
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Mentari pagi sudah menyapa di atas langit, perlahan Andrian membuka matanya saat mendapatkan aroma harum yang menganggu Indra penciuman nya.
Dia beranjak dari tempat tidur nya lalu berjalan keluar kamar, Andrian terdiam mematung saat melihat sosok yang sedang memasak di dapur minimalis nya.
Seketika bayangan nya teringat akan istrinya, dimana setiap pagi Lily selalu menyiapkan sarapan untuk nya, meski usianya masih kecil tapi Lily benar-benar menjadi istri idaman nya.
"Selamat pagi sayang, aku memasakkan nasi goreng untuk mu."
"Tuan." panggil Nana pelan.
Kaget Andrian di buatnya buru-buru dia berjalan masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian menjadi pakaian kantoran nya.
"Ada apa dengan nya?, apa dia mimpi buruk?." gumam nya.
Nana mengangkat bahunya tidak perduli melihat Andrian yang nampak kikuk, baginya itu tidak lah penting yang paling terpenting tadi malam dia tidak kedinginan tidur di jalanan.
#Flashback.
"Tuan saya mohon, hanya satu malam tidak lebih." ucap Nana lagi memelas.
Andrian tetap menggeleng, "Aku akan mengantarkan mu ke rumah tuan muda, Bian sudah menunggu Nanny nya." kata Andrian tegas.
Nana terdiam memikirkan siasat agar tidak di pulangkan, dia memiliki satu tugas lagi untuk di kerjakan, lagipula wajtu cuti nya masih ada batas nya Sampai besok.
"Anda tampan, baik dan tidak sombong tuan, kasihanilah saya yang miskin ini tuan, saya mohon hikkss..saya hikss." Nana memulai drama nya dengan air mata buaya nya.
Andrian menutup telinganya mendengar Isak tangis Nana. "Lain kali kalau menangis pastikan air matamu keluar, ekting mu sangat buruk." seru Andrian ketus.
Segera Nana mengedip-ngedipkan matanya berharap air matanya jatuh, namun nyata nya nihil air mata nya tak keluar sedikitpun membuat Nana mendesah pelan.
Huh..
"Air matanya sedang kering tuan, maaf." sahut Nana lagi.
Andrian tidak menjawab dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan cepat, berharap wanita di sampingnya akan menjerit mengatakan ingin keluar dari mobil, namun nihil nyatanya Nana nampak menikmati mobil yang melaju cepat.
"Lebih kencang tuan, ini menarik." kata Nana sambil tertawa kecil.
Setelah sampai di parkiran Andrian memarkirkan mobilnya, dia turun begitupun dengan Nana yang turun dengan tas gendong nya.
"Buang sandal mu, dan pakai ini." titah Andrian saat melihat sandal jepit yang di pakai Nana.
Nana melihat sepatu yang kebesaran itu, lalu melihat ke arah sandal jepitnya butut nya, "Terimakasih tuan, tapi ini kebesaran saya seperti menjadi badut." ucap Nana, sambil memakai sepatunya dengan langkah seperti pingwin.
Hal itu tentu saja di lihat oleh Andrian, tapi tidak ada pilihan lain dari pada Andrian di tertawakan oleh orang-orang yang melihatnya bersama wanita bersendal jepit, lebih baik dia memberikan sepatu cadangan nya untuk di pakai Nana, begitu pikir nya.
Keduanya berjalan masuk ke loby Apertemen, Nana menutup wajahnya sepanjang perjalanan, sampai di Lift Nana tak sengaja menabrak punggung Andrian.
"Kau bisa melihat tidak, dasar." sungut Andrian kesal.
Nana hanya menunduk dan hanya satu kata yang keluar dari bibir nya, "Maaf tuan." kata Nana pelan.
Andrian menarik nafasnya lalu berjalan kembali karna Lift sudah terbuka, dan sesampai nya di Apertemen nya Andrian langsung masuk di ikuti oleh Nana yang mengintil di belakang nya.
#Flashback Off.
Nana sudah selesai memasak, dia mengadahkan pandangan nya pada setiap juru Apertemen yang sudah nampak rapih karna di bersihkan oleh nya tadi.
"Sudah beres..hoam." Nana menguap lebar.
Tadi malam dia memang tidak tidur, sepanjang malam Nana berjaga di sopa, dia takut ada hal tidak di inginkan yang akan di lakukan oleh Asisten majikan nya, tapi pikiran nya terlalu kotor, dia malah membuang waktu nya untuk begadang yang membuatnya sekarang mengantuk berat.
Andrian keluar dari kamarnya dengan pakaian rapih nya, hening tak ada suara yang membuatnya heran. "Kemana wanita itu." gumam nya sambil berjalan.
Saat mendekati sofa Andrian terkisap melihat Nana yang sedang tertidur meringkuk seperti ulat, membuat tubuhnya nampak mungil dan itu mengingatkan kenangan nya bersama Lily, dimana Lily juga selalu tidur meringkuk seperti ulat.
Huhh..
Plakkk...
Dengan replek Nana menampar Andrian membuat pria di depan nya itu meringis.
"Apa yang kau lakukan, hah!." pekik Andrian sambil memegang pipinya yang terasa sakit.
Nana terdiam kikuk, dia pikir Andrian telah berbuat yang tidak-tidak padanya, dan menatap wajah Andrian membuat Nana sedikit takut.
Huhh..
Andrian menghela nafasnya kasar, "Cepat mandi, tidak kurang 10 menit." ucap Andrian berjalan ke arah meja makan.
"Tuan, mandi nya dimana?." tanya Nana.
Andrian melihat sekeliling nya, "Di kamar ku, tapi jika ada satu barang yang hilang kau akan aku habis di tangan ku." kata Andrian tegas, lalu mendaratkan bokong nya di kursi.
Dengan gerak cepat Nana berjalan ke arah kamar Andrian, lalu Nana keluar lagi. "Hati-hati, kopi nya masih panas tuan," teriak Nana, lalu masuk kedalam kamar dan menutup pintu.
Andrian terdiam mematung, baru saja dia akan meminum kopi nya, tapi hal yang membuat dia terdiam adalah kata-kata yang di katakan Nana sama persis dengan kata-kata yang selalu di ucapkan Lily padanya saat pagi hari.
"Sayang hati-hati, awas kopi nya masih panas."
Kenapa hari ini Andrian terus teringat akan mendiang istri nya, padahal hari-hari biasnya ia hanya akan merasa kesepian, tapi sekarang saat adanya Nana di Apertemen nya Andrian malah teringat kembali dengan almr sang istri lagi.
Di dalam kamar Nana yang sedang duduk di depan meja rias nampak aneh melihat banyak nya alat make up di meja rias, pikiran nya bercabang ke mana-mana, dan dia menyangka jika Andrian selalu memakai make up itu.
"Apa dia seorang Gy? apa dia banci?." gumam Nana sambil menyisir.
Tangan Nana terulur untuk mendekati meja rias, dia mengambil liptin berwarna merah muda yang nampak cantik, dan dia yakini harga nya pasti mahal.
"Woah, inikan liptin edisi terbatas, astaga apa tuan Rian memakai nya?." Nana mencoba membuka liptin itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan di kamarku, Hah!!." teriak Andrian.
Plukk.. (Anggap aja barang jatuh).
Liptin itu jatuh ke bawah meja rias, membuat Nana langsung berjongkok mencoba mencari liptin itu, bahkan Nana sampai masuk ke kolong meja rias.
"Keluar dari kamar ku." teriak Andrian marah.
Nana berusaha mengambil nya, dan dia berhasil mengambil nya.
"Maaf tuan, saya hanya memegang nya." ucap Nana, merasa tidak enak.
Bukan nya menjawab Andrian malah memberikan uang dua ratus ribu pada Nana.
membuat Nana keheranan.
"Maaf tuan, uang ini untuk apa?." tanya Nana tidak mengerti.
Andrian menatap tajam Nana. "Jangan pernah menyentuh barang istri ku, dan pergi dari Apertemen ku." ucapnya dengan penuh ketajaman.
Deg...
Nana memegang uang itu, lalu tersenyum menahan tangis. "Saya tidak butuh, maaf untuk hal yang tidak anda inginkan, saya akan pergi." kata Nana berjalan keluar kamar dengan membawa tas gendong kecil nya.
Andrian hanya diam melihat Nana yang berlari keluar dari Apertemen nya.
dia kesal karna barang Lily yang selalu dia jaga malah di pegang dan hampir hilang oleh Nana, bagi nya itu adalah kenangan terakhir yang dia punya dari istrinya, Andrian sengaja tidak membuang make up istrinya agar dia merasakan Lily selalu ada di kamar nya, menemani nya.
___________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak, ♥️