
Episode 137 : Bagaimana dengan mu?
.
.
Di tempat Deffan dan Ayahnya,
Seperti mimpi di siang bolong, seseorang tiba-tiba saja mengirimkan video aneh ke ponsel mereka.
Dan saat diputar, alangkah terkejutnya keduanya saat melihat Marin dan Freya saling cambuk satu sama lain.
Apalagi Deffan yang bisa dengan jelas mendengar teriakan mereka.
"Menjebak Aluna? menyewa bandit untuk mencelakai Aluna! apa yang Ibu dan Freya katakan? apakah mereka gila?"
Deffan yang sudah mengalami patah hati yang sangat berat saat melihat Aluna bersama lelaki lain saat lalu semakin frustasi.
Dia merasa menjadi lelaki yang sangat bodoh, dan dia merasakan perasaan berkecamuk di hatinya.
Mengingat bagaimana selama ini pasti Aluna menderita bersamanya, karena Ibunya itu, apalagi saat itu Deffan pasti lebih memilih Ibunya dibandingkan Aluna.
"AAAAAAAHHHH!"
"AKU BENCI SEMUANYA!"
"KENAPA JADI BEGINI!!!!"
"AAAAAA!"
Deffan berteriak dan menghujamkan ponselnya sampai pecah.
Dia tersungkur dengan deraian air mata penyesalan.
Bayangan mengenai Aluna memenuhi kepalanya, mengenai janjinya yang ingin menjaga Aluna tetapi malah menjatuhkan nya ke lubang penderitaan yang menyakitkan.
"Padahal aku sudah berjanji akan melindungi mu, padahal aku berjanji ingin membahagiakan mu, padahal aku berjanji tentang itu semua! apa ini?"
"Kenapa aku bodoh sekali! kenapa aku bisa melakukan semua ini padamu! aku benci diriku sendiri! AAAAAAAA!!!!"
Perlakuan Ibunya dan Freya benar-benar mengguncang batin Deffan, bagaimana Deffan akhirnya menyadari jika selama ini tentunya Aluna mengalami penindasan dan penderitaan ketika bersamanya.
Sedangkan Ayah Deffan, dengan amukan dan murka yang begitu besar, tidak peduli lagi apa yang terjadi dengan Marin, dia langsung memanggil assiten nya untuk mengurus berkas perceraian.
"Siapa duga selama ini ternyata aku menikahi seorang monster!" geram nya mencengkeram rambutnya dan merasa frustasi karena ulah istrinya yang semakin tua semakin menjadi-jadi.
.
.
Di saat yang bersamaan, Dean telah tiba di kediaman Edgar Brown dan dengan raut wajah cemas dan terburu-buru, dia hendak menuju ruangan Nyonya besar, yaitu Camelia.
Dengan semua bukti nyata yang ada di tangannya dia mengetuk pintu dengan keberanian yang tersisa.
"Tok ... Tok ... Tok!"
Pintu akhirnya diketuk, dan saat itu Dean kemudian masuk.
Dia melihat Camelia sedang duduk dengan tegap menunggu nya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Halo Nyonya besar, lama tidak bertemu, anda terlihat semakin muda dan sehat, saya senang bertemu anda di tempat ini ..." Dean mencoba menebar ucapan-ucapan manisnya agar setidaknya dia tidak langsung diomeli saat ini juga.
"Berikan padaku! jangan harap dengan semua ucapan manis mu kau lepas dari hukuman mu, kau dan Edgar akan sama-sama ikut aku kembali, perusahaan bisa disini bisa di monitor dari sana!"
Seru Camelia tidak akan membiarkan Edgar maupun Dean lepas dari amukan nya, karena telah dengan tega membohongi nya disaat Camelia sangat mempercayai kedua orang ini.
"Ehem ..."
Dean segera menundukkan kepalanya murung, dia memberikan bukti-bukti yang ia miliki pada Camelia.
"Baiklah Nyonya besar ..." balas Dean menghela nafasnya dalam-dalam.
Saat melihat ke-validan kisah yang diceritakan oleh Aluna dan bukti yang sudah ada di tangannya ....
Camelia mencoba bertanya beberapa hal mengenai Aluna kepada Dean.
"Bagaimana menurut mu wanita itu? apakah dia memiliki indikasi akan seperti Fiona?" Dengan pelan Camelia ingin mengetahui sudut pandang dari Dean.
Bagaimana pun, Dean sudah seperti saudara bagi Edgar, Camelia yakin jika Dean pasti akan memilih yang terbaik untuk Edgar.
Mendengar itu, Dean yang merupakan supporter nomor satu pasangan Edgar Brown dan Aluna langsung dengan sigap menjawab pertanyaan Camelia.
