Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Kebakaran


“-mungkin ... ini jalan yang sulit saat mengetahui dua hati yang harus dipaksakan untuk bersama, tapi itulah konsekuensi yang harus aku terima. Jadi, inilah keputusanku, Pa. Walaupun aku salah sudah meminta untuk berpisah dari Yoona, tapi sekarang tidak. Aku akan memperjuangkan pernikahan kami," sahut Erlan.


"Entah ini cinta atau karena wajah Yoona yang mirip dengan tunanganku, tapi apapun itu sekarang aku tidak ingin berpisah darinya," batinnya.


Membuat Papa Agra seketika tersadar saat mendengar hal itu. Awalnya ia menduga bahwa pernikahan anaknya akan berakhir di waktu yang terlalu mudah, namun ia senang mendengar keputusan Erlan.


Papa Agra menepuk bahu anaknya berkali-kali sembari tersenyum hangat. "Itulah yang Papa inginkan, Nak. Meskipun aku tahu kalian sudah mengecewakan diriku dengan kebohongan tentang Yoona, tapi apapun itu kalian sekarang sudah menjadi pasangan. Entah ini hanya kebetulan atau memang takdir Tuhan, tapi sebaiknya mempertahankan hubungan itu memang berhak, Nak. Terlebih Papa melihat jika istrimu sangat baik. Perjuangkan dia, jangan sampai setelah kehilangan sepertiku, baru kau akan tersadar betapa berharganya hubungan kalian ini."


"Ya, aku akan melakukannya. Kalau begitu sekarang Papa sudah setuju dengan kabar ini, kan? Jadi, Papa tidak masalah kalau Yoona bukanlah tunanganku dulu?"


"Tidak, Nak. Siapapun dia meskipun dari keluarga yang berada di bawah level kita. Aku akan menerimanya dengan baik sebagai menantu karena kebahagiaan putra-putri ku ini adalah yang utama. Apalagi kau harus menyetujui tentang mama baru kalian nantinya."


"Oh ... jadi sekarang aku tahu kenapa papa tidak banyak mengeluh tentang Yoona. Pantas saja, mau kawin lagi ternyata. Tapi baguslah, ini kebahagiaannya sampai akhir tua. Aku hanya perlu merestui mereka saja," batin Erlan yang tersenyum ketika tersadar dengan akal cerdik Papa Agra.


"Ya sudah. Aku rasa semuanya sudah jelas, Pa. Memang lebih baik seperti ini saja. Kalau begitu Erlan keluar dulu, ya."


"Tunggu dulu, Nak." Tiba-tiba Papa Agra memanggilnya sembari membawa sebuah kotak kecil. Lalu menyerahkan benda itu kepada putranya.


"Apa ini, Pa?"


"Ini gelap kaki milik mamamu. Dulu saat ibumu sedang mengandung, kami semua sekeluarga memberikan ini untuknya, dan kita sudah melakukan ini secara turun-temurun. Meskipun ini hanya sebuah gelang biasa, tapi ini lambang dari keluarga kita bahwa calon penerus sudah tiba. Simpanlah ini dulu, dan nanti jika ada kabar baik tentang istriku, berikan ini padanya."


"Baiklah, Erlan akan menyimpannya dulu. Meskipun aku rasa ini tidak terlalu berguna, Pa."


"Nak, ibumu selaku berjuang untukmu. Ini hanya gelang kecil, simpan saja. Siapa tahu nanti berguna."


"Baik, Pa." Erlan akhirnya menurut, walaupun ia tidak terlalu memperdulikan tentang gelang tersebut.


***


Sejak terbongkarnya rahasia pernikahan Yoona, Papa Agra bersikap jauh lebih ramah dan lebih sering membawakan hadiah untuk menantunya. Meskipun sekedar makanan.


Walaupun kebenaran telah terungkap, tetapi Papa Agra semakin yakin jika Yoona adalah istri idaman. Terlebih kejujuran Yoona memberikan nilai tambah dari mata Papa Agra.


Seperti saat itu, Papa Agra tiba-tiba saja membawa pulang sebuah roti bakar lalu mengajak Yoona untuk duduk menonton televisi bersama.


"Kau suka, Nak?"


