
^^H A P P Y R E A D I N G^^
๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Di sebuah ruangan di gedung yang menjulang tinggi nampak lah Arka yang sedang di sibukan dengan beberapa file-file dan berkas dokumen, pekerjaan nya menumpuk karna sering nya Arka pulang di waktu jam kerja, dan semua itu jelas bukan karna dia malas, tapi karna keinginan bumil yang selalu membuat Arka tidak bisa menolaknya.
"Kenapa dia semakin cantik jika tubuhnya berisi." ucap Arka sambil mengelengkan kepalanya, pikiran nya seolah terisi dengan Alena yang tengah tersenyum manja, dan Arka menyukai senyuman itu.
Arka tidak sadar jika ucapan nya tadi berhasil mengalihkan pandangan Andrian yang semula menatap pokus ponsel dan sekarang beralih menatap nya. "Bucin." guman Andrian sambil melihat layar ponselnya lagi.
"Asataga ada apa dengan pikiran ku, kenapa aku selalu merindukan nya, pelukan nya, rengekan nya, dan harum aroma tubuhnya." ucap Arka lagi sambil melihat ke arah dingding dengan pikiran yang menerawang.
Lagi-lagi Andrian di buat gila dengan celotehan Arka, "Dasar tuan kejam, sudah bucin baru tau rasa, untung Alena lupa ingatan, jika dia mengingat semuanya kembali aku yakin dia akan menangis darah karna candu nya akan membenci nya." gerutu Andrian dalam hati.
"Andrian batalkan meeting nanti siang, bilang padanya jika aku sedang tidak enak badan." ucap Arka.
Andrian seketika melohok, baru kali ini dia mendengarkan alasan gila dari Arka, kemana jiwa Arkasya si tuan muda yang hobby nya bekerja? sudah mati? atau musnah? benar-benae perubahan yang sangat dahsyat.
"Tidak bisa boss, meeting siang ini banyak di hadiri petinggi perusahaan dan beberapa pemegang saham, jika boss tidak hadir mereka akan meragukan kinerja perusahaan kita." jawab Andrian.
"Lagian boss sehat, dan sejak kapan boss suka berbohong masalah kerjaan?." sambung Andrian yang langsung mendapatkan tatapan tak suka dari Arka.
"Diamlah matre, aku tidak perduli aku merindukan istriku." ucap Arka sinis.
"Terserah boss, kau boss nya." sahut Andrian malas.
"Sepertinya menghadapi tuan muda kejam lebih menarik di bandingkan dengan menghadapi tuan muda bucin." batin Andrian.
๐น๐น
Alena menghela nafasnya berat dia menatap satu persatu batu nisan di depan nya dengan wajah tak terbaca, kesedihan nampak jelas terlihat di wajah cantiknya.
tempat terakhir ayah dan mamah nya, Alena benar-benar merasakan rasa sakit yang begitu amat saat dia duduk di tengah-tengah kedua batu nisan itu.
Berdoa untuk kedua orang tuanya yang telah tiada, Alena berharap akan bertemu kembali bersama orang tuanya suatu saat, tentunya di tempat yang damai dan indah.
"Mah, yah, Alena datang." ucap nya lirih sambil terisak.
Di usapnya batu nisan yang bernamakan sang ibu, lalu kembali mengusap batu nisan yang bernamakan sang ayah, "Alena sudah bahagia mah, doain Alena ya yah." ucap Alena sambil menegangi perurnya.
"Alena sedang hamil, sebenarnya Alena belum siap menjadi seorang ibu, tapi Alena akan berusaha untuk menjadi ibu yang siap siaga untuk anak Alena." ucapnya lagi.
Awan pun ikut mendung seolah tau jika Alena sedang meratapi kesedihan nya karna sudah tidak memiliki orang tua lagi, Alena menaburkan bunga-bunga dan yang terakhir menyirami pusaran makam kedua orang tuanya dengan air yang dia beli di pinggir jalan tadi.
"Alena menyayangi kalian." ucap Alena sambil melanhkah pergi dari area pemakaman.
Saat sedang berjalan Alena tak sengaja melihat Dinar yang ternyata sama-sama sedang berjiarah, "Dinar? kamu jiarah juga?." tanya Alena seraya menghampiri Dinar.
"Iya, kamu kesini juga ternyata." sahut Dinar sambil menaburkan bunga yang di pegang nya.
Keduanya berjalan beriringan keluar dari area pemakaman. "Yang tadi makam siapa?." tanya Alena.
Dinar menoleh. "Makam ibuku." sahut Dinar. "Kamu mau kemana habis ini?." sambung Dinar bertanya.