"Tidak nyonya, sama sekali tidak! malahan Nyonya Aluna terkesan terlalu baik dan mudah dimanfaatkan, dia juga tekun, ulet dan sangat pekerja keras ... sebelum bersama Tuan Edgar, dia bekerja keras untuk merawat ayahnya yang sudah sakit-sakitan."
"Dan bahkan sudah ada beberapa orang yang mau mencelakai dia tetapi Nyonya Aluna sama sekali tidak membalas, jadi terkadang Tuan Edgar akan marah dengan hal itu dan pada akhirnya membereskan sendiri orang-orang yang mengganggu Nyonya Aluna ..."
"Tapi, walau Nyonya Aluna terlihat terlalu baik, dia bisa membuat Tuan Edgar tidak meminum obat nya lagi, tidak bermimpi buruk lagi dan ..."
Dean yang bersemangat sekali menceritakan mengenai bagaimana Aluna sangat tepat di sisi Edgar membuat Camelia tanpa sadar menunjukkan garis senyuman di wajahnya.
Camelia tidak bisa memungkiri rasa takut di hatinya saat melihat Aluna yang memiliki kemiripan dengan Fiona, tetapi di sisi yang lain, Camelia juga merupakan wanita yang bijak dimana dia sadar jika setiap manusia di dunia ini pastilah berbeda-beda.
"Sudah cukup, kau kelihatan bersemangat sekali! aku akan menilai Aluna dengan caraku sendiri, aku akan membawa kalian semua kembali!"
"Dan untuk orang-orang ini yang dengan tega menjebak Aluna, apakah Edgar sudah melakukan sesuatu kepada mereka?"
Tanya Camelia sekarang sudah benar-benar serius, jika saja Edgar belum melakukan sesuatu kepada orang-orang yang berani mencelakai istrinya, maka Camelia lah yang akan turun tangan dan akan menghabisi Edgar terlebih dahulu.
Mendengar itu, Dean tersenyum pahit dan dia menghela nafasnya.
"Nyonya tidak akan percaya , tetapi Tuan Edgar menghabisi mereka semua sendiri dengan tangan kosong, lalu memenjarakan mereka, di sisi yang sama Tuan Edgar juga meminta hidup mereka di penjara tidak akan mudah!"
"Untuk gadis-gadis itu lebih mengerikan, Tuan Edgar meminta mereka saling cambuk, dan untuk yang ketiga pelayan yang menyamar itu, dibuat kecelakaan juga dan sekarang mereka sedang ada di rumah sakit, untung saja tidak ada yang kehilangan nyawanya ..."
Balas Dean dengan cepat juga menjelaskan pembalasan Edgar yang begitu mengerikan.
Mendengar itu Camelia langsung tersenyum lebar.
"Bagus, harus begitu! itu baru putraku yang aku didik!" seru Camelia membuat Dean terkejut sejenak.
Namun Dean segera sadar jika memang sikap Edgar sedikit banyak memang menurun dari Ibunya.
"Oh ya, Edgar sudah menikah walau tanpa memberitahu dan merahasiakan nya! bagaimana dengan mu? apakah kau sudah mendapatkan seseorang juga? pikirkan juga mengenai dirimu, haruskah aku mencarikan gadis yang baik? bagaimana menurut mu?"
Camelia menjadi bersemangat, mendengar itu Dean menelan salivanya berat dan menggelengkan kepalanya.
"Nyo ... Nyonya, sebelum kita kembali pulang, sepertinya ada beberapa berkas penting yang harus aku selesaikan, hehe ... saya undur diri dulu!" seru Dean kabur dengan cepat.
Jika tidak, maka Camelia pasti akan membicarakan mengenai perjodohan ini lebih jauh.
"Karena Tuan Edgar sudah menikah, sekarang aku yang jadi sasaran, bagaimana ini!" geram Dean menjadi semakin pusing.
Dia masih tidak ingin menikah, dia menikmati hidupnya yang seperti sekarang ini.
.
.
Di sisi lain,
Di rumah sakit,
Clara berada di rumah sakit sejak kemarin, dia tidak akan pulang sebelum dia tahu keadaan dua pengawal Aluna dan supir yang dalam keadaan koma itu.
"Huhu ... apakah aku akan menjadi pembunuh jika mereka kenapa-napa?! bodohnya aku bisa percaya pada ketiga orang licik itu!"
"Huhu ..."
Clara menangis sepanjang hari, ini adalah pertama kali dalam hidupnya dia dalam masalah besar, dan jika Ibunya tahu mengenai ini maka dia akan dihukum dengan sangat berat.