUKANKAH SEHARUNYA KAU LEBIH HATI-HATI!"
"Haaahhh!"
"Aku akan mencari semua kebenaran informasi yang kau beritahu wanita muda, sebelum itu jangan berani-beraninya keluar dari rumah ini." seru Camelia pada Aluna dan akan segera memanggil Dean untuk memberikan semua bukti atas ucapan Aluna tadi.
Tentu saja Camelia harus mendapatkan buktinya dulu.
.
.
.