
“Katakan apa yang ingin kamu bicarakan dengan Papa, Nak? Katakan saja apapun itu," tanya Ayah mertua dengan sangat ramah sembari tersenyum hangat.
Membuat Yoona menarik nafasnya dengan perlahan saat ia melihat semua mata tertuju padanya.
"Apa memang sekarang waktu yang tepat untuk mengakui segalanya? Tapi, jika aku terus menyembunyikan hal ini, maka akan semakin sulit pula hubunganku dengan Mas Erlan," batinnya.
"Kenapa malah diam, Kak Yoona? Ayo bicara, apa tidak jadi?" Emma merasa sangat penasaran.
"Sebenarnya ada hal penting tentang pernikahan berdua, Pa. Akan tetapi, di sini aku cuma mau bilang tidak ada yang harus disalahkan. Baik Mas Erlan ataupun diriku. Kami sama-sama sudah mengambil keputusan terbaik, dan keputusannya adalah kami akan berpisah secara baik-baik, Pa," ucap Yoona dengan perlahan.
"Maafkan aku, Mas. Sepertinya aku pun tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan fakta tentang pernikahan kita yang sebenarnya," batinnya ketika merasa cemas.
Semua orang terkejut begitupun dengan Erlan. Membuat Erlan sama sekali tidak menduga bahwa hal itu yang akan Yoona bicarakan, terlebih sebelumnya ia tahu bahwa sikapnya sudah terlalu buruk.
"Bahkan sekarang Yoona berusaha menjaga nama baikku, tapi kenapa dia harus memberitahukan tentang perpisahan secepat ini? Meskipun itu yang aku inginkan, tapi sekarang hatiku merasakan hal yang lain seperti tidak ingin berpisah darinya," batin Erlan yang sangat plin-plan.
Papa Agra berjalan mendekat dan duduk di samping Yoona. "Katakan apa yang sebenarnya terjadi? Apa Erlan sering memarahi mu, Nak? Sampai-sampai kamu mengatakan hal ini? Jika memang masalahnya kecil, lebih baik kalian berdua bicara saja dulu. Tidak di depan banyak orang seperti ini. Apalagi kalian baru saja pulang honeymoon, papa merasa ada yang aneh denganmu."
"Kau memang benar, Pa. Memang ada yang aneh dengan hubungan kami sekarang. Tapi, Papa jangan cemaskan hal itu. Hanya saja ... aku mengakui atas kesalahan ku yang sudah membuat pernikahan Mas Erlan berantakan bersama kakakku. Maafkan aku, Pa. Sebenarnya aku bukanlah orang yang sama seperti yang dulu kalian kenal," ucap Yoona dengan kejujuran sembari menunduk.
Kebingungan terlihat jelas di wajah Papa Agra, ia tidak mengerti dengan ucapan Yoona sekarang. "Apa yang kamu katakan, Nak? Jika kamu sedang lelah sebaiknya istirahatlah terlebih dahulu. Erlan, bawa istrimu ke dalam. Dia terlihat tidak menentu, sebaiknya jaga dia dulu."
"Tidak, Pa. Aku baik-baik saja dan tidak perlu beristirahat. Sekarang ini aku hanya ingin menjelaskan tentang kebenarannya. Memang sejak pertama kali pernikahan ini terjadi, aku dan Mas Erlan sudah sepakat bahwa kami harus merahasiakan nya, tapi sekarang tidak. Terlebih Mas Erlan sudah memilih untuk berpisah denganku, dan mungkin itulah yang terbaik. Karena jika sepihak yang memaksa, maka semuanya akan sia-sia. Inilah kebenaran, Papa, Emma. Kalian berdua berhak tahu karena aku tidak ingin rahasia ini terus semakin membesar," ucap Yoona.
"Erlan, apa ini? Kau bisa menjelaskan yang istrimu katakan sekarang? Aku tahu kalian sedang bertengkar, tapi pertengkaran konyol ini tidak akan selesai jika Yoona berpikir terlalu jauh hal yang tidak memungkinkan." Papa Agra masih belum mengerti sampai merasa jika Yoona sedang berbicara melantur.
