
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Di rumah yang sederhana nampak seorang wanita yang sedang duduk termenung di depan televisi, matanya mengarah ke televisi yang menyala tapi pikiran nya terbang kemana-mana.
Kini dia kembali menjadi pengacara alias pengangguran banyak acara, makan tidur rebahan hanya itu yang menjadi aktivitas nya saat ini, memiliki gerai roti yang ada di ujung sebrang jalan membuat wanita itu serasa menjadi bos besar, padahal gerai nya tidak jauh lebih besar dari rumah kontrakan nya dulu.
Bersmodal tabungan yang sedikit bengkak wanita itu memulai usaha kecil-kecilan nya, roti matre, nama roti yang di jual wanita itu, beruntung dia memperkerjakan orang-orang yang handal dalam bidang roti jadi dia selalu mendapatkan untung besar karna riti matre nya sangat laku keras apalagi letak gerai nya berpaspasan dengan sekolah SMA, dan mungkin 70 % dari pembeli roti matre itu adalah anak-anak sekolahan.
"Dian !!." teriak seorang ibu paruh baya yang sedang berbaring di kamar.
"Bentar." berjalan malas ke arah kamar seolah sudah memiliki pirasat buruk.
"Kamu yakin ngak mau kerja lagi di rumah gede itu?, sayang lo nak gajih nya gede." pertanyaan ke sekian kalinya yang di berikan ibunya.
Dian menghela nafasnya dan untuk kesekian kalinya dia mengelengkan kepala." Ngak, lagian Dian kan udah jadi bos bu." sombong Dian sambil duduk di tepi ranjang ibunya.
"Bodoh kamu, orang lain kerja gajih gede mau kamu yang baru punya garai roti matre aja sudah songong, so nolak." cibir bu Rita alias ibunya Dian.
Dian terdiam, tiga bulan yang lalu dia msmang mengundurkan diri dari pekerjaan yang gajih nya selangit itu, sebenarnya dia juga tidak mau mengambil pilihan berat ini, tapi dia harus melakukan ini dia tidak mau membohongi perasaan nya terus menerus yang masih mencintai Zex sedangkan Zex sendiri malah mencintai Hany teman nya.
Anggap saja Dian bodoh dan tidak memiliki pemikiran dewasa, tapi Dian juga manusia biasa, ada titik dimana dia harus memilih untuk kebaikan nya sendiri, dan inilah pilihan nya, dia tidak mau terus menerus menyimpan persaan yang salah itu, lagi pula untuk kehidupan nya dan untuk pengobatan ibunya Dian masih punya sedikit tabungan dan gerai roti matre ko pikirnya.
Memory di rumah besar, dan segala hal yang pernah dia lakukan bersama penghuni rumah besar biarlah menjadi sebuah kenangan untuk nya dimasa mendatang yang akan dia ceritakan pada anak cucu nya jika dia pernah merasakan kemewahan dan pernah juga menolak pria humble demi pria dingin yang tidak pernah menyukainya.
Hahah mengingat hal itu Dian ingin menertawakan kebodohan nya, dimana dia sekarang malah merindukan sosok yang selalu menganggu nya itu, tapi naasnya pria itu menjauhinya, pernah sekali mereka bertemu dan saat itu Rey mengandeng wanita cantik dan hal itu jelas saja mematahkan hati Dian yang baru bangun, "Sadarlah mereka orang kaya, sedangkan kamu hanya gadis miskin yang berjiwa matre, mana bisa di samakan dengan wanita kaya itu." motivasi Dian setiap harinya.
"Heh..diajak ngomong malah ngelamun, kesambet apaan sih nih anak." bu Rita mencubit lengan anak nya yang membuat Dian menjerit kesakitan cubitan kecil namun terasa sangat sakit itu berhasil membuat lengan nya memerah.
"Ihh ibu sakit, tau." mengerucutkan bibir nya kesal.
"Nak Fajar akan kesini, katanya nak Fajar sama ibunya udah pindahan kemarin sore." ucap bu Ralita.
"Lalu?." Dian berkata malas, masih ingat betul wajah menyebalkan si Fajar saat masih duduk di bangku sekolah dulu.
"*Maaf Dian, kamu terlalu baik untuk aku." ucap si curut Fajar dulu.
"Aku bisa ko jadi maling pulpen sehari biar kamu mau nerima aku." jawaban yang sangat memuaskan bukan?.
"Tapi kita masih sekolah."
"Gimana kalau kamu nerimanya pas waktu pulang sekolah, kebon pak Rt bagus tuh mana banyak buahnya, sekalian ngerujak."
"Dian aku serius, sebenarnya aku udah punya pacar, namanya wati dia teman sekelas kamu..maaf ya."
" sebenarnya aku juga ngak suka kamu kambing." tertawa garing ples merasa tersakiti*.
" Kamu bawa jalan-jalan nak Fajar, kasihan dia belum tau kota ini." ucap bu Rita lagi.
"Hah !! ibu serius? ngak mau ahk, si curut itu nanti nyebelin kaya dulu, mending aku rebahan santuy di rumah dari pada jalan sama anak curut itu." ucap Dian sambil berjalan ke luar dengan hentakan kaki, tanpa memperdulikan ibunya yang mengopel di dalam kamar.
"Usia kamu sudah 24 tahun !! ibu malu temen-temen kamu udah pada nikah semua, ngak ada sejarah anak kampung nikah ketuan." teriak bu Rita di dalam kamar yang hanya masuk kedalam kuping kiri keluar kuping kanan.
"Bodo amat, mending jomlo dari pada harus nikah sama si curut, mana bau kambing ih ngak mau." sungut Dian kesal.
"Bentar." teriak Dian yang masih kesal sambil berjalan ke arah pintu depan.
Ceklek..
"Maaf ngak nerima seles panci mas." Dian kembali menutup pintu tanpa melihat wajah si pria yang berdiri membelakanginya.
tok..tok..tok..
Dian menghela nafas nya kesal." Mas ini ngak punya telinga ya, saya bilang ngak nerima alias ngak beli panci, masih aja berdiri di depan pintu." sungut Dian di ambang pintu dengan kepala yang keluar sedikit.
"Hy." ucap pria itu.
Dian melirik lalu membuka perlahan pintunya sampai terbuka semua, sosok pria di depan nya sangat asing, dan dia tidak tau siapa pria itu. " Mas mau jualan panci? atau jualan kasur? saran saya aja ya mas, di rumah saya tuh kamar nya cuman 3 dan tiga-tiganya juga udah ada kasur, terus di dapur juga banyak panci malahan belum kepake semua." tutur Dian panjamg kali lebar.
"Aku bukan seles Dian, lama tidak bertemu kamu tambah bawel ya Dian." ucap pria itu.
"Hah!! kamu siapa? ko tau namaku? jangan-jangan kamu tukang hipnotis." tuduh Dian sambil menunduk setau nya cara menghipnotis orang itu adalah menatap matanya, maka dari itu Dian harus menunduk agar tidak menjadi salah satu korban hipnotis.
"Hahha.. astaga lihat Hey, aku Fajar.. pria yang kamu suka dulu." ucap pria itu sambil tertawa karna sikap Dian dari dulu tidak berubah, tomboy dan bermulut berisik.
"Fajar si curut? kambing?." tanya Dian dan pria itu langsung mengangguk.
"Ayo jalan-jalan, calon istri." ucap Fajar.
"Hah !! calon istri? ngak ya ngak mau." ucap Dian dengan wajah yang melotot.
"Kenapa? bukan nya kata ibu kamu..kamu jomlo?." tutur Fajar.
Dian mendelik tajam." Enak aja, aku bukan jomlo ya, aku udah punya pacar.. dia lebih ganteng dari kamu." ucap Dian sombong.
"Mana buktinya? coba aku mau liat kamu nelpon dia." ucap Fajar lagi.
Oke, siapa takut." ucap Dian masih mode sombong. "Mati aku, sekarang harus nelpon siapa? kang sayur atau kang bubur? huh menyebalkan." batin Dian.
Tut..tut..
Maaf panggilan yang ada tuju sedang tidak aktif mohon tunggu beberapa saat lagi.
"Tuhkan, kamu pasti bohong..udah ayo kita jalan ibu ku udah ngak sabar mau ketemu kamu." ucap Fajar sambil tersenyum kemenagan.
Dian mengerutu. "mati aku, yang aku telpon tuan Rey lagi, gimana kalo pacarnya yang montok itu marah lagi." batin Dian yang takut karna tadi saat dia memencet sambungan telpon nama kontak yang dia pilih adalah Rey.
" Aku belum mandi." ucap Dian segera berlari masuk kedalam kamar mengunci dirinya, sedangkan Fajar pria itu malah berdiri diambang pintu karna Dian tidak menyuruhnya masuk.
"Kenapa Dian lebih cantik dari dulu, huh kalo tau besarnya cantik kaya gini..mungkin aku udah dari dulu macarin Dian." batin Fajar sambil tersenyum.
____________
🌹🌹🌹🌹🌹
Banyak yang nanyain Dian, nih aku kasih part tentang Dian.
Btw ini adalah kehidupan Dian di rumah nya ya, jadi sikap nya Dian di rumah sama di tempat kerja beda nya jauh ya, Aouthor ngak akan ngilangin jiwa matrenya Dian.