
"Ya, tentu saja, Jerrol. Aku tidak akan mengecoh kan apapun juga. Namun sebelum kita lanjutkan pekerjaan, di mana Erlan berada? Bukankah yang aku tahu kalau dia pergi dengan Bos Agra dan Emma? Apa hanya Emma yang ikut bersama mereka?"
"Siapa yang bilang? Erlan saat ini sedang pergi honeymoon, itulah yang aku tahu," sahut Jerrol dengan santainya. "Namun, ini belum waktu yang tepat untuk menceritakan tentang keinginan Erlan yang pergi untuk mendaki. Biarkan tunggu beberapa saat lagi," batinnya.
"Apa katamu? Honeymoon?! Yang benar saja, Jerrol? Mungkin kau salah mendengarnya." Alice merasa sangat terkejut, terlebih ia teringat kalau semalam Erlan berpamitan tidak untuk pergi bulan madu.
"Tentu saja tidak, Alice. Aku tahu hal itu dari Papa Agra. Meskipun Erlan tidak langsung memberitahukan diriku, tapi bagaimana mungkin papanya membohongiku? Memangnya kenapa denganmu? Kau merasa cemburu?"
"Tidak, tapi sudahlah aku merasa malas untuk melanjutkan pekerjaan ini. Aku akan datang setelah jam makan siang." Alice segera meninggalkan Jerrol dalam kebingungan.
"Aneh sekali. Ada apa dengan mereka semua? Sampai-sampai tugas mereka dilimpahkan kepada diriku. Memangnya aku ini babunya. Biarkan pekerjaan ini tertinggal di sini, dan lihat saja pasti Papa Agra akan sangat marah," ketus Jerrol.
Membuat Alice segera bergegas masuk ke dalam ruangan pribadinya, dan menumpahkan semua kekesalannya itu. Ia merasa sangat kesal setelah mendengar kebohongan di hari kedua setelah menjadi kekasih Erlan.
"Kurang ajar! Apa Erlan sengaja melakukannya padaku? Atau mungkin wanita itu sendiri yang berusaha membuat Erlan tidak berkata jujur? Tapi, sebaiknya aku harus segera pastikan hal ini dengan Emma. Dia mungkin tahu yang sebenarnya."
Segera menghubungi adik kandung Erlan, panggilan pun terjawab dengan cepat. "Halo, Emma. Kau ada di mana?"
"Aku sedang belanja, Kak Alice. Ada apa? Apa jangan-jangan kau ingin mengajakku berpesta malam ini," sahut Emma dari ponselnya dengan sangat gembira.
"Tidak ada pesta ataupun diskon. Katakan padaku, Emma. Katakan di mana Erlan sekarang?" Terdengar suara Alice yang begitu terburu-buru sekali.
"Kak Erlan dan Kak Yoona sedang pergi honeymoon. Apa kau tidak tahu hal ini, Kak Alice? Bahkan Papa Agra sendiri yang memberikan tiket pesawat untuk mereka. Sebetulnya papa ingin agar Kak Erlan membawa pesawat pribadi, tapi karena sedang ada banyak pekerjaan di luar kota. Jadinya tidak bisa. Tunggu dulu. Kenapa kau terdengar begitu kesal sekali?"
"Oh, baiklah atas pemberitahuannya, Emma." Alice segera mematikan ponselnya sebelah pihak. Ia benar-benar merasa seperti sedang diperdaya. Berbeda dengan Emma yang tidak mengerti dengan sikap Alice, namun gadis itu tidak ingin mengambil hati.
"Sial! Bahkan aku tidak tahu ke mana Erlan pergi honeymoon. Mudah sekali dia menipuku, lalu pergi dengan istrinya itu. Padahal semalam dia baru saja mengatakan cinta untukku. Dasar wanita kurang ajar!"
Alice semakin tidak terkendali, ia berteriak. Namun sedetik kemudian, ia tersadar bahwa posisinya sedang berada di kantor.
"Sudahlah, percuma saja aku marah-marah di sini, dan tidak akan menyelesaikan masalah apapun. Lebih baik malam ini aku mengajak Malvin berpesta. Dia mungkin bisa menjadi teman hiburan untukku. Daripada aku bosan dan kesal seharian, lebih baik bersenang-senang dan mengumpulkan energi untuk bisa memarahi wanita itu nanti," gumam Alice dengan tekadnya.
***
Berbeda dengan Erlan dan Yoona, mereka sudah mulai memasuki sebuah hutan. Tanpa keduanya sadari kalau saat itu perjalanan mereka telah diperdaya oleh Tante Rega. Terlebih tidak ada tempat lain setelah menempuh hutan tersebut, bahkan sebelumnya belum pernah ada yang memasuki hutan itu. Namun, Tante Rega berusaha membuat alasan.