"Ya, Yoona suka, Pa."


"Baguslah, Papa senang melihatmu makan dengan lahap," sahutnya saat menyadari jika menantunya itu terlihat lebih berisi. "Oh ya, Papa lupa memberitahukan kamu sebelumnya tentang rencanaku untuk membawamu masuk sekalian ke dalam perusahaan. Apa sebelumnya sudah pernah berkunjung ke sana?"


"Sudah, Pa. Kebetulan Mas Erlan pernah mengajariku beberapa hal tentang bisnis. Itu memang sangat menyenangkan, tapi aku rasa aku tidak pintar dalam hal bisnis."


"Jangan mengeluh begitu, Nak. Papa yakin kalau kamu juga bisa. Ya sudah lanjutkan makanya, ya. Papa ada telepon masuk dari ibu baru kalian nih!"


"Baik, Pa."


Saat Yoona sedang sendirian, tiba-tiba Erlan datang lalu duduk di sampingnya sembari mencomot makanan yang ingin Yoona makan dari tangannya. Sejak hari itu, sikap Erlan jauh lebih baik, dan lebih sering berada di rumah.


"Hem ... makanan lezat! Kau suka sekali, ya?" tanya Erlan.


"Ya, aku suka mengemil. Entah kenapa akhir-akhir ini selera makan ku semakin bertambah. Apa aku sudah terlihat gendut, Mas?"


"Um ... tidak, masih batasan. Tidak apa-apa, selagi kau sanggup makan. Makan saja sesuka hatimu. Oh ya, dua hari lagi aku harus pergi pertemuan dengan klien di Singapura. Kau mengizinkannya, kan?" tanya Erlan dengan tiba-tiba. Sebab sebelumnya pria itu tidak pernah menanyakan pendapat kepada istrinya.


Membuat Yoona terheran, namun perlahan ia menjawab dengan anggukan. "Ya, aku setuju. Lagi pula tentang pekerjaan. Tapi ngomong-ngomong, Mas. Berapa orang yang pergi ke sana?"


"Hanya aku dan Alice. Aku tahu jika kau mungkin keberatan, tapi percayalah jika kami pergi untuk bekerja, bukan bermain-main. Apalagi aku sudah terlalu banyak meninggalkan pekerjaan. Nanti aku akan lebih sering menghubungi mu."


"Tidak apa-apa, Mas. Hanya saja ... bisakah sebelum pergi ke sana, putuskan hubunganmu dengan Alice terlebih dahulu? Maaf jika aku berkata seperti ini, tapi sekarang aku ingin jujur bahwa kini aku sedang mengandung anakmu."


Seketika Erlan terdiam di saat mendengarnya. Betapa tidak pernah ia duga bahwa sekarang Yoona sedang hamil.


"Benarkah? Tapi, sejak kapan kamu hamil?"


"Sejak kita pulang dari pendakian. Awalnya aku tidak ingin membicarakan hal ini denganmu, Mas Erlan. Akan tetapi, aku tahu bahwa kau harus mengetahui semua ini. Itu sebabnya akhir-akhir ini membuatku cemas, dan semakin hari tubuhku semakin membesar. Itu sebabnya kebohongan tidak akan membuatku bertahan lebih lama. Aku berkata jujur, bahwa sedang hamil. Apa kau tidak bisa menerimanya?"


Yoona terdiam saat melihat Erlan yang tidak memperlihatkan reaksi apapun, namun dengan perlahan Erlan membawa istrinya ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku karena saat itu meninggalkan dirimu sendirian di hutan. Jika saja aku tahu tentang kehamilan ini, maka aku tidak akan mungkin membiarkan istriku di sana sendirian. Sekarang aku akan memperhatikan dirimu, dan perlahan aku akan melupakan semua kejadian buruk di masa lalu. Terima kasih sudah memberikan keturunan untukku. Kau dan bayi kita akan aku jaga sebaik mungkin," ujarnya tanpa melepaskan pelukannya.


"Walaupun rasa cintaku masih utuh untuk Fiona, tapi sekarang Yoona sedang mengandung. Dia berhak mendapatkan kasih sayangku sekarang," batinnya yang masih belum menyadari jika rasa sayang dan kenyamanan miliknya hadir di saat rasa cinta sudah mulai bersemayam dalam hatinya.