"Yoona tidak salah, Pa. Dia berkata benar karena memang dia bukanlah Fiona, melainkan Yoona. Meskipun nama mereka hampir sama, tapi orangnya tidak. Sebab istriku memiliki saudara kembar, dan inilah kenyataannya bahwa aku tidak menikah tunanganku dulu, melainkan saudara kembarnya. Papa harus menerima fakta ini, karena sebenarnya tunanganku telah tiada," timpal Erlan.
"Jadi ... dia bukanlah orang sama. Pantas saja aku wanita ini terlihat tidak nyambung saat pertama kali bicara denganku," batin Emma sembari terus menatap ke arah Yoona.
"Kalian tidak sedang membohongiku, kan?" tanya Papa Agra yang kembali memastikan.
"Tidak, Pa. Kami mengakui atas kesalahan ini karena sudah berbohong padamu. Tapi, Papa tidak perlu marah kepada Mas Erlan atau berusaha untuk menarik saham perusahaan miliknya karena di sini bukan Mas Erlan yang bersalah, melainkan diriku. Maka untuk itu, Yoona mohon agar perjanjian dua tahun tentang kami sebaiknya berakhir saja di sini karena bagaimanapun juga aku telah bersalah, tapi Mas Erlan tidak berhak kehilangan warisan darimu," pinta Yoona.
Membuat Papa Agra terdiam sembari menatap wajah Yoona yang memang terlihat begitu mirip sekali. Sama sekali tidak terlihat seperti orang lain. Tindakan itu membuat Papa Agra dan Emma pergi meninggalkan yang lainnya di sana.
Linda yang merasa asing di tengah pembicaraan itu, ia bergegas pergi. Tetapi tiba-tiba saja Yoona menghentikan langkahnya.
"Mau ke mana? Kau sudah berjanji untuk menungguku di sini, Linda."
"Ya, aku tahu, Yoona. Tapi, sebaiknya kamu temui suami dan keluargamu dulu sampai masalah ini selesai. Aku akan pulang, tapi nanti kamu bisa menemui ku di sana. Alangkah lebih baik selesaikan masalahmu sampai tuntas, dan rumahku akan selalu terbuka untukmu. Semangat, Yoona. Apapun itu keputusannya, aku akan mendukungmu," sahut Linda sembari tersenyum kecil.
"Baiklah, dan terima kasih sudah memahami ku."
"Tentu saja, Yoona."
Melihat Linda pergi sampai menghilang dari halaman depan, namun tiba-tiba Erlan mendekat dan segera menarik tangannya.
"Kemari kau."
"Tidak ada lagi yang harus dibahas, Mas Erlan. Kau sudah memutuskan untuk memilih berpisah, kan? Apalagi sekarang?" tanya Yoona meskipun di hati kecilnya berharap untuk tidak pergi.
"Aku tahu itu, tapi kenapa harus sekarang, Yoona? Papa Agra bisa saja lebih marah kepada kita apalagi setelah ia bersusah payah memberikan tiket honeymoon. Jika begitu, maka dia akan berpikir kita tidak menghargainya. Kenapa kau harus mengambil keputusan sendiri tanpa membicarakannya terlebih dahulu padaku?"
"Lalu aku harus apalagi, Mas Erlan? Melihatmu saja dengan wanita itu sudah membuatku tidak tahan, dan sekarang bagaimana mungkin aku bisa berbicara denganmu berdua sedangkan Alice di sini terus mengekor mu setiap waktu. Aku mungkin sudah salah karena membohongi mu tentang pernikahan kita, tapi haruskah kau membalas dengan menyakitiku bersama wanita itu?"
"Ya, karena dia sekarang adalah kekasihku, Yoona. Tapi, aku harap supaya kita tidak berpisah. Ini sudah menjadi keputusanku. Tidak ada lagi perpisahan karena aku sudah menarik ucapan ku ini. Kita akan tetap bersama, tapi kamu harus menerima diriku yang sekarang bersama dengan Alice," tegas Erlan yang terlihat begitu egois.
"Haruskah aku menerimanya, Mas?"
"Tentu, ini menjadi sebuah hukuman untukmu karena rasa sakit di hatiku ketika melihat wajahmu yang sama dengan tunanganku. Masih membekas di sini, dan itu belum membuatku sembuh sampai sekarang. Itulah sebabnya kau lebih baik terima diriku meskipun memiliki dua cinta," jelas Erlan.
