
Episode 107 : Makanan yang sangat enak.
.
.
'Awas kau lelaki cecunguk, berani sekali tadi hendak menyentuh istriku!'
'Apakah aku terlalu menahan diri tadi? harusnya aku tinju wajahnya itu sampai dia pingsan!'
'Ah tidak ... tidak, aku sudah melakukan hal yang benar, jika aku kehilangan kendali diriku maka kami akan menjadi pusat perhatian, apalagi istriku kelihatan nya sangat menginginkan makanan ini, tahan Edgar, tahanlah sebentar lagi!'
'Demi istri kau harus bisa menahan amarah mu!'
Edgar masih membara, ini adalah kali pertama dia melepaskan seseorang yang membuat ia marah demi Aluna.
Dengan tangan dilipat di depan dadanya, mata yang sangat tajam dan nafas yang berat.
Sampai-sampai orang-orang yang duduk di depan meja Edgar harus pergi dengan cepat dari restoran itu karena merasa mereka sedang ditatap dengan sinis oleh Edgar.
Saat itu, Aluna tetap menyantap makanan yang ada di hadapannya, dia sangat lapar juga seperti ucapan suaminya, dia sangat menginginkan makanan ini entah mengapa.
"Glek!"
Aluna menelan salivanya, sebenarnya dia ingin menghabiskan makanannya tetapi dia melirik ke arah suaminya yang tengah ngambek melipat tangan, dan melihat telapak tangan suaminya yang diperban.
Saat menyadari itu, Aluna memutuskan untuk berbagi sedikit makanannya, lalu nanti dia akan memasak di rumah untuk suaminya.
'Aku akan membagi sedikit makanan ku, lalu nanti di rumah aku akan memasak makanan yang banyak seperti yang dikatakan oleh nya, ho ho, rencana bagus!'
Aluna segera mengambil makanan di sendok dan mengulurkan tangannya ke hadapan mulut Edgar.
"Makan lah sedikit, aku jamin makanan ini bersih dan tidak memiliki kuman, kau juga belum makan apapun sejak tadi malam kan?"
Dengan mata bulat dan wajah yang memperlihatkan rasa prihatin yang besar, Edgar terkejut sekali mendapatkan perhatian seperti ini.
Mata Edgar melebar lalu ia melihat ke sisinya dimana Aluna menelan salivanya saat melihat makanannya akan melayang ke perut orang lain.
"Ka ... kau mau menyuapi aku?" tanya Edgar memperjelas ucapan Aluna.
Aluna yang mendengar itu segera memfokuskan dirinya dan sekarang mengalihkan pandangannya ke arah mata Edgar bukan ke makanan yang ada di sendok itu.
"Hummm, makanlah, aku memberikan bagian kepiting yang terbaik untuk mu," balas Aluna tersenyum, dia menatap suaminya dengan mata bulat nya yang kelihatan sangat imut.
Edgar segera melihat ke sekeliling lalu dia menjadi gugup entah karena apa.
Edgar menutup mulutnya sejenak dan memejamkan matanya.
Pipinya sudah merah sekali juga daun telinganya.
"Di depan banyak orang seperti ini kau mau menyuapi aku? apakah kau se khawatir itu padaku, apakah ini artinya kau sudah jatuh cinta setengah mati padaku?"
"Ini benar-benar terjadi secara tiba-tiba, setidaknya biarkan aku saja yang mengungkapkan perasaan ku!"
Dia hanya memberikan makanan satu sendok tetapi Edgar mengartikan nya sebagai ungkapan cinta yang sangat dalam.
"Kalau tidak mau makan, aku makan saja ya ... tangan ku juga sudah pegal," balas Aluna hendak menarik tangannya lagi.
Namun ...
"Srak!"
Edgar menahan tangan Aluna dengan menggenggam pergelangan tangannya.
"Berikan padaku," ketus Edgar langsung membuka mulutnya dan melahap makanan yang ada di sendok itu.
Saat makanan kesukaan Aluna mulai kunyah oleh Edgar, mata Edgar melebar dan dia menatap Aluna dengan ekspresi wajah yang terkejut.
"Enak sekali, kenapa rasanya bisa seenak ini? aku baru tahu jika makanan nya enak sekali, wah wah!"
Edgar merasa terkejut sekali, makanan yang diberikan oleh istrinya ini sangat enak dan kaya akan rasa.
"Heh!" Aluna langsung bangga saat dikatakan seperti itu, dia mengangkat dagunya dan tersenyum penuh kebanggaan.
"Tentu saja enak sekali, restoran ini sudah diturunkan dari generasi ke generasi, makanya rasanya original dan sangat enak, aku tahu restoran di kota ini yang menjualkan makanan-makanan yang sangat enak,"
"Jika kau mau aku bisa membawa mu ke semua tempat itu!"
Seru Aluna merasa bangga karena telah menunjukkan Edgar tempat makanan yang sangat enak.
"Baiklah jika kau memaksa, berikan aku makanan lagi, tangan ku sakit." seru Edgar segera melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan istrinya.
Dia menunggu seperti anak anjing lucu untuk segera diberikan makan.
"Ta ... tapi tangan mu kelihatan baik-baik saja dan tadi bisa memegang tangan ku dengan kuat," balas Aluna hendak memberikan sendok sendiri untuk suaminya.
"Tidak mau! jelas-jelas tangan ku di perban, sejak tadi aku hanya menahan rasa sakit saja, agar aku terlihat keren di mata mu!" celetuk Edgar tidak mau menegang sendok dan ingin disuapi saja.
Saat mendengar itu Aluna tersenyum kaku dan menurut saja.
.
.
.
.
Author : Yuk guys jangan lupa dukung author dengan cara like dan komen ya.
Jangan lupa follow Instagram author juga di :
@Anak_Kost_Joy