
H A P P Y R E A D I N G..
🌹🌹🌹🌹🌹
Merengek dan meronta-ronta meminta di lepaskan itulah yang dilakukan gadis bernama Hany itu, disaat pertempuran nya akan di lakukan beberapa menit lagi tiba-tiba tangan nya di tarik paksa oleh seorang pria yang jelas-jelas iya tahu dan kenal.
"Lepasin aku ngak!! lepas !!." Hany masih mencoba untuk melepaskan pegangan tangan kekar yang menyeretnya dari area balapan ke sebrang jalan itu.
"Woy ngelunjak ya lo, lepasin ngak." Hany sudah sangat kesal dengan tingkah pria itu yang tak lain Zex yang seenak jidat nya mengagalkan acara balapan liarnya.
"Kamu wanita, tidak pantas seorang gadis berada di keramaian seperti itu, itu berhahaya." Zex membawa Hany untuk masuk kedalam mobilnya.
" Urusan nya apa sama lo, lepasin aku pliss sayang ______" belum sampai Hany menyelesaikan ucapan nya tangan Zex langsung membekap nya.
"Arghkkk..."ringis Zex kesakitan karna Hany mengigit tangan nya.
"Rasain, emang enak, dasar pria tembok ngak jelas, si batu si jomlo gue sumpahin jodoh nya cabe-cabean biar tau rasa." Sungut Hany masih tak mau diam.
Zex menghela nafasnya, "Diamlah, dimana tempat orang menjual Seblak?."
Hany terdiam lalu tertawa. "Hahah ternyata pria tembok juga suka seblak? menakjubkan sekali." berkata seolah mengejek.
"Katakan tempatnya, kita harus segera membeli Seblak." Ucap Zex dingin.
"Baiklah, tapi setelah itu pulangkan aku dan kau harus herpura-pura jika aku habis dari rumah kak Rafa jangan bilang aku habis dari arena atau aku tidak akan menunjukan tempatnya." Hany mencoba bernegosiasi.
"Deal." Ucap Zex.
Hany pun mau tak mau harus menunjukan tempat Seblak kesukaan nya yang ada di pinggir jalan dekat kampus.
Setibanya di tempat seblak Zex menggeleng." Kenapa tempat seperti ini? " tanya Zex.
"Diamlah manusia tembok ini enak, aku dan Ririn biasa makan Seblak disini, kau mau membelinya bukan? maka diamlah jangan banyak bertingkah." Ucap Hany ketus sambil memainkan ponselnya.
"Dit aku titip motor ya, kakak aku rese kaya baisa." isi pesan yang dikirimkan Hany pada sahabatnya.
Sembari menunggu seblak nya jadi Hany dan Zex duduk di bangku yang saling berhadapan. "apa !! mau aku colok matamu." Hany ketus.
"Tuan muda menyuruhku membawa mu, sepertinya kau melakukan kesalahan." Zex berkata datar.
Hany terdiam masih mencerna ucapan di tembok di depan nya. "Astaga memang seharusnya aku tidak pernah mengenal para pria tembok itu, huhh sial sekali nasibku harus di introgasi oleh teman kakaku yang kebanyakan berwajah tembok itu. " Batin Hany.
Disisi lain Dian yang sedang di dalam mobil terlihat tidak nyaman karna sedaritadi di pandang terus menerus oleh pria di sampingnya.
"Cantik." Guman pria itu yang tak lain adalah Rey.
"Anda bicara apa taun?."tanya Dian pura-pura bertanya padahal jelas iya mendengar apa yang di ucapkan pria di samping nya.
"Kamu cantik."
Dian mengelengkan kepala sepertinya pria di samping nya sudah terkena virus Azib maka nya prilaku dan wajah nya sangat berbeda.
"Anda sebaiknya melihat kejalan tuan, saya tidak akan terbang meskipun anda tidak melihat saya." Ucap Dian. "Aku bukan burung !! tidak akan terbang mengerti tidak." Ingin sekali Dian meneriaki pria di samping nya itu.
