
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Menjalani hidup tanpa sosok di cintai memang bukan perihal mudah, begitupun dengan hari-hari yang di lalui Andrian, penuh dengan duka yang menyelimuti keseharian nya.
Nyatanya sebisa apapun dia mencoba melupakan sosok istrinya Andrian malah semakin menjadi sosok yang tertutup dan sulit untuk di ajak bicara dari hati ke hati, mungkin karna kehilangan sosok istri dan putri yang di cintai nya membuat pria itu tidak mudah untuk membuka hati untuk wanita lain.
Segala upaya di lakukan oleh Dian, di mulai mencarikan jodoh lagi untuk sang putra, namun nihil Andrian pasti akan selalu menolak, dengan alasan trauma dengan perjodohan yang berakhir perpisahan.
"Aku tidak mau Bun, aku ingin mencari pasangan sendiri, meski aku tidak tau kapan itu akan terjadi tapi aku tidak mau di jodohkan lagi."
Dan setelah itu Dian hanya pasrah, sebagai orang tua Rey dan Dian ingin yang terbaik untuk putra semata wayangnya, dia juga menginginkan kebahagian putra nya, apalagi setelah kepergian Lily Andrian selalu menutup diri dan jarang tersenyum.
"Sayang, apa kabar? aku datang membawakan bunga kesukaan mu Lily." kata Andrian, seraya mengusap batu nisan yang bertuliskan nama sang istri.
Lalu menatap pada batu nisan yang bernamakan putri cantik nya, Ansela Anjela Parisky.
"Hallo cantik nya papa, Papa juga membawakan bunga untuk mu." kata Andrian lagi, kembali mengusap batu nisan putri nya.
Hari ini adalah genap setahun istrinya meninggal, sekaligus ulang tahun putri nya yang pertama.
Tadi malam Andrian telah mengadakan acara syukuran untuk mengenang setahun nya berpulang istri nya Lily dan putri tercinta nya.
"Selamat ulang tahun sayang." ucap nya Lirih, dalam hatinya terasa perih, tapi sebisa mungkin Andrian mencoba untuk menahan rasa sedih nya, dia tidak mau terlihat rapuh di depan makan dua bidadari nya.
Rasanya seperti mimpi, pernikahan nya dan Lily baru saja berjalan dua tahun setengah, dan kini Andrian menyandang status duda, satu hal yang tidak pernah dia bayangkan di dalam kamus hidupnya.
Tapi begitulah takdir, tuhan memiliki rencana lain untuk nya, dan sebisa mungkin Andrian akan mencoba ikhlas dengan takdir yang di tetapkan tuhan untuk nya, meski dia tidak tau ikhlas seperti apa yang di rasakan nya.
"Kalian berdua akan tetap di hati ku, Lily sayang, dan kamu Ansela putri papa." seru nya lagi, kembali menatap kedua makam di depan nya.
Setelah berbicara apa yang di rasakan nya Andrian mendoakan istri dan putri nya, dan setelah itu Andrian meninggalkan pemakaman yang menyimpan sejuta kisah cinta nya dan Lily yang terkubur di dalam dua nisan.
"Tuan, apa saya boleh pulang?." tanya sosok yang ada di jok depan, tepat di sebelahnya Andrian.
Andrian menoleh ke samping, di lihatnya wajah menyebalkan milik pengasuh anak sahabat nya.
"Jangan bicara saat tidak di suruh bicara, mengerti!." kata Andrian ketus.
Nana hanya mengangguk. "Maaf tuan, lain kali saya akan membawa makanan agar saya bisa diam dan makan." sahut Nana, seraya menampilkan deretan gigi putihnya yang rata.
Huh..
"Itu lebih baik." seru Andrian, masih mode dingin.
Mobil berjalan cepat namun nihil keduanya hanya saling diam, sebelumnya Nana ikut dengan Andrian karna dia akan pulang ke kampung nya, dan sial nya dia malah harus di bawa kesana kemari oleh Asisten majikan nya itu.
Andrian harus mengantarkan Nana karna permintaan majikan nya, dan mau tak mau Andrian harus membawa Nana ke pemakaman istri dan putri nya, karna Andrian memang sudah menjadwalkan jam sekian untuk berkunjung ke pemakaman dua bidadari nya.
"Tuan Rian sangat dingin, astaga aku serasa dihadapkan dengan es." batin Nana, melirik Asisten majikan nya.
"Jaga matamu, atau aku colok mata mu." ucap Andrian tak suka di curi pandang oleh Nana.
Malu ketahuan mencuri pandang, Nana hanya bisa menunduk dan bergelut di pikiran nya, dia tidak mau melihat lagi ke arah Asisten majikan nya, takut di makan.
Di tempat lain Bian nampak sedang menatap kesal pada dua pengasuh nya, dia merindukan pengasuh nya yang biasa, yaitu Nanny Nana.
"Aku tidak mau makan, aku ingin buku yang tebal di rak itu." tunjuk nya pada jejeran rak buku milik nya.
"Ambil yang itu saja." ucap pengasuh satu.
"Yang ini lebih tebal, tuan muda kecil lebih suka buku yang seperti ini." sahut si pengasuh satu nya lagi.
Keduanya saling beradu argumen dengan beberapa buku di tangan nya, membuat Bian yang duduk di meja belajar menatap nya kesal, lalu Bian turun dari tempat duduknya dan berjalan keluar kamar.
Bian menatap ke sekeliling rumah nya, Papa nya sedang kerja, sedangkan Mama nya sedang olahraga kehamilan di lantai atas bersama pelatih.
Kebosanan mulai menyerang nya, membuat Bian yang sedang duduk di bangku halaman belakang itu beranjak dari duduk nya ingin mencari kegiatan lain selain menganggu pengasuh nya.
"Hallo." Sapa seorang gadis tiga tahun.
Bian menoleh kesamping, di tatap nya gadis berambut sebahu itu dengan pandangan aneh.
"kamu siapa? kamu pencuri ya? Astaga Nanny ada pencuri." ucap Bian sambil berteriak.
Mendengar teriakan anak laki-laki di depan nya membuat gadis cantik berambut sebahu itu menangis karna kaget. "Hiks.. bunda..hiks..bunda." tangis nya mulai pecah.
Dan saat itulah tiba-tiba datang wanita yang berpakaian tertutup yang di dampingi oleh Mama nya.
"Mam, ada pencuri." adu Bian, mendekat Mama nya.
"Kamu kenapa sayang? anak Bunda kenapa nangis?." tanya wanita berkerudