Istri Cantik Tuan Muda Kejam

Istri Cantik Tuan Muda Kejam
S2. Arfansya Ammar Raid.


^^H A P P Y R E A D I N G^^


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Suasana di dalam ruang bersalin nampak sangat tegang, tak henti-henti nya Arka menghujani wajah istri dengan ciuman.


"Kamu pasti bisa sayang." kata Arka sambil memegang tangan sang istri yang kini sedang menahan sakit.


"Cium aku lagi, ciuman mu penyemangat ku." kata Alena dengan wajah yang menahan sakit.


Arka langsung memberikan ciuman lagi, membuat dokter dan suster yang ikut andil dalam proses operasi nya merasa kikuk karena melihat keromantisan yang di lakukan pasangan pasutri itu.


Wajah Alena di basahi keringat, membuat Arka mengelapnya dengan tisue.


dan tak lama kemudian Alena mendapatkan obat bius karena operasi nya akan segara di mulai.


Di luar ruangan nampak Bian yang sedang menunggu bersama Opa Oma nya, wajah Bian yang cemberut membuat Rafa merasa penasaran dengan penyebab wajah kusut cucu kesayangan nya.


"Kenapa lagi, apa buku nya tidak seru?." tanya Rafa pada sang cucu.


Bian menoleh sambil menghela nafas panjang, "Aku merindukan Nanny, Om Rian bilang Nanny sedang butuh waktu sendiri." kata Bian dengan wajah cemberut nya.


"Opa, bukan nya sendiri itu tidak enak? tidak punya teman?, itu tidak menyenangkan bukan?." tanya Bian sambil menatap manik Oma Opa nya bergantian.


Rafa dan Ririn saling melirik satu sama lain, jelas mereka tau penyebab Nana berhenti bekerja, mereka juga memaklumi alasan Nana, apalagi setelah mengetahui jika Nana bukanlah gadis biasa melainkan gadis yang berasal dari keluarga terpandang.


"Jangan sedih, Nanny Pasti akan kembali, tapi bentar lagi Bian kan akan punya teman baru, mending sekarang Bian berdoa sama Tuhan agar Mama dan Adik Bian bisa selamat melewati Operasi nya." kata Ririn mencoba menghibur cucunya.


Bian masih cemberut.


"Oma apa Nanny marah karena aku nakal? Nanny marah karena aku jahil dengan nya dan Om Rian?." Bian kembali berceloteh lagi, membuat Ririn dan Rafa kebingungan harus menjawab apa, terkadang pertanyaan cucunya memang tidak bisa seperti anak kecil yang mudah di bohongi.


"Oma jawab." Bian menatap Oma nya.


Huh..


Ririn menarik nafasnya, lalu menatap cucu nya.


"Nanny sedang sedih sayang dan Nanny butuh waktu sendiri dulu, satu hal lagi Bian ngak nakal, setiap anak kecil pasti selalu bertingkah aktif, dan Bian cucu Oma sangat aktif dalam bermain." Ririn berucap dengan lembut membuat Rafa kagum karena kelembutan sang istri.


"Aku benar-benar beruntung bisa menikahinya, bukan hanya cantik tapi istriku adalah wanita yang penuh kelembutan yang pernah aku cintai." batin Rafa kagum.


Jam terus berjalan, Arka yang ikut menyaksikan lahirnya anak keduanya tak henti-henti nya berdoa untuk keselamatan istri dan calon anak keduanya.


Sampai terdengar suara tangisan bayi, membuat Arka langsung menoleh ke arah suster yang sedang menggendong bayi merah.


Eakkkk..eakkk... (Anggap aja suara bayi, bukan suara om Tukul Arwana ๐Ÿ˜œ)


Alena masih belum sadarkan diri, perlahan Arka melepaskan tautan tangan nya, dokter memberikan instruksi untuk nya meninggalkan Alena takutnya Arka akan syok saat melihat perut Alena yang masih belum di jahit.


Padahal Arka jelas sudah pernah melihatnya, tapi hal ini beda dari biasanya, dia merasa ngeri saat melihat perut istrinya yang di sayat sampai beberapa lapisan.


Setelah Arka keluar dia mendapatkan tatapan penasaran dari Daddy Mommy nya, sedangkan Bian bocah itu malah asyik membaca buku.


"Bagaimana kondisi istri mu Arka?." tanya Rafa pada sang putra.


Arka duduk di sebelah putranya Bian.


"Kondisinya masih lemah, dokter masih harus menjahit bekas operasinya." sahut Arka.


"Apa jenis kelaminnya?, perempuan? atau laki-laki?." tanya Ririn kepo.


"Bayi nya masih di mandikan suster, aku belum tau jenis kelamin nya." kata Arka, tadi di dalam dia merasa ngeri saat melihat perut istrinya yang terbuka.


Meski pernah bergelut di dunia hitam tapi jika melihat perut istri sendiri yang tersayat jelas rasanya beda.