"Ahk baiklah, apa kau tadi melakukan sesuatu?." Tanya Rey.
Dian menggeleng. " Tidak tuan, saya bekerja dengan baik, bahkan baju saya sampai kotor seperti ini." memperlihatkan noda getah yang ada di dadanya.
Rey melirik dan melihat ke noda getah itu, Upps lebih tepatnya ke bagian dada Dian. " Tidak terlihat besar, tapi tidak terlihat kecil." Batin Rey yang masih pokus melihat bagian dada Dian.
" Tuan anda melihat apa? lihat lah kedepan sebelum kita men_____ " belum sempet Dian melanjutkan kata-katanya mobil yang di tumpangi nya sudah hampir menabrak seorang pejalan kaki.
"Saya belum mau mati tuan, saya masih ingin menikah dan mempunyai keluarga kecil yang bahagia." Ucap Dian yang keceplosan lalu menutup mulutnya karna malu.
"Saya juga." sahut Rey sambil tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Anda sudah gila tuan."
.
.
.
.
Rafa, Zex, Rey , Dian dan Hany ke lima nya nampak gelisah menunggu dokter keluar dari kamar sang pemilik rumah.
dengan wajah gelisah karna tadi Ririn mual-mual dan hampir terjatuh ke lantai kamar mandi beruntung ada Rafa yang dengan sigap menahan tubuh lemas istri kecilnya.
"Kalau istriku kenapa-kenapa kalian akan tau akibatnya."Rafa menatap tajam dua wanita yang sedang menguap lebar di sofa.
Glek...
Dian dan Hany bersusah payah menelan silivanya mendengar ancaman sang tuan muda, keduanya berharap jika Ririn baik-baik saja agar mereka bisa selamat.
"Tuan muda." Panggil seorang dokter wanita yang dulu pernah menangani Ririn.
"Bagaimana keadaan istriku, sakit apa dia? kenapa dulu kau tak memberitahuku?." Rafa berkata sambil melotot yang membuat si dokter ketakutan.
Zex maupun Rey keduanya hanya terdiam mereka berdua jelas tau seperti apa Rafa saat marah dan keduanya memilih diam karna tak mau ikut disalahkan.
"Selamat tuan anda_____ " Belum sempat melanjutkan ucapan nya Rafa sudah memotong.
"Istriku sedang sakit kau bilang selamat !! Hah !! Rey bawa wanita ini ke Alena, sepertinya Alena sedang kelaparan." Ucap Rafa dengan wajah berapi-api nya.
"Baik tuan." Rey menjawab singkat.
"Siapa Alena." Batin Dian dan Hany.
"Astaga tuan muda, biarkan saya menyelesaikan ucapan saya dulu, jangan menyelah terus." si dokter Ingin menjambak rambut nya sendiri.
Si dokter itu Melirik Rey dan Zex namun dua pria itu malah mengangkat bahu nya menandakan jika dua pria itu tidak bisa berbuat apa-apa.
"Nona Hamil tuan." Berkata dengan wajah kesalnya.
Rafa terdiam seketika lalu iya berlari ke kamar memeluk istri kecilnya menghujani ciuman di seluruh wajah istrinya.
tanpa menghiraukan tatapan ke empat manusia jomlo yang berada diambang pintu.
"Sayang terimakasih, terimaksih." terus menciumi memeluk tubuh istrinya.
Ririn menghela nafasnya. "Sayang kamu bau, aku ngak mau tidur sama kamu, kamu bau." usir Ririn yang seketika membuat para jomlo menahan tawanya agar tidak keluar karna jika sampai keluar bisa saja mereka yang akan menjadi santapan si Alena.
___________
🌹🌹🌹🌹🌹
Ada yang masih inget sama Alena ngak??
Jejak !!