Keputusan yang sulit untuk Yoona hadapi, terlebih ia tak sekuat itu untuk menerima semua cobaan yang membuatnya semakin rapuh. Tak tanggung-tanggung cobaan terus berdatangan silih berganti.
"Apa aku akan sanggup membagi suamiku dengan wanita lain? Sekarang bukan hanya diriku yang membutuhkanmu, tapi juga kandungan ini. Tapi, aku pun belum siap untuk berpisah karena aku terlalu takut sendirian, apalagi keberadaan ibuku belum bisa aku temukan," batinnya tanpa memiliki banyak pilihan.
"Baik, Mas Erlan. Aku akan mencoba menerimanya, tapi aku tidak akan berjanji bisa bersikap seperti dulu lagi," sahut Yoona. Lalu berjanji pergi meninggalkan Erlan yang masih di dalam keheranan.
"Apa maksudnya?" Erlan terlihat bingung, tetapi tiba-tiba Alice mendekat sembari merangkul tubuhnya dengan mesra dari belakang.
"Sayang, aku tahu kamu kesal, tapi ini berita yang bagus untuk kita berdua. Itu artinya pernikahanmu akan berakhir, dan aku berjanji akan menjadi istri yang baik untukmu setelah kalian berpisah, benarkan?" Alice terlalu percaya diri hingga membuatnya tersenyum puas.
"Tidak, kami telah membatalkan rencana perpisahan ini," sahut Erlan dengan cepat. "Sebaiknya jangan peluk aku di sini, Alice. Bisa saja Emma ataupun Papa Agra melihat kita berdua."
"Hei, mereka tidak melihat kita, Sayang. Tapi, aku merasa heran dengan kalian berdua yang terus saja berubah-ubah pikiran. Seketika begini, sekali begitu."
"Karena memang membutuhkan pertimbangan, Alice. Sebaiknya sekarang pulanglah dulu. Aku harus menyelesaikan masalahku dengan Yoona, dan Papa Agra juga. Nanti aku akan mengabari mu."
"Baiklah, Sayang. Berikan kabar baik tentang hubungan kita."
"Tentu saja."
Tanpa mereka ketahui, Emma sudah melihat dan mendengar semuanya. Ia begitu tidak menduga bahwa Alice diam-diam telah menjadi kekasih kakaknya.
"Keluarga macam apa ini? Tidak ada satu pun yang bisa dipercayai. Bahkan Papa sendiri sampai sekarang juga masih menyembunyikan tentang calon ibu kami, entah seperti apa, tapi aku terlalu sulit memikirkannya semua. Apalagi aku ikut kecewa dengan Kak Erlan yang harus menikah dengan wanita itu," gumamnya.
Kekesalan Emma membawanya pergi menemui Yoona. Terlihat Yoona sedang berada di halaman belakang. Dengan tiba-tiba ia mencekal lengan Yoona sembari memperlihatkan sebuah bingkai foto.
"Hei, kau lihat ini sekarang. Awalnya aku sangat senang melihatmu menjadi kakak iparku, tapi setelah aku pikir-pikir kau memang orang itu. Lihatlah ini, kebersamaan kami bertiga saat Mas Erlan masih tersenyum dengan sangat ceria. Lalu sekarang kau hadir membawa derita di dalam keluarga ini. Memang lebih baik kalian berpisah saja," ucap Emma yang terlalu banyak perintah.
Dalam sekejap sikap Emma berubah total menjadi lebih kasar, namun semua itu tidak membuat Yoona takut. Terlebih ia sudah menerima semua penghinaan dan kesedihan dari suaminya, bersama dengan kemalangan yang lain.
Membuat Yoona berusaha untuk terlihat tegar dan tidak takut apapun meskipun itu kepada adik iparnya sendiri. Ia membalas ucapan kasar dengan tatapan tajam sembari memegang erat wajah Emma dengan sebelah tangannya.