Tiba-tiba pintu terbuka membuat Arka dan yang lain nya langsung melihat ke arah pintu, dan terlihat lah seorang dokter wanita di ambang pintu.


"Bagaimana dokter?." tanya Arka sambil berdiri dan berjalan mendekati dokter.


"Selamat tuan muda istri anda melahirkan bayi laki-laki, dia sangat tampan seperti anda." kata si dokter wanita sambil tersenyum.


Rafa dan Mommy Ririn tersenyum mengetahui cucu keduanya adalah laki-laki.


"Bian akan punya teman." kata Daddy Rafa.


Ririn mengangguk, "Semoga cucu kedua kita bisa menjadi sosok yang pemberani dan juga bertanggung jawab." Mommy Ririn berkata bijak.


"Lalu bagaimana dengan kondisi istri ku?." tanya Arka lagi.


"Kondisi Nona Alena masih tuan muda, jika sudah di pindahkan anda bisa menjenguk istri anda, tuan muda." kata si dokter, membuat Arka bisa menghela nafasnya tenang.


"Terimakasih dokter." ujar Arka sambil tersenyum, membuat si dokter gugup baru pertama kali nya mendapatkan senyuman manis dari anak pemilik rumah sakit tempat bekerja nya.


Setelah Alena dan bayi nya di pindahkan ke ruangan VIP Arka langsung menggendong bayi nya, dia akan mengadzani bayi nya.


Di tatap bayi tampan yang ada di dalam gendongan nya, wajahnya sangat dominan dengan Alena, bulat dan rambutnya yang hitam lebat.


Tangan Arka terulur untuk mengusap kepala putranya, tapi belum juga satu detik bayi malah mengeliat dan..


Eakkkk...


Bayi nya menangis kencang Membuat Arka langsung kaget, dan menoleh ke arah ranjang dimana sosok Alena nampak bersedikap dada menatap tajam ke arah nya.


"Hehe..Maaf sayang." ucap Arka kikuk.


Huh..


"Siniin aku mau kasih Asi dulu, bayi kita pasti haus." kata Alena.


Arka berjalan mendekati sang istri, di ruangan ini memang hanya ada dirinya dan sang istri, sedangkan Daddy Mommy nya sudah pulang karena Bian merengek meminta di antarkan ke rumah Nanny nya.


Alena mulai memberi Asi pada putra keduanya, membuat Arka yang melihatnya langsung tersenyum.


"Dia sama kaya Bian, nen*n nya gercep banget." kata Arka sambil duduk di kursi samping sang istri.


"Bukan hanya Bian bahkan kamu juga gitu." sungut Alena sebal, membuat Arka yang mendengarnya terkekeh geli.


"Aku kan juga bayi." ucap Arka sambil tersenyum manis.


Alena menatap sebal suaminya. "Aya bayi, bayi besar." kata Alena sambil tertawa.


Keduanya tertawa dengan bercandaan nya, tak bisa di pungkiri oleh Arka jika Alena adalah wanita hebat yang pernah dia kenal, Alena wanita yang pernah dia rendahkan karena menjual harga dirinya hanya untuk uang kini malah menjadi sosok istri sekaligus ibu yang baik untuk anak-anaknya.


"Terimakasih." kata Arka pelan tapi masih terdengar di telinga Alena.


"Jangan terimakasih terus, aku tidak memerlukan ucapan terimakasih mu, yang aku perlukan hanya satu yaitu tetap menjadi suami dan Papa yang terbaik untuk aku dan anak-anak kita, dan satu hal lagi." ucap Alena terhenti, membuat Arka penasaran.


"Jangan mencari wanita yang badan dan kecantikan nya melebihi ku, awas saja kalau kamu berulah dengan menduakan aku, atau tangan ini akan menampar semua permukaan wajah tampan mu." sambung Alena sambil menatap tajam suaminya.


Glekk..


Mana mungkin Arka mendua sedangkan tubuh wanita dua anak di depan nya saja begitu sangat memabukan untuk nya, tidak ada perbedaan dari istrinya, Alena tetap lah Alena wanita yang cemburuan, posesif dan juga galak.


"Aku akan setia padamu sayang, jangan khawatir aku tidak akan menduakan mu bahkan setelah Arfansya sudah bisa berjalan aku berniat untuk menambah momongan lagi, sepertinya kita harus menambah satu anggota keluarga yang cantik tiga lagi." kata Arka dengan senyuman mengembang di wajahnya.


"Arfansya?."


"Ya, nama nya Arfansya Ammar Raid, bagiamana apa kamu setuju?." tanya Arka.


Alena tersenyum sambil mengangguk.


"Nama yang bagus untuk bayi setampan Arfan." sahut Alena seraya tersenyum.


___________


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Terimakasih readers yang udah kasih nama awalan Arfanโ™ฅ๏ธ


Jangan lupa jejak, โ™ฅ๏ธ