
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Roda berputar kadang di atas kadang di bawah, dan sekarang Alena mungkin sedang di posisi keduanya, di satu sisi dia kini sudah menjadi istri si tuan muda kaya, tapi di satu sisi juga Alena tidak di perlakukan layak nya istri, ya mungkin bukan istri tapi lebih tepat nya pembantu atau budak.
Semua pekerjaan rumah yang tidak pernah Alena kerjakan sebelumnya harus dia lakukan, dia bisa menolak bahkan membantah tapi setiap dia melakukan penolakan Arka si tuan muda pasti punya cara untuk membuat Alena terdiam dan memilih mengalah. "Aku akan menceraikan mu, dan setelah itu kamu akan jadi gelandangan." begitulah ancaman yang selalu di layangkan si tuan muda.
Motipasinya hanya satu yaitu, "Ingat orang tuamu, balaskan rasa sakit yang telah mereka berikan padamu dan keluargamu." ya dendam itu masih membuncah di relung hatinya, Alena tidak akan pernah melupakan setiap orang yang tertawa di atas penderitaan nya itu.
"Alena !! mana makanan nya." teriak Arka mengema di ruangan meja makan.
Dengan kecepatan kilat Alena berjalan rusuh dengan membawa mangkuk berisi sayur dan beberapa piring makanan yang dia buat tadi, dengan bantuan vidio youtube yang dia tonton sebelumnya Alena bisa memasak beberapa menu. "Ini sudah jadi, tuan." ucap Alena sambil menaruh beberapa mangkuk dan piring yang berisi makanan yang di masak nya tadi.
Arka menoleh makanan yang sudah tersaji di atas meja itu, lalu beralih melihat Alena yang memakai pakaian pelayan dengan celemek yang menempel tepat di bagian depan tubuhnya yang menutupi sebagian depan nya saja, rambut di ikat asal dan dia menyukai penampilan Alena yang nampak menyedihkan seperti itu.
"jebakan makan tuan, bodoh." batin Arka ingin sekali menertawakan nasib gadis malang yang sedang melayani nya, setidak nya jika ingin menjebak nya Alena harus nya tau asal usul nya terlebih dahulu, tapi gadis itu terlalu ceroboh dan bersikap seenaknya sehingga membuat dia sendiri yang susah, begitulah arti pandangan Arka pada Alena.
"Silahkan di makan, tuan." ucap Alena seraya menaruh segelas air putih di samping piring yang berisi nasi.
"Ambilkan sayur nya, ikan, perkedel kentang dan sambal goreng ati." perintah Arka yang diangguki cepat oleh Alena.
"Tumben makan nya banyak." batin Alena heran.
"Tambahkan lagi nasi nya." Arka kembali berucap yang berisi perintah.
Setelah piring nya nampak penuh dengan nasi dan lauk pauk, Arka langsung memegang sendok dan garpuh, membelah sedikit perkedel kentang lalu memasukan ke dalam mulutnya. "Terlalu banyak minyak." coment pertama Arka yang hanya diangguki kecil oleh Alena.
"Mungkin lain kali aku harus memasak perkedel nya dengan air saja, biar tidak ada banyak minyak yang menempel." Alena menjawab dalam batin nya.
Sekarang beralih pada sup ayam yang potongan ayam nya tidak rapih. " Asin, pemotongan daging ayam dan wortelnya tidak sama." coment kedua dari si tuan muda.
"Aku bahkan merelakan satu jari ku tersayat pisau hanya untuk memotong wortel itu, sakit tau." gerutuan mulai di layangkan di dalam hati Alena.
"Jangan salahkan aku, salahkan saja di dirimu, aku lupa mengangkatnya karna kamu meminta kopi." batin Alena kembali menjawab.
Dan untuk yang terakhir Arka kembali berkomentar. "Rasa nya manis, kamu bisa masak atau tidak." kali ini yang keluar bukan lah coment an melainkan kata-kata pedas.
Alena menghela nafasnya, seminggu sudah dia tinggal di rumah ini dan tentunya bukan menjadi nyonya Arka melainkan pembantu, setiap hari dia melalukan pekerjaan layaknya pembantu rumah tangga, untuk hari pertama Alena mungkin selalu mengeluh tapi untuk hari ke tiga dan sampai sekarang dia mencoba lebih rileks dan sabar menghadapi sikap si tuan muda yang kejam dan pedas itu.
Hampir tiap hari Arka memaki bahkan menghina nya, tapi meski begitu Alena tidak pernah menghiraukan setiap ucapan Arka yang selalu menyakiti batin nya, ya Arka memang tidak pernah menyakiri fisik nya hanya saja ucapan Arka selalu pedas dan menusuk.
"Kemarin katanya banyakin gula, sekarang udah pakai gula banyak masih di coment." untuk coment an yang terakhir ini Alena tidak mau diam saja, dia tidak mau di salahkan terus menerus.
"Tapi tidak semanis ini bodoh, dasar tidak berguna." ucap Arka dengan sinis, sebenarnya dia malas berdebat dengan Alena si gadis yang tidak pernah takut jika di kata-katai pedas oleh nya, bahkan kemarin Arka hampir hilang kendali saat melihat pakaian nya yang banyak bolong nya, Alena yang tidak bisa menyetrika itu membuat beberapa pakaian nya menjadi bolong.
"Habiskan makanan ini, aku tidak mau nanti setelah aku pulang makanan sampah ini masih mengotori meja makan ku." ucap Arka sambil beranjak berdiri lalu berjalan ke arah pintu.
Alena mengepalkan tangan nya, susah payah dia bangun pagi-pagi hanya untuk memasak, tapi apa yang dia dapatkan bahkan makanan nya pun sama sekali tidak di makan, malah cacian dan hinanaan yang dia dapatkan, "Dasar pria tidak tau diuntung, udah di masakan malah bilang ngak enak." batin Alena sambil mengerutu.
Makanan yang dia buat dengan susah payah itu terpaksa dia makan sendiri, jangan di tanyakan lagi rasanya, jelas-jelas dia baru rajin kedapur selama seminggu ini, sebelumnya mana pernah Alena berlama-lama di dapur, hidup memang penuh lika liku tapi dengan adanya lika liku ini Alena jadi tau bagaimana lelah nya memasak, dan tidak di hargai.
"Emm asin." ucap Alena yang sedang memakan sayur buatan nya. " Pantes ngak dimakan, benar kata si tuan muda gila itu, makanan nya tidak layak dimakan, terlalu buruk." ucap Alena sambil memuntahkan makanan yang ada di dalam mulutnya.
Ternyata memasak itu tidak semudah yang dia bayangkan, berulang kali dia menonton vidio memasak ala cheff terkenal di youtube tapi entah kenapa ilmu-ilmu yang dia lihat di aplikasi merah itu tidak ada satupun yang menempel di otaknya maupun di tangan nya.
"Aku merindukan masakan mamah." gumam Alena sambil tersenyum miris.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
Alena wanita tangguh ya kak😅