Begitupun dengan Yoona yang tersenyum bahagia sembari membalas pelukan Erlan dengan erat. Baru kali ini, ia merasakan pelukan yang tidak terpaksa.


"Terima kasih, Mas Erlan. Meskipun hanya aku yang mencintaimu seluas lautan, tapi sekarang aku akan berjuang untuk pernikahan dan bayi kita nanti. Apapun itu, aku akan berjuang selama yang aku bisa," batin Yoona.


Kebahagiaan kecil mulai terlihat di tengah-tengah mereka, tanpa terduga diam-diam Emma melihat dan segera mengambil gambar kebersamaan mereka. Lalu ia segera mengirimnya kepada Alice.


Alice yang sedang duduk santai di kolam pemandian, tiba-tiba mendengar suara getaran ponsel.


"Pasti Erlan. Sejak tadi dia tidak menghubungiku," ucapnya dengan sangat percaya diri seraya mengambil ponselnya.


Raut wajahnya yang mulanya ceria, tiba-tiba terlihat murung ketika melihat gambar Yoona dan Erlan yang sedang berpelukan.


"Apa ini? Membuat mood baikku buruk saja! Aku tidak bisa kalah karena aku harus bisa menjadi istri Erlan juga, apapun itu caranya, argh ...!" teriak Alice sampai membuat suaranya terdengar ke luar.


Mama Sania yang saat itu sedang memasak tiba-tiba terkejut ketika mendengar putrinya berteriak. Ia langsung bergegas memasuki kamar Alice tanpa tersadar api kompor belum dipadamkan.


"Ya ampun, Nak. Kenapa denganmu? Aku pikir kamu sudah terpeleset atau terluka di kamar mandi. Membuat jantungku copot saja."


"Maafkan aku, Ma. Tapi sekarang ini aku begitu kesal. Kau tahu sendiri bagaimana aku memperjuangkan hakku, tapi orang lain justru merampasnya!" kesal Alice.


"Ya sudah, kamu rampas kembali hak mu, Alice. Sebagai wanita jangan membiarkan dirimu ditindas, apalagi hak mu di rampas. Mama ke dapur dulu, ya. Mama pikir tadi ada apa." Membuat wanita paruh baya itu bergeleng kepala berkali-kali saat melihat tingkah putrinya.


"Tentu saja, Ma. Aku akan merebut kembali yang telah dirampas oleh orang lain. Walaupun akan membuat kedua putrimu bertengkar," gumam Alice saat melihat ibunya pergi.


Kembali melanjutkan kesenangannya hingga memakai pakaian yang cantik, tetapi tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah dapur. Teringat jika ibunya belum mematikan kompor. Alice segera berlari cepat.


Kobaran api sudah melayang hampir sebagian dari isi kompor, dan juga ada sebuah tabung gas yang tidak terlalu jauh. Melihat hal itu, Alice segera menarik tangan ibunya untuk pergi ke luar demi bisa menyelamatkan diri.


Untung saja Alice cepat bergerak, tetapi tidak dengan dapur rumahnya yang perlahan habis terbakar setelah mendengar ledakan gas.


Sebagian rumah Alice terbakar, dan para pemadam kebakaran mulai memadamkan apinya. Tetapi untungnya, semua bahan pekerjaan dan aset kekayaannya tidak ia simpan di rumah tersebut, melainkan di apartemen miliknya. Namun tetap saja, Alice bersedih saat melihat rumah yang dibangun oleh keluarga untuknya kini menjadi kenangan.


"Ma, aku bahkan berharap agar rumah itu kelak bisa aku tempati bersama dengan keluargaku juga. Tapi sekarang, semuanya sia-sia."


"Jangan bilang begitu, Nak. Hanya dapur rumahmu yang terbakar, tapi untungnya sebagian lagi tidak rusak. Hanya saja kita sebaiknya sekarang pindah ke apartemen saja."


"Jangan, Ma. Aku tidak ingin tinggal di apartemen karena sebaiknya kita tinggal di rumah Erlan," ucap Alice sembari tersenyum tipis.