"Aku pikir sejak awal wajahmu ini memang sudah memperlihatkan ketidaksukaan terhadap diriku setelah menjadi istri dari kakakmu. Tapi, takdir tidak dapat diubah, Emma. Lagi pula kau juga seorang wanita, dan pastinya akan menikah. Jadi sebaiknya, tutup saja mulutmu itu karena bisa saja hal buruk yang akan membawa karma padamu jika sekarang kau menghinaku," balas Yoona dengan kejam.
"Berani-beraninya kau! Lepaskan aku, Yoona!" bentaknya sembari Emma mendorong tubuh Yoona dengan kasar.
Erlan berusaha menahan tubuh istrinya. Untung saja pria itu datang lebih cepat saat mendengar adanya keributan dari arah belakang.
"Apa-apaan kalian berdua. Yoona, kenapa harus melampiaskan amarahmu kepada Emma? Aku yang bersalah, bukan adikku."
"Tidak untuk saat ini, Mas Erlan. Kau tidak perlu menceramahi diriku atau memarahiku karena yang seharusnya kau salahkan adalah adikmu. Jangan membela yang salah karena di sini aku hanya membela diri. Sebaiknya setelah ini suruh adikmu ke luar dari rumah kita. Dia sebaiknya pulang ke rumah Papa Agra," perintah Yoona dengan tegas. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kurang ajar! Kak Erlan, lihat bagaimana sikap istrimu padaku, kan? Memang sebaiknya kalian harus berpisah saja, kak."
"Lagian kamu juga salah, Emma. Siapa suruh mengatur pernikahanku? Sudahlah, sekarang sebaiknya kemasi semua barang-barang mu, dan pindah ke rumah papa."
"Sungguh? Kak Erlan, kau ingin mematuhi permintaan wanita itu? Hei, aku ini adikmu, Kak. Aku tidak mau karena aku akan tetap memilih tinggal di sini."
"Jika memang itu keinginanmu, maka tidak perlu banyak bicara tentang hubungan kami. Sebaiknya belajar dengan baik karena dalam waktu dekat, kau harus ikut pelatihan kerja. Jika tidak, aku akan kembali mengirim mu ke Kanada," paksa Erlan.
Meninggalkan Emma sendirian dalam kekesalan saat tidak ada satu pun yang mau berpihak padanya. Menendang meja yang berada di depannya untuk melampiaskan amarah, namun semua itu tidak membuat hatinya lega.
"Sial! Tapi tenanglah, aku tidak akan kalah. Kak Erlan tidak boleh bahagia di dalam pernikahannya bersama wanita itu. Apalagi sekarang Yoona dengan terang-terangan tidak menyukaiku, maka aku harus membuat Kak Erlan bisa bersama dengan Kak Alice. Lihat saja nanti, kau akan menangis karena sudah menyepelekan diriku, Yoona," ancam Emma dengan begitu serius.
Di sisi lain, Papa Agra sedang berpikir dengan bijak. Pria itu terdiam sembari menatap ke arah bingkai foto milik mendiang istrinya.
"Lihatlah kehidupan anak-anak kita setelah dirimu pergi meninggalkan diriku, Ma. Erlan dan istrinya mulai bertengkar dan saling tidak mendukung, meskipun aku sulit untuk harus membuat keputusan tentang mereka. Lalu Ernio yang sampai sekarang belum kembali setelah dia pergi saat kau telah tiada. Hanya ada Emma yang harus aku bimbing, tapi menjaga putra dan putri yang sudah dewasa ternyata lebih rumit dibandingkan saat mereka masih kecil. Ma, aku tidak tahu harus apa," gumamnya seraya mengusap wajah mendiang istrinya dari balik cermin.
Kebingungan itu membawa Erlan tiba-tiba masuk menemui Papa Agra. Dengan cepat pria paruh baya itu menghapus sisa air mata yang masih mengalir.
"Pa, aku mau bicara."
"Tentu saja, Nak. Bicaralah."
"Seperti yang sudah kau ketahui, Pa. Kalau memang di dalam pernikahanku memiliki banyak masalah yang belum bisa aku selesaikan sendiri, namun aku berharap agar Papa tidak memikirkan semua itu. Aku sudah mengambil keputusan bahwa tidak akan berpisah sekarang ataupun nanti. Tapi mungkin-"