Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda

Istri Pelampiasan Hasrat Tuan Muda
Mama Sania Sembuh


Sebuah kejutan dari sang dokter ketika dengan sengaja tidak memberitahukan tentang kesadaran yang Mama Sania yang telah sembuh dari koma. Dengan cepat Alice melangkah memasuki rumah sakit karena ia masih merasa sangat ketakutan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Terlebih ia tidak ingin kalau sampai harus kehilangan wanita itu untuk sekali lagi.


Berlari cepat, namun tiba-tiba di depan ruangan terlihat Mama Sania sedang tersenyum dengan seorang perawat yang sedang mengemasi semua barang-barang milik wanita paruh baya itu. Sontak membuat Alice terdiam dalam rasa syukurnya.


Perlahan Alice membuka pintu, tetapi Mama Sania terlihat ketika melihat yang datang bukanlah kedua putri kembarnya, melainkan orang lain.


"Sus, bisa tolong ke luar sebentar?" pinta Mama Sania.


"Tentu saja, Bu."


Sama-sama mendekat, tetapi Mama Sania masih kebingungan. Namun tiba-tiba Alice berlari untuk memberi pelukan sembari menangis tersedu-sedu. Membuat Mama Sania menjadi semakin kebingungan.


"Nak, ada apa denganmu?" tanya Mama Sania sembari melepaskan pelukannya.


Bukannya menjawab, tetapi justru memperlihatkan sebuah album kecil miliknya. Terlihat seorang gadis kecil yang sedang mengulum permen bersamaan dengan ibunya yang tengah ingin menyuapinya makan.


"Apa kau sama sekali tidak ingat dengan gambar ini?" tanya Alice dengan sengaja.


Melihat hal itu, membuat kebenaran di masa lalu teringat kembali. Seketika Mama Sania menangis sejadi mungkin sembari mengusap wajah Alice dengan begitu lama.


"Kau kah itu, Yogi?" panggilannya dengan nama panggilan kecil untuk putri pertamanya dulu.


"Ya, aku Yogi—mu, Ibu. Kenapa kau harus tinggalkan aku di rumah orang lain dulu? Apa kau tidak terima dengan kelahiranku ini?" tanya Alice yang masih belum bisa berhenti menangis, meskipun matanya mulai terlihat sembab.


"Maafkan aku, Nak." Mama Sania tidak berani mengungkapkan kebenaran terlebih dengan semua kesalahannya dulu.


"Apa alasannya, Ibu? Kau bahkan berusaha melupakan diriku dan tidak ingin mencari ku." Alice terlihat sangat putus asa.


"Tidak seperti itu, Nak. Aku bahkan sangat menyayangimu, dan sebab itulah aku berusaha membawamu pergi untuk bisa hidup lebih nyaman dengan orang lain. Dulu aku melahirkan mu tanpa ada kasih sayang dari kedua orangtuaku, akibat hubungan yang tidak direstui oleh keluargaku, membuatku harus memisahkan dirimu, Nak. Sejujurnya aku tidak sanggup, terlebih ayahmu adalah orang yang paling aku sayangi. Tapi, aku tidak bisa melakukan banyak hal selain dengan memilih membiarkan dirawat oleh orang lain. Meskipun selama dua tahun aku melihatmu dari jaga agar bisa memastikan semuanya baik-baik saja. Lalu sekarang, kenapa kau harus mencari ku, Nak?"


"Apakah aku tidak bisa boleh untuk mencari ibu kandungku sendiri? Ibu, awalnya aku tidak tahu jika aku bukan anak mereka, tapi ternyata sebelum mereka pergi meninggalkan diriku, mereka memberitahu bahwa ternyata aku memiliki seorang ibu, berserta dengan foto ini yang ditemukan di dalam tempat yang kau beri. Bertahun-tahun lamanya sembari aku menitip karir, aku berusaha mencari mu, Ibu. Aku tidak ingin jauh darimu, setidaknya akuilah aku sebagai anakmu," pinta Alice dengan ketulusan hatinya.


Tak kuasa mendengar semua kesedihan yang sedang Alice ucap, membuat Mama Sania segera mengangguk perlahan sembari tersenyum manis. "Tentu-tentu, aku—ibumu, dan akan selalu seperti itu. Maafkan ibu karena tidak bisa merawat mu dulu, Yogi."


"Bagiku, keluarga baruku juga sangat menyayangiku, Ibu. Mereka bahkan meninggalkan harta warisan sebelum mereka pergi. Itu sebabnya aku ingin kau pulang bersamaku, karena bagaimanapun di balik keburukan karena kau tidak ingin merawat ku. Membuatku bisa mendapatkan kehidupan yang layak, Ibu. Ngomong-ngomong namaku sekarang bukan lagi Yogi, melain Alice Brianna. Kedua orangtuaku angkat yang memberikannya sesuai dengan identitas mereka," jelas Alice.


"Baguslah, Nak. Nama barumu juga sangat indah seindah dirimu ini. Tapi, Ibu tidak akan mungkin tinggal bersama denganmu. Apalagi saat ini kedua adik kembarmu belum datang menjemput ku. Dokter bilang anak-anak ku akan datang, tapi mereka belum terlihat sejak tadi," sahut Mama Sania yang seperti terlihat kebingungan.


Membuat Alice terdiam seketika ia baru terdengar bahwa Yoona adalah saudara tirinya, karena perbedaan ayah kandungnya. Rasa kesal yang semakin membuat Alice tidak suka berbagi, apalagi dengan Yoona.


"Apa maksudmu, Nak?"


"Tunggu dulu, Ibu. Maksudnya tadi kalau aku memiliki adik kembar? Itu artinya anakmu, kan?" tanya Alice yang sengaja terlihat pura-pura tidak tahu apapun.


"Tentu saja, Nak. Aku tidak tahu apapun setelah kecelakaan itu, tapi yang aku tahu adikmu—Yoona menabrak sebuah mobil sebelum kami terhempas jauh, dan Fiona, entahlah Ibu tidak tahu apapun lagi. Mungkin kau harus tahu kalau dirimu memiliki saudara, pasti mereka sangat senang setelah mengetahuinya."


"Kurang ajar! Entah kesialan apa yang sudah ibuku perbuat sampai aku harus menjadi saudara tiri dengan wanita itu. Bahkan dia telah membohongi pria yang aku cintai, lalu sekarang aku malah harus membagi ibuku dengannya juga," batin Alice sampai membuatnya mengepalkan tangan dengan kuat.


Sontak membuat Mama Sania semakin merasa terheran karena saat itu Alice terdiam. "Ada apa, Nak? Kau memikirkan sesuatu?"


"Um, ya sebenarnya aku sudah tahu kalau aku memiliki kedua adik kembar, Bu. Namun ... baru-baru ini juga aku mengetahuinya. Meskipun aku berteman baik dengan Fiona, tapi sungguh aku tidak tahu kalau ternyata ibu kami sama. Hanya saja-"


"Katakan hanya saja apa, Nak? Tidak terjadi sesuatu dengan Fiona, kan? Di mana kedua adik kembarmu sekarang?" Mama Sania bertanya dalam kecemasan. Hingga kedua tangannya bergetar.


Alice segera membawa ibunya untuk duduk, terlebih ia masih terlalu takut untuk membuat ibunya khawatir setelah mendengar cerita yang akan ia ucapkan. Meskipun demikian, tentu saja kebohongan tidak akan baik untuk harus ia sembunyikan selamanya.


"Minum dulu, Bu. Sebaiknya kita pulang ke rumah setelah ini, dan Ibu bisa tinggal denganku setelah itu."


"Tidak bisa, Nak. Aku harus melihat kedua putriku yang lainnya. Apakah mereka berdua selamat dari kecelakaan itu? Tolong, katakan dengan sejujurnya padaku." Mama Sania sampai memohon.


"Rasanya terlalu sulit untuk aku harus mengungkapkan kebenaran ini, Bu. Terlebih aku juga sama halnya denganmu yang tidak ingin jika Fiona tiada, tapi sayangnya aku pun tidak bisa berbuat banyak hal untuk Fiona," batinnya.


"Katakan, Alice! Ibu akan benci denganmu jika kau berbohong sekarang," bentak Mama Sania.


"Um ... sebenarnya Yoona tidak apa-apa, Bu. Bahkan dia sudah menikah, tapi ... tidak dengan Fiona. Aku semakin takut untuk Ibu tahu hal ini."


"Jangan berbelit-belit, Alice. Apa maksudmu ini? Yoona menikah? Apa dengan Malvin? Setahu Ibu, kekasihnya dulu bernama Malvin."


Perlahan Alice menggelengkan kepalanya sembari berkata. "Tapi dengan Erlan, tunangan dari Fiona, Bu. Inilah yang aku takutkan untuk memberitahukan dirimu."


"Apa? Ta-tapi bagaimana mungkin? Di mana Fiona sekarang, Nak?"


"Dia sudah tiada, Bu. Kecelakaan itu membuatnya meninggalkan kita semua. Maafkan aku karena baru tahu hal ini, tapi kau pun harus tahu bahwa Yoona sekarang sedang berbulan madu. Sepertinya dia sangat menyukai pernikahan barunya," sahut Alice dengan segala keburukan yang ia rencanakan.


Membuat Mama Sania semakin tidak bisa mempercayai fakta yang sedang terjadi, seketika kepalanya terasa begitu pusing.


"Ya ampun, apa yang sedang terjadi? Kenapa putri kembar ku saling bermusuhan?" batin Mama Sania.