
Episode 105 : Makan malam di restoran kesukaan.
.
.
Setelah Aluna memakai jaket besar milik Edgar, mereka berdua pergi ke restoran legendaris yang merupakan tempat favorit Aluna.
Aluna sedikit bingung saat melihat suaminya mengemudi sendiri dan tidak menggunakan Bapak supir.
Tetapi Aluna sekarang sudah benar-benar lapar sekali, jadi lebih baik dia makan saja dulu lalu nanti bisa berpikir yang lain.
"Loh? ini kan jalan ke arah restoran legendaris super enak dan rasanya bisa dibawa sampai mimpi?"
Aluna melebarkan matanya dan bahkan nama restoran itu saja begitu panjang ia sebutkan.
"Haha, kau harus nya bersyukur memiliki suami super tampan, super perhatian dan super kaya seperti ku, aku memang sengaja membawa mu ke restoran itu! ha ha ha!"
Edgar mengangkat dagunya lalu wajah super angkuh nya itu terlihat sangat jelas.
Sungguh semakin Aluna mengenal Edgar semakin Aluna menyadari jika kepercayaan diri suaminya itu mungkin adalah yang nomor satu di dunia.
.
.
Hanya dalam beberapa saat mereka sudah sampai di restoran, Edgar melihat bagaimana restoran itu sangat sederhana, tempat seperti ini tidak akan pernah dikunjungi oleh Edgar jika saja bukan karena istrinya.
"Tempat apa ini? kenapa kecil sekali? aku tidak tahu jika tempat nya se kecil ini?" bisik Edgar pada isterinya yang sudah bersemangat sekali hendak memasuki restoran dan makan makanan yang sudah sangat ia rindukan.
"Haaah, Tuan Edgar, ummm maksud ku Edgar, bagi kaum menengah ke bawah restoran ini sudah cukup besar, sudah lah tenang saja, aku jamin rasa makanannya akan sangat luar biasa,"
"Jika kamu takut dan tidak nyaman berada di tempat seperti ini, tunggu aku di mobil saja, aku akan makan dengan cepat dan membawakannya ke dalam mobil,"
Seru Aluna langsung melangkah lebih dulu memasuki restoran, Edgar segera mengejar istrinya dan menarik tangannya agar mereka saling menggenggam satu sama lain.
"Ka ... kata siapa aku tidak nyaman, selama kau ada di situ maka tempat itu akan menjadi tempat ternyaman untukku!" seru Edgar langsung mengangkat dagunya seperti biasa dan menunjukkan keangkuhan yang luar biasa.
Aluna sampai geleng-geleng sejenak, bagaimana suaminya juga ternyata adalah seorang raja gombal.
"Ctak!"
Saat restoran yang pintunya terbuat dari kaca itu terbuka, Aluna sudah langsung bisa mencium aroma makanan yang sangat ia suka.
"Wangi ayam goreng, cumi bakar, dan kepiting yang di bumbui, aku mengenal wanginya, ah ... perut ku semakin lapar!" Aluna tersenyum begitu lebar, dia menelan salivanya kencang sekali karena sudah bisa membayangkan nikmatnya makanan yang akan ia makan nanti.
Berbeda dengan Edgar yang langsung merasa mual dan menutup hidungnya saat pintu di buka, wangi makanan yang tersebar di restoran membuat Edgar mual.
Bagaimanapun, Edgar terbiasa dilayani oleh chef profesional dan makan di restoran paling elit, dia belum pernah memasuki restoran sederhana dimana jarak antara bangku dan meja para customer bagi Edgar terlalu dekat.
'Bau apa ini? aku merasa mual, siapa chef yang bekerja di restoran ini, akan ku tuntut dia karena hendak meracuni aku dengan aroma-aroma ini!'
Edgar menahan dirinya untuk tidak mengomel, dia tidak mau terlihat lemah di sisi Aluna, jadi walau dia sudah merasa mual tetap saja dia menahannya.
Setelah mencari-cari tempat duduk yang lega, Aluna mengajak Edgar untuk duduk di sudut, disana ada jendela kaca ke luar dimana pemandangan nya bisa melihat pusat kota yang sibuk bahkan di malam hari.
"Kita duduk di sini saja," seru Aluna langsung duduk sembari tersenyum riang.
"Di ... disini? apakah tempat duduk nya sudah di sterilisasi? aku bahkan bisa melihat bekas saus di meja itu, sepertinya kebersihan restoran ini patut di pertanyakan sayang, bagaimana jika kau sakit saat memakan nya, aku bukannya takut dan tidak nyaman, aku hanya ingin yang terbaik untuk mu saja ..."
