Istri Cantik Tuan Muda Kejam

Istri Cantik Tuan Muda Kejam
S2. Menemani.


^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Nana melirik pria yang sejak siang menemani nya itu, sedangkan sosok yang di lirik hanya diam sambil menatap ke arah danau dengan fokus.


Bukan hanya menemani nya ke makam, Andrian juga mengajaknya ke tempat dimana dia bisa menenangkan kemarahan di hatinya.


"Jangan terus melirik ku, aku tau aku baik padamu." ucap Andrian tanpa melirik.


Cih..


"Aku tidak melirik mu, anda terlalu pede tuan." ketus Nana cangung karena ketahuan.


Andrian menggelengkan kepalanya, Nana memiliki gengsi yang terlalu tinggi, sama dengan Alena istri teman nya.


Tapi itu lebih baik dari pada Andrian harus mendengarkan suara isakan Nana, dia tidak biasa melihat wanita menangis, itu membuat dia tidak tega.


"Baiklah aku salah, dan karena aku salah maka kau harus makan." ujar Andrian merendah.


Nana menggeleng. "Aku tidak lapar, anda saja yang makan tuan." kata Nana menolak.


"Terserah, jika kau tidak mau lebih baik aku makan saja makanan bagian mu." kata Andrian sambil mengambil kantung kresek berisi nasi Padang itu.


Andrian memakan nya dengan sangat khitmat, bahkan Nana sampai di buat ngiler melihatnya, tapi gengsi nya terlalu tinggi membuat Nana memilih membuang muka kesembarangan arah.


"Astaga ini nasi Padang terenak yang pernah aku makan, rendang nya..ini benar-benar enak." kata Andrian sedikit berteriak lalu memasukan sesendok nasi ke mulutnya, mengunyah nya dengan penuh menggoda.


Glekk..


Nana menahan air liur nya yang hampir menetes, baru mendengar nya saja Nana sudah lapar apalagi kalau memakan nya.


"Sayang sekali nasi Padang seenak ini tidak ada yang mau memakan nya, huh.. tapi tenanglah nasi Padang kau akan aku makan dengan senang hati." Andrian berkata lagi.


Nasi Padang adalah makanan kesukaan nya, rasanya yang enak sudah terbayang di kepalanya, apalagi rendang nya di tambah sambal dan juga lalapan nya.


Nana tidak bisa menahan nya lagi, langsung dia memegang kresek berisi nasi Padang dan air mineral itu, membuat Andrian melirik nya dengan alis yang di angkat ke atas.


"Kenapa?." tanya Andrian pura-pura bertanya.


Bukan nya menjawab Nana malah langsung mengambil makanan itu, membuka makanan itu dan mulai memakan nya dengan khitmat.


Andrian tersenyum melihat Nana yang mau makan, sebelumnya dia mendapatkan info jika Nana suka makanan itu dari Papa Anton, Papa nya Nana.


"Aku menitipkan Nana padamu, aku tau kau pria baik nak, Nana akan sedih dan jika putriku sedih dia tidak akan makan, jika dia tidak mau makan kau harus membelikan dia nasi Padang karena dia sangat suka nasi Padang."


Papa Anton mengatakan itu sebelum dia menyerahkan dirinya ke penjara, meski sebenarnya Andrian merasa bingung kenapa Papa Anton menitipkan Nana pada nya padahal dia dan Nana sering bertengkar jika bertemu.


Uhuk..uhuk..


Nana tersedak, membuat Andrian dengan cepat memberikan botol mineral yang sudah di buka pada Nana, dan Nana langsung menerima nya dengan cepat.


"Pelan-pelan, tidak akan ada yang meminta makanan mu." ujar Andrian, lalu memakan makanan nya.


Nana tak menjawab, dia kembali melanjutkan acara makan nya, tapi dengan pelan-pelan karena takut tersedak lagi.


Setelah selesai makan keheningan menyertai keduanya, Andrian maupun Nana keduanya duduk di bangku yang sama, lebih tepatnya bersebelahan.


"Bagaimana apa sudah lega?." tanya Andrian memecahkan keheningan.


Nana melirik Andrian, lalu menggelengkan kepalanya. "Entahlah, aku masih belum bisa ikhlas dengan takdir ini, aku merasa bodoh karena telah membiarkan Mama merasakan sakit selama bertahun-tahun." ujar Nana hendak menangis lagi.


Andrian memegang tangan Nana. "Jangan menangis lagi, apa kau tidak lelah menangis terus?." Andrian menatap Nana.


Hal itu membuat Nana terdiam.


"Aku tau ikhlas itu tidak mudah, jangan kan kamu yang baru di tinggalkan Mama mu sehari, aku saja yang sudah hampir dua tahun masih tetap merasa belum ikhlas dengan takdir tuhan." Andrian menarik nafasnya dengan kasar.