"Erlan? Bagaimana mungkin bisa? Sudah, Alice. Jangan berpikir hal bodoh di saat musibah seperti ini."


"Tentu saja musibah ini ada hikmahnya, Ma. Artinya inilah kesempatan diriku untuk semakin berdekatan dengan kekasihku," batin Alice sembari berjalan mundur untuk menyendiri.


Ia segera menghubungi Erlan dengan berusaha berpura-pura menangis. Kesedihannya terdengar begitu dramatis sampai membuat Erlan yang sedang bersama Yoona terkejut, dan meninggalkan istrinya sendirian di kamar.


"Aku akan segera datang ke sana." Terdengar kecemasan dari Erlan, namun dengan cepat panggilan dimatikan.


"Bagus, Erlan. Datanglah lebih cepat daripada yang aku duga. Maka sekarang membuatku memiliki alasan untuk tinggal denganmu dalam satu atap." Alice tersenyum sembari menatap rumahnya. Tidak ada penyesalan meskipun api sudah dipadamkan, tetapi hanya ada kesempatan dalam kesempitan yang membuat kebahagiaannya bertambah.


Alice menangis sembari memeluk Mama Sania, ia memperlihatkan kesedihannya itu saat Erlan datang di tempat.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa rumahmu terbakar, Alice? Lalu bagaimana denganmu? Kau baik-baik saja?" tanya Erlan sembari membawa kekasihnya mendekat.


Menarik Erlan untuk ikut memeluknya, dan tidak berkata apapun.


"Sebenarnya ini salahku, Nak. Awalnya aku masak, tapi keteledoran ini membuatku tidak menduga sampai terjadi masalah besar. Maafkan aku, Nak Erlan. Sekarang Alice harus menderita karena diriku. Seandainya saja aku tidak ingin di sini, pasti rumah ini masih utuh seperti semula."


"Jangan berkecil hati, Bu. Tidak ada salah siapapun. Sekarang lebih baik kalian tenanglah, dan aku juga bawakan minuman. Minumlah dulu, nanti kita akan bicarakan hal ini, ya."


"Terima kasih banyak, Nak."


"Erlan, bisakah kita bicara berdua sebentar?" tanya Alice dengan penuh harap.


"Tentu saja. Ayo ikut ke mobil."


"Bu, aku akan pergi sebentar dengan Erlan. Tidak akan lama, dan jangan kemana-mana."


"Hati-hati, Nak."


"Baik, Bu."


Keduanya mencari tempat yang nyaman di sebuah cafe untuk membicarakan sesuatu. Alice menarik nafasnya sembari berucap. "Aku harap kau bisa memahami dengan ucapan ku sekarang."


"Ya, aku akan mencobanya. Jadi, katakan apa itu?"


"Sebenarnya Mama Sania adalah ibunya Yoona. Aku tahu hal ini setelah kecelakaan yang menimpa mereka, meskipun aku sudah mencoba mencari ibuku sejak lama. Tetapi ternyata, Mama Sania juga ibuku. Namun ... Yoona belum mengetahui hal ini, Sayang."


"Itu artinya kalian saudara tiri, kan?"


"Ya, kami saudara tiri karena berbeda ayah. Hanya saja hanya kepadamu, aku katakan hal ini. Namun sekarang, Mama Sania tidak ingin bertemu dengan putrinya—Yoona setelah kepergian saudara kembarnya. Mamaku sangat trauma saat melihat wajah istrimu. Akan tetapi, aku merasa bingung setelah melihat rumahku."


"Apa tidak sebaiknya kita coba pertemuan Yoona dengan ibunya dulu? Bagaimanapun, dia juga harus bertemu meskipun nanti mereka akan saling memaki atau apapun itu, tapi itu lebih baik, kan?" tanya Erlan dengan sarannya.


Alice mengangguk kecil. "Ya, aku pun setuju, Sayang. Apalagi dalam waktu dekat kita harus terbang ke Singapura. Jadi, tidak akan mungkin meninggalkan ibuku sendirian saja. Lalu di mana aku harus meninggalkannya? Apa tidak sebaiknya kalau aku tinggal di rumahmu sampai rumahku berhasil di renovasi? Sayang, kau setuju atau tidak?"