Keputusan yang buruk dan tidak berpikir panjang, membuat Erlan tidak menyadari bahwa bahaya sedang mengintai mereka berdua. Sebelum memasuki hutan yang semakin jauh, Erlan merasa jika dirinya sedang diikuti oleh orang lain. Namun, tidak dengan Yoona yang sama sekali tidak mendengar apapun.
Langkah kakinya berhenti, begitupun Erlan segera menggenggam erat tangan Yoona untuk tidak kembali melangkah. Terlihat cukup membingungkan, ingin segera Yoona bertanya, tetapi tiba-tiba saja Erlan menutup mulut Yoona dengan tangannya.
"Jangan bicara, Yoona. Aku seperti mendengar ada langkah kaki lain yang sedang mengikuti kita. Tetap berdiri di dekatku, aku ingin memastikannya dulu," bisik Erlan dengan sangat pelan.
"Kau terus peluk saja aku, Yoona. Pastikan agar kau bisa melihat gerakan aneh dari pohon-pohon itu," lanjut Erlan.
"Pasti, Mas Erlan."
Hampir lima menit lamanya, mereka hanya berdiri di tempat yang sama. Keduanya berusaha waspada, namun sepertinya tidak ada yang aneh. Tepat ketika Erlan ingin melangkah pergi, tiba-tiba saja sebuah senjata tajam terjatuh di hadapan kakinya. Untungnya sedikit lagi tidak tertusuk.
Rasa takut dan terkejut membuat detak jantung Erlan tidak menentu. Ia merasa cemas, namun segera membalas pelukan Emma.
"Berhati-hatilah, Emma. Sepertinya memang ada bahaya di sekitar kita. Ada yang sepertinya ingin membunuh kita di sini. Kau harus mengikuti setiap langkahku, tanpa melepaskan tanganku ini, ya,"
bisik Erlan untuk sekali lagi.
Emma hanya menjawab dengan anggukan kecil, tetapi air matanya perlahan terjatuh karena rasa takut yang terlalu besar.
"Lindungi kami, Tuhan. Biarkan aku membantu suamiku," batin Yoona.
Langkah demi langkah, Erlan pastikan agar tidak menimbulkan suara. Ia berusaha berjalan melalui semak-semak demi bisa mengacaukan penglihatan para pengintai. Begitu membuat Erlan waspada, terlebih ia sudah pernah berada di tempat bahaya karena persaingan bisnis yang cukup kejam.
Erlan terus mencari pusat bahaya, namun tidak kembali menghentikan langkahnya. Posisinya di dalam semak-semak dapat membuatnya jauh lebih mudah melihat ke arah para pengintai yang sedang berusaha mencari keberadaan Erlan dan Yoona, setelah kehilangan jejak.
Terlihat empat orang dengan masing-masing membawa senjata tajam. Erlan segera mengeluarkan pistolnya yang sudah di siapkan sejak awal. Mencari kesempatan untuk bisa membalas, namun justru wajah Yoona tiba-tiba semakin mendekat.
Menatap istrinya dengan begitu dekat, tetapi rasa takut yang sangat terlihat. Meskipun sudah pernah bertatap seperti itu, tetapi entah mengapa hari ini, ia melihat ada perbedaan di mata Yoona.
Wajah Yoona yang lugu membuat Erlan mengingat dengan semua kekejaman buruk yang sudah ia berikan, tanpa ada bukti yang kuat. Namun, wanita itu masih membela untuk menemaninya.
"Aku telah membawa Yoona ke dalam bahaya, tapi tidak akan mungkin aku membiarkan dia menerima bahaya itu sekarang," batin Erlan.
Dengan cepat Erlan berdiri di depan Yoona, membuat istrinya terheran.
"Sekarang ambilkan satu senjata untukmu di tas belakangku, Yoona. Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu," pinta Erlan dengan terus berbisik.
"Tapi, Mas-"
"Cepatlah, Yoona. Kau ingin selamat, kan? Ayo ambil saja, dan lihat caraku menggunakannya," paksa Erlan.
Untuk kali pertamanya, Yoona memegang sebuah senjata api. Perlahan tangannya bergetar, tetapi ia berusaha yakin bisa melakukannya.
"Demi hidupku dan keselamatan suamiku. Meskipun aku harus membantunya dengan tetesan darah penghabisan," batin Yoona dengan tekad yang kuat setelah ia memejamkan matanya secara perlahan. Lalu menatap sebuah pistol di tangannya.