
Episode 108 : Keadaan orangtua Edgar.
.
.
.
"Nyam ... Nyam ... Nyam!"
Edgar nampaknya menikmati makanannya.
'Sudah ku duga makanan ini enak pasti karena disuapi oleh istriku, mulai hari ini aku akan sering-sering minta disuapi,'
Edgar sudah menyusun berbagai rencana untuk bersenang-senang dengan istrinya.
Berbeda dengan Edgar yang senang, Aluna malah kesal karena makana kesukaan nya dihabiskan oleh Edgar tepat di depan matanya.
Saat itu restoran juga sudah mulai ramai, Edgar tidak ingin mereka jadi pusat perhatian dan nanti akan menimbulkan masalah jadi mereka segera pergi ke taman yang di sarankan oleh Dean.
Tetapi saat mereka sampai disana, banyak sekali pasangan yang bercumbu sembarangan di tempat gelap.
Hal itu membuat Edgar tentu saja semakin overprotektif terhadap istrinya, dia tidak ingin oranglain melihat istrinya seperti dia bisa melihat gadis-gadis yang bercumbu dengan pacarnya yang ada di taman itu.
"Dean, apakah kau sengaja melakukan ini?" geram Edgar menggenggam tangan istrinya lagi dan membawanya pulang saja.
🦋
🦋
🦋
Di mobil,
"Sayang, apakah kau masih kesal?" Edgar sedang mengemudi dan melihat istrinya melipat tangan menatap kesal ke arah yang berlawanan darinya.
"Hmmm!" Aluna tidak menjawab dan hanya mengucapkan kata hmmm.
"Sayang, maafkan aku, tadi kau menyuapi aku makanya makanan nya jadi sangat enak, aku juga sudah meminta pelayan untuk membungkus menu tadi di bawa ke mansion, jadi kau bisa makan sepuas mu," seru Edgar sudah mengantisipasi semua ini.
Mata Aluna segera melebar dan dia menoleh ke arah suaminya dengan sabar bersemangat.
"Benarkah? tadi aku sudah kesal sekali saat kau menghabiskan makanan ku, padahal aku sangat menginginkan nya, tapi sekarang sudah tidak apa-apa karena kau membungkus nya untukku, aku bisa memakan nya di rumah sepuasnya!" seru Aluna bersemangat sekali.
Hal itu membuat Edgar tersenyum dan senang juga.
"Aku bahkan bisa membeli restoran nya untuk mu, katakan saja apa yang kau suka maka aku akan berikan semuanya," seru Edgar dengan sangat bangga.
Hal itu hanya membuat Aluna geleng-geleng kepala saja, dia tahu jika suaminya adalah orang yang sangat berlebihan seperti ini.
"Aku tidak ingin hal berlebihan seperti itu, oh ya ... sebelum pulang apakah kita bisa ke rumah sakit sebentar, hari ini aku belum sempat kesana, aku ingin melihat keadaan Ayah ..." Aluna meminta kepada suaminya agar mereka ke rumah sakit dulu lalu setelah itu pulang.
"Tentu saja boleh dong sayang." balas Edgar tiba-tiba suasana hatinya menjadi sangat baik karena tadi disuapi oleh istrinya ini.
.
.
Di saat yang bersamaan,
Di kediaman orangtua Edgar Brown,
"Bagaimana dengan Edgar? apakah dia sudah mau pulang?" Edward Brown, Ayah Edgar yang kondisinya sudah semakin lemah berbaring di rumah sakit karena tadi pagi baru saja terjatuh sendiri dari kursi rodanya.
Ya, Edward Brown sudah tidak bisa menggunakan kakinya dengan normal, dia mengalami kelumpuhan di kaki sejak meminum racun berbahaya yang dahulu diberikan oleh Fiona.
Urnung saja dia masih bsia selamat dan hanya mengalami lumpuh, tetapi sejak saat itu kesehatan Edward semakin memburuk setiap tahunnya.
Selama ini Edward sudah tidak terlalu aktif mengurus perusahaan, karena tangannya juga sudah sering mengalami kesemutan dan mati rasa.
Camelia juga sudah semakin tua jadi sudah tidak terlalu bisa membantu suaminya lagi dalam mengurus perusahaan.
Jadi Edgar sudah harus pulang dalam waktu dekat.
Camelia segera menggenggam tangan suaminya dan menatap dengan penuh kasih.
"Dia belum mau pulang Sayang, sepertinya dia masih menyalahkan dirinya sampai sekarang atas tragedi itu, penyakit paranoid dan syndrome nya juga sama sekali belum sembuh, jika dia pulang dia akan semakin mengingat kejadian itu dan akan terpuruk lagi,"
"Aku juga bingung, kita butuh dia disini tetapi jika dia kembali ke sini maka kenangan buruk nya akan kembali dalam sekejap,"
"Kenapa putra kita harus bertemu gadis seperti Fiona? kenapa juga kita dulu harus merawat dan mengangkat Elga sebagai anak angkat? kenapa?"
Camelia masih mengingat semuanya.
Elga adalah anak laki-laki yang diadopsi oleh mereka karena persahabatan antara Edward dengan orangtua Elga yang telah tiada.
Entah bagaimana cara Elga memanipulasi Fiona, tetapi Fiona dengan bodohnya mau diperalat oleh lelaki yang hanya 3 tahun lebih tua dari Edgar itu.
"Jangan bahas nama itu lagi! dia menghancurkan keluarga kita, membuat Ayahku sampai meregang nyawa, mungkin sejak awal ini semua adalah salahku karena menerima nya, aku yang membuat mu yakin untuk mengadopsi nya, dengan harapan dia bisa menjadi kakak laki-laki yang baik untuk Edgar, tetapi nyatanya membuat lubang di hati, sesak sampai Edgar kesepian seperti sekarang,"
"Sebagai Ayah, aku benar-benar gagal, aku gagal!"
Edward menyalahkan dirinya sendiri lagi.
Kejadian saat itu benar-benar memang rangkain dari rangkaian rencana Elga, karena Edward memang merasa bersalah juga karena itu, dia mengijinkan Edgar pergi untuk menenangkan diri dan melupakan kenangan buruk itu sejenak.
Camelia menangis dan langsung memeluk suaminya.
"Sayang jangan begitu, putra kita pasti akan bahagia, pasti!"
Camelia mencoba menenangkan suaminya.
"Sebelum aku mati, aku harus melihat putra ku, perusahaan juga harus diurus oleh nya, katakan pada Edgar, jika dia harus pulang dalam waktu dua minggu, katakan saja yang sebenarnya mengenai keadaan ku yang memburuk ..."
"Mungkin, dia juga harus menghadapi masalah ini secara langsung, kita juga harus segera menikahkan Edgar dengan Clara, hanya Clara yang pantas untuk Edgar!"
"Sebelum aku mati, mereka harus menikah lebih dulu,"
Edward meminta istrinya untuk memberitahu Edgar saja keadaannya yang sudah semakin memburuk.
Memang selama ini, Edward meminta semua orang untuk tidak memberitahu Edgar mengenai kondisi nya yang semakin melemah.
Edward tidak ingin putranya itu semakin menderita, tetapi dalam kasus ini sudah berbeda.
Edward tidak ingin mati sebelum melihat putranya.
Camelia hanya bisa menangis saat itu, dia tersedu-sedu dan memeluk suaminya.
.
.
Di sisi lain,
Aluna sudah selesai mengunjungi Ayahnya, Aluna menemukan Edgar menunggunya di luar ruangan.
Setelah itu mereka kembali pulang ke mansion.
"Hmmm, aku tidak sabar hendak makan lagi, apakah makanan nya sudah sampai?" Aluna hanya bisa membayangkan makanan saja sekarang.
Dia memasuki kamar mereka dan hendak membersihkan dirinya sendiri terlebih dahulu.
Tetapi Edgar yang tadi mengumpulkan banyak perasaan di hatinya segera menarik tangan Aluna dan membuatnya duduk di ranjang.
"Ada apa? kenapa tiba-tiba? bukankah katamu tangan mu terluka?" tanya Aluna bingung dengan tindakan suaminya yang tiba-tiba ini.
Edgar tersenyum menyeringai, mata tajamnya yang berwarna biru itu menatap istrinya dengan sangat dalam.
"Sebelum kau makan, aku akan memakan mu lebih dulu sayang!" bisik Edgar melepaskan topinya.
"Oh ya, aku kan sudah mengatakan ini, jika aku adalah lelaki yang memiliki perasaan yang sangat kuat, aku sangat cemburu tadi melihat lelaki cecunguk itu hendak menyentuh tangan mu, aku juga cemburu saat melihat banyak lelaki menoleh hanya untuk melihat mu,"
"Aku cemburu dan kau harus menenangkan aku," bisik Edgar benar-benar sangat nakal.
Hal itu tentu saja membuat Aluna panik dan geleng-geleng kepala hendak melarikan diri.
Dia mundur ke belakang tetapi pergelangan kakinya segera di genggam oleh Edgar.
"Mau lari kemana sayang? jangan lari kemanapun malam ini, karena aku benar-benar hampir gila karena menginginkan mu!" bisik Edgar melepaskan pakaiannya hanya dalam satu hentakan.
.
.
.
.
Author : Kejutan, aku upload pagi-pagi hehe 😍
Semoga kalian suka yaa, btw menurut kalian gimana perkembangan ceritanya, apakah pas?
Tidak terlalu terburu-buru kan?
Sebentar lagi akan masuk konflik yang sebenarnya, siap-siap ya guys..
Jangan lupa di like dan komen ya, agar aku semakin semakin menulis nya. 😘