"Orang bilang jika kita di tinggalkan kita harus ikhlas agar orang yang telah pergi bisa tersenyum, mereka bilang orang yang pergi akan sedih jika melihat sosok yang di sayang nya bersedih, dan aku percaya itu." sambung Andrian.


Nana mengangguk, dia juga percaya akan hal itu, tapi apakah dia harus ikhlas secepat ini?, apa dia harus rela secepat ini?.


"Itu tidak mudah, orang yang belum merasakan nya terlalu mudah mengatakan nya, sedangkan mereka sendiri tidak tau seperti apa rasanya di tinggalkan." Nana mulai berbicara dengan merendah.


"Kau benar, mereka yang tidak merasakan mana tau dengan semua rasa yang kita rasakan." Andrian mengangguki ucapan Nana, memang benar orang yang belum pernah merasakan rasanya di tinggalkan hanya selalu mengatakan jika kita harus ikhlas dan ikhlas, tapi jelas mereka tidak tau rasanya ikhlas itu tidak lah mudah.


Nana berdiri, lalu melirik Andrian.


"Mari berteriak." ajak Nana.


Andrian menyerhitkan dahinya tidak mengerti, membuat Nana langsung memegang tangan Andrian dan hal itu membuat Andrian ikut berdiri.


"Kita harus berteriak." ucap nya lagi.


Nana menarik nafasnya lalu menatap ke atas langit yang di penuhi bintang.


"Mama..!! Aku sayang Mama..!!" teriak Nana.


Lalu Nana melirik Andrian, sedangkan yang di lirik hanya mengangkat bahunya tidak mengerti.


"Katakan sesuatu dalam teriakan mu, ayo." titah Nana.


Andrian menarik nafasnya pelan.


"Lili..!! Ansela..!! Papa sayang kalian..!! Papa merindukan kalian..!! Papa mencintai kalian..!! " teriak Andrian.


Teriakan Andrian membuat Nana terdiam, sebegitu cintanya Andrian pada sosok almarhum istri dan putri nya, membuat Nana yang mendengarnya menjadi terharu, Andrian yang galak ternyata memiliki hati yang sangat tulus.


Sedangkan Andrian yang mengatakan itu langsung melirik Nana.


"Kenapa melamun." tanya Andrian, membuat Nana tersadar dari lamunan nya.


"Ahk tidak apa, hanya saja aku merasa sedikit tenang, meski kesedihan ini masih mengganjal, bagaimana dengan anda tuan?." tanya balik Nana.


"Rasanya masih sama, hanya saja aku merasa dekat dengan nya jika melihat bintang, cantik dan indah seperti istri dan putri ku." kata Andrian sambil menatap langit malam yang di penuhi bintang yang indah.


Kenapa mendengar ucapan Andrian membuat Nana merasa tidak nyaman, seolah tak suka saat Andrian mengatakan jika dia merindukan sosok yang sudah meninggal itu.


Segara Nana sadar dari rasa aneh itu, Nana rasa dia hanya terpaku dalam kebaikan Andrian, dan itu bukan rasa suka melainkan rasa kagum biasa.


"Rasa sedih akan masih tetap sama, semua itu butuh waktu, bukan hanya kamu bahkan aku pun masih merasakan hal itu." kata Andrian lagi membuat Nana tersenyum.


"Anda benar tuan, mari pulang, aku merasa mengantuk." kata Nana, memilih pulang meski kenyataan nya dia masih nyaman bersama dengan Andrian, hanya saja suasana hatinya yang semula biasa kini kembali tidak sinkron lagi.


Andrian mengangguk, dia kembali melajukan mobilnya ke arah pulang, tapi di tengah perjalanan Nana kembali bersuara membuat Andrian menghentikan mobilnya mendadak.


"Aku mau pulang ke rumah ku, maaf tuan aku masih butuh waktu untuk menenangkan diri." kata Nana pelan.


"Bagaimana dengan Bian? dia akan merindukan Nanny nya." kata Andrian tidak setuju dengan keinginan Nana.


"Entahlah, sepertinya aku akan risain dari pekerjaan ini, maaf tuan aku masih dalam suasana berduka." kata Nana lagi.


Andrian menarik nafasnya dia sendiri tidak bisa memaksa keinginan rekan nya itu, lagi pula Nana memiliki hak untuk melakukan apapun, tapi bagaimana dengan Bian? dia pasti sedih jika Nanny kesayangan nya tidak kembali mengasuhnya, dan kenapa dia merasa sedih jika Nana akan risain?.


"Tuan?." panggil Nana.


Andrian masih diam, membuat Nana merasa tidak nyaman.


"Aku akan pulang sendiri, terimakasih tuan." ucap Nana ingin membukakan pintu namun dengan cepat di cegah oleh Andrian.


"Jangan pergi, emm aku akan mengantarkan mu pulang." tegas Andrian, membuat Nana tersenyum.


________


🌹🌹🌹🌹🌹


Cerita Bian udah epsd 53 loh, jangan lupa mampir ya😜


Jangan lupa jejak, ♥️