Edgar berbicara sembari menelan salivanya, matanya menajam saat melihat tempat duduk biasa yang seumur hidupnya belum pernah ia duduki sebelumnya.
Aluna sepertinya menyadari jika gaya hidupnya memang jauh berbeda dari Edgar, untuk orang-orang menengah ke bawah restoran ini sudah sangat bagus, tetapi bagi orang berkuasa seperti Edgar, restoran ini sudah seperti gubuk kotor yang mencemari matanya.
Aluna tersenyum dan dia menatap suaminya, "Dulu saat aku ulang tahun, tempat ini adalah tempat impian ku, aku ingin makan banyak tanpa berpikir, Ayahku akan membawa ku ke sini untuk makan enak, walau tempat nya sangat jauh dari kata mewah tetapi bagiku tempat ini hangat dan penuh kenangan,"
Aluna tersenyum saat mengatakan itu, membuat Edgar terdiam dan segera melipat tangannya di dada.
Edgar langsung di duduk berdempetan dengan Aluna, dia tidak ingin duduk jauh-jauh dari istrinya, setidaknya dia bisa menjauhkan istrinya dari mata-mata lelaki yang ada di restoran jika dia duduk di sisinya.
"Aku tahu, makanya aku mengajak mu ke tempat ini, ayo kita pesan makanan saja!"
Seru Edgar kelihatan waspada sekali, bukan saja kepada semua lelaki yang mencoba-coba memandangi istrinya, tetapi juga kuman-kuman yang ada di restoran itu.
'AKU HARUS MELINDUNGI ISTRIKU!'
Edgar berseru di dalam dirinya, dia akan melindungi istrinya dari semua gangguan itu.
.
.
Aluna segera memencet tombol di meja nya dimana pelayan restoran segera datang, Aluna memesan makanan kesukaan nya, ayam goreng, cumi bakar, dan kepiting yang di bumbui.
Pelayan restoran itu hendak menawari lelaki yang ada di sisi Aluna, tetapi pelayan itu sudah langsung merinding ketakutan saat melihat tatapan tajam nya.
"Ba ... baik Nona, pesanan nya akan tiba dalam beberapa menit," seru pelayan itu langsung pergi begitu saja.
Aluna tersenyum lebar, tidak pernah ia bayangkan jika dia akan pergi ke restoran ini lagi.
🦋
🦋
Di saat yang bersamaan, Deffan sebenarnya sudah ada di restoran itu sejak tadi, Deffan duduk di sudut ruangan yang berlawanan dengan Aluna.
"A ... Aluna?" Suaranya bergetar dan dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melangkah mendekat ke arah Aluna yang sekarang ini sedang duduk bersama lelaki misterius.
Lelaki itu mengenakan topi dan masker, tetapi dari postur tubuhnya, lelaki itu nampak tidak asing bagi Deffan.
"Aluna, akhirnya aku bertemu dengan mu lagi, maafkan aku Aluna, aku bersalah ... apakah kau tahu bagaimana aku sangat merindukan mu?"
Deffan sampai menitikkan air matanya.
sungguh perselingkuhan nya dengan sahabat nya itu disesali oleh Deffan hingga sekarang, karena perselingkuhan nya, dia harus kehilangan wanita yang sangat ia cintai.
Mata Aluna melebar saat melihat Deffan berada di depan meja makan mereka, tangannya tiba-tiba bergetar.
Sedangkan Edgar yang mendengar lelaki lain mengatakan kata rindu pada istrinya, kemarahan nya memuncak dan dia yang sedang duduk itu seperti diliputi oleh api amarah yang akan segera menghabisi Deffan jika Deffan mengatakan hal aneh lagi.
"Aluna ..."
Deffan yang tidak sabaran hendak meraih tangan Aluna, tetapi tangan itu segera di tahan oleh Edgar.
Edgar mencengkeram pergelangan tangan Deffan agar dia tidak akan menyentuh istrinya.
"Kau mau mati rupanya? berani hendak menyentuh istriku!" geram Edgar mencengkeram tangan Deffan dengan sangat kuat sampai Deffan merasakan sakit luar biasa.
Deffan yang mendengar kata istri syok bukan main, tetapi bukan hanya Deffan yang syok, Aluna juga syok, bagaimana Edgar terlihat tidak ingin menyembunyikan identitasnya sebagai istrinya lagi.
.
.
.
.
Author : Menurut kalian apakah akan ada pertengkaran? apakah Aluna masih bisa memakan, ayam goreng, cumi bakar dan kepiting yang dibumbui?
Kasih pendapat di bawah ya..
Ditunggu kelanjutannya besok, lope you sekebon jeruk semuanya 🍊🤍