
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Beberapa bulan berlalu, kehamilan Alena semakin besar, hanya butuh waktu beberapa hari lagi anak keduanya akan lahir ke dunia.
Meski kehamilan nya sedikit bermasalah tapi Alena masih tetap keras kepala memilih untuk tetap mempertahankan kan nya, padahal dokter sudah mengatakan jika kehamilan Alena sangat lemah.
"Bagaimana dokter? apa ada kemungkinan untuk melahirkan secara normal?." tanya Arka pada dokter.
Alena menginginkan lahiran secara normal, tapi semua itu kembali pada kesehatan nya, dan Arka hanya mau yang terbaik untuk istri nya.
"Maaf tuan, nona muda akan melahirkan dengan oprasi sesar, kandungan nya yang lemah bisa membahayakan kondisi keduanya, kami para dokter menakutkan akan ada nya pendarahan besar-besaran jika nona tetap meminta lahiran secara normal." ujar sang dokter panjang kali lebar.
Arka menghela nafasnya, lalu keluar dari ruangan dokter.
Dia berjalan mendekati ruangan VIP yang di tempati sang istri, dimana di sana terdapat Bian yang sedang tertidur di ranjang istrinya.
"Gimana?, bisa?." tanya Alena menatap sosok suaminya yang baru masuk kedalam kamar inap nya.
Lahiran nya butuh waktu beberapa hari lagi, tapi karena kondisi Alena yang lemah membuat dia mau tak mau harus menginap lama di rumah sakit.
Arka tersenyum, lalu menggeleng.
tangan nya memegang tangan sang istri, memberikan keyakinan jika semuanya akan baik-baik saja, meski dia juga masih takut akan terjadi hal yang tidak di inginkan.
Nana yang ada di pojokan merasa cangung sendiri, dia pun memilih keluar ruangan terlebih dahulu, membiarkan majikan nya untuk membicarakan masalah serius ini.
"Kamu harus melahirkan secara oprasi, dokter bilang kandungan masih lemah." kata Arka lembut, lalu mencium pungung tangan istrinya.
Dia tidak mengatakan banyak hal yang bisa saja terjadi, sekarang bukan waktu membicarakan masalah yang akan membuat istrinya ketakutan, tapi sekarang adalah waktu untuk membuat istrinya merasa memiliki semangat yang lebih besar dari sebelumnya.
Alena terdiam, dia sudah menduga jika dia akan melahirkan dengan oprasi sesar.
"Tidak apa sayang, apapun itu yang penting aku bisa melahirkan bayi kita." ucap Alena pelan.
Nampak Bian yang mengeliat manja saat mendengar suara obrolan orang tuanya, namun hal itu tidak membuat bocah Lima tahun itu bangun dari tidurnya.
"Kamu kuat, aku yakin kamu pasti bisa sayang." ujar Arka sambil mengusap pelan pipi sang istri.
Hamilnya Alena yang kedua memang cukup banyak kendali, selain mood yang mudah down Alena juga sering merasakan sakit di perutnya, bahkan bayi nya engan memperlihatkan jenis kelamin nya, calon bayi nya sangat pemalu.
Sedangkan di tempat lain tepat nya di ruangan VIP lain nya nampak Nana yang sedang duduk menghadap sosok Mama nya, wanita yang sudah bertahun-tahun lamanya tertidur pulas dalam mimpinya.
"Mama." panggil Nana dengan lirih.
Hening tak ada jawaban, membuat Nana tersenyum, dia tidak akan pantang semangat untuk menunggu Mama nya bangun, Nana yakin suatu saat Mama nya akan bangun dan kembali menjalani hidup bersamanya, berdua.
Sudah beberapa bulan ini Nana sering mengunjungi Mama nya, bahkan setiap waktu luang Nana selalu meminta ijin pada majikan nya untuk bisa menjenguk Mama nya di rumah sakit.
"Ma, bangun dong Ma, Mama ngak kangen emang sama Nana?, Mama tau ngak aku sudah besar Ma, kku sudah dua puluh satu tahun Ma." ucap Nana lagi sambil memegang lengan sang Mama.
Meski ucapan nya tidak di jawab oleh sang Mama tapi Nana yakin jika Mama nya mendengarkan semua ucapan nya, hanya saja mungkin Mama nya belum mau bangun dari tidur panjang nya.
"Kalau Mama bangun Aku tidak akan membiarkan Mama tersakiti lagi, Mama akan aman bersamaku, dan tidak akan merasakan sakit di khianati lagi seperti apa yang di lakukan Papa pada Mama dulu." Nana berucap sambil terisak.