Alena terdiam, harus nya dia pergi ke rumah mertuanya, dia bahkan ijin pada Arka untuk ke rumah mertuanya, tapi saat di perjalanan Alena selalu teringat pada orang tuanya, yang membuat Alena akhirnya memutuskan untuk berjiarah.
"Mungkin kerumah mertuaku." jawab Alena.
Dinar terdiam nampak sedang berpikir keras. "Apa aku harus melakukan semua rencananya sekarang saja? tapi aku sedikit takut." batin Dinar resah.
"Kamu ikut aku aja, kita makan dulu di sebrang sana ada resto enak loh." ucap Dinar.
"Ya udah ayo, tapi ngak lama ya soalnya sudah siang." kata Alena sambil melangkah, dia mendekati supirnya untuk mengikuti mobil Dinar dari belakang karna dia akan makan sebentar.
"Aku mau ketoilet sebentar." ucap Alena sambil beranjak berdiri.
Melihat Alena yang pergi Dinar pun tersenyum menyerigai, "Maaf Alena, aku tidak punya pilihan lian, jika dengan kematian mu bisa membuat kehidupan ku lebih makmur lagi maka jangan salahkan aku, salahkan saja nasib mu yang sial." batin Dinar sambil melihat sekitar.
Saat di rasa aman Dinar pun mengambil plastik kecil yang ada di dalam tas nya, lalu memasukan bubuk sianida itu kedalam minuman milik Alena.
awalnya Dinar hanya memasukan setengahnya, tapi saat dia mengingat ayah ibu dan kakak nya yang bernasib sial Dinar pun jadi tidak ragu dan menuangkan semua bubuk racun sianida itu kedalam minuman Alena sampai tak tertisa.
"Mati kamu Alena." batin nya sambil tersenyum.
Secepat kilat Dinar mencoba untuk merapihkan meja nya kembali, menaruh tas nya di tempat semula dan kembali memasang wajah lugunya saat Alena kembali duduk.
"Maaf lama, tadi aku melihat pencuri." ucap Alena.
Dinar mencoba untuk tidak gugup, "Tidak apa, ayo di minum lagi." katanya sambil meleguk sedikit minuman nya.
"Sepertinya aku tidak akan jadi makan, suamiku akan marah jika aku terlambat." ucap Alena sambil beranjak berdiri.
"Minumlah dulu, sayang loh choklat nya." ucap Dinar menahan Alena, dalam hatinya dia berguman. "Minumlah setelah itu kau mati."
Alena terdiam, "Iya." ucap Alena sambil memegangi gelas kecil berisi choklat itu.
saat ingin meleguk choklatnya tiba-tiba saja ada seseorang yang menubruk Alena yang membuat Alena replek menjatuhkan gelas yang di pegang nya.
Prankk.. (Bunyi gelas pecah).
Dinar melotot tak percaya saat melihat gelas berisi choklat yang telah dia campur dengan racun sianida itu telah berhamburan di lantai, "Asataga, Alena kamu tidak apa?." tanya Dinar sambil melihat Alena. "Hey mas kalo jalan tuh liat-liat jangan seenaknya aja, untung sepupu ku ngak jatuh." sambung Dinar sambil melotot ke pria yang menubruk Alena.
"Maaf mba, saya tadi buru-buru jadi ngak liat-liat jalan nya." ucap pria itu.
Cih..
Dinar mendengkus, "Sialan, rencana pertama gagal." gerutu Dinar dalam hati merasa sangat kesal.
"Tidak apa mas, lagian saya juga ngak papa." ucap Alena lalu melirik Dinar yang memasang wajah marah nya, "Aku pulang dulu, untuk makan mungkin kita bisa melakukan nya di lain waktu." sambung Alena sambil melangkah pergi meninggalkan Dinar yang masih kesal.
Tak jauh dari tempat Dinar pria yang tadi menubruk Alena itu nampak sedang berbicara dengan seseorang di telpon.
"Tuan saya sudah mengacaukan rencana nya untuk meracuni nona Alena." ucap pria itu.
"Bagus, terus pantau Alena jangan biarkan dia celaka." ucap seseorang dari sebrang sana.
"Baik tuan, saya akan melakukan nya." sahut pria itu.
"Lakukan tugas mu dengan baik, dan pantau mereka dari kejauhan, jika perlu masukan anak buah mu sebagai mata-mata agar kita tau rencana mereka selanjutnya." perintah pria yang di sebut tuan itu.
"Baik tuan." sahut pria itu sambil berjalan pergi meninggalkan resto.
____________
๐น๐น๐น๐น๐น
Gimana kalo para pria tampan yang sudah berumur dan buntutan kembali beraksi lagi? ada yang kangen ngak?
Lia dan tiga cwo ganteng nya menunggu untuk di singgahiโค
jangan lupa jejak !!!