Nana masih engan bertemu Papa nya, dia membenci Papa nya di setiap hela nafasnya, pria yang dia anggap seorang ayah? suami yang baik? panutan nya ternyata tidak lebih baik dari seorang penipu.
Calon adiknya meninggal di tangan Papa nya sendiri, hanya untuk melindungi selingkuhan nya Papa nya tega membuat Mama nya koma seperti ini, apa masih pantas untuk Papa Anton dia anggap sebagai Papa nya?.
Ceklek..
Pintu terbuka memperlihatkan sosok dokter, dan beberapa suster.
hal itu membuat Nana replek berdiri.
"Ada apa dok?." tanya Nana heran melihat dokter membawa dua orang perawat, tidak seperti biasanya, karena biasanya dokter hanya datang untuk memeriksa Mamanya sebentar lalu keluar lagi, sedangkan suster hanya datang untuk mengurus Mama nya, seperti mengelap tubuh Mama nya dan menganti pakaian Mama nya.
"Tuan Anton menyuruh kami untuk mencabut semua alat medis yang menempel di tubuh Nyonya." ucap dokter.
Nana melotot, kenapa tiba-tiba Papa nya memutuskan masalah besar ini sendiri tanpa meminta persetujuan nya?, apa Papa nya ingin menutup semua bukti yang sudah jelas di depan mata?.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan kalian membunuh Mama ku." tegas Nana langsung memeluk tubuh sang Mama.
"Tenang Ma, aku tidak akan membuat Mama pergi dari pelukan ku lagi, Mama akan selamanya menemaniku." ucap Nana lirih.
Dokter saling berpandangan dengan para suster, mereka menjadi bingung sendiri, tapi surat sudah di tandatangani dan pasien nya sudah menghabiskan waktu yang sangat lama di rumah sakit, para tim medis jelas tau apa yang terbaik untuk pasien nya.
"Nana." panggil seseorang di ambang pintu.
"Papa, jangan biarkan mereka membunuh Mama, Aku tidak mau kehilangan Mama lagi Pa." ucap Nana berjalan mendekati sang Papa.
Papa Anton memeluk tubuh putrinya dengan kasih sayang, penyesalan nya akan terus menghantuinya selama dia hidup kerena telah berbuat kejam pada istri dan anaknya, tapi dengan membiarkan istrinya tertahan lebih lama lagi itu sama saja menyakiti istrinya, dia harus menghentikan semua obsesi nya untuk kehidupan istrinya.
"Ini yang terbaik Nana, kasian Mama mu tertahan selama empat tahun ini, dia menderita Na, kau tau Mama mu masih bisa hidup sampai detik ini hanya karena alat bantu itu, tanpa alat itu Mama pasti sudah_____." ucap Papa Anton terhenti karena Nana menyela.
"Tidak Pa, jangan katakan itu, Mama akan sembuh, Mama akan kembali sehat seperti semula, jangan bunuh Mama tolong Pa, jangan." ucap Nana sambil terisak.
Air mata Nana membuat dokter tertegun, mereka sering mendengarkan Nana yang selalu menangis meminta pasien nya untuk segera bangun dari mimpi indahnya, tapi mereka juga tau kalau itu tidak mungkin karena seharusnya dari empat tahun yang lalu juga pasien nya itu sudah memiliki harapan yang sangat minim.
"Ini yang terbaik Na, Mama mu mu harus kita lepaskan, Papa tau ini berat tapi Mama mu akan semakin tersiksa jika terus hidup mengandalkan alat itu, Papa mau menghentikan semua rasa sakitnya sayang, Papa mohon kamu harus ikhlas kan Mama mu." ucap Papa Anton sambil memeluk Nana.
Papa Anton memberikan kode pada dokter, dan dengan cepat dokter dan suster langsung bertindak, mereka melakukan tugasnya, perlahan melepaskan alat medis yang menempel di tubuh pasien nya, dan tak lama kemudian Mama Nana pun langsung tidak bernyawa lagi.
Nana melepaskan pelukan nya sambil terisak, "Tidak, apa yang Papa lakukan, hiks.. Papa.. Hiks.. Mama." Nana berlari ke tubuh Mama nya, di pegang nya tangan Mama nya, dan Nana merasakan jika tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di tubuh Mama nya.
Mata nya menatap tajam ke arah sosok Papa nya, Nana mengepalkan tangan nya lalu mengusap air matanya.
"Pembunuh, hiks.. kamu pembunuh, aku akan melaporkan semuanya hikss.. dan..."
Brukkk..
Nana pingsan setelah mengatakan hal itu.
_________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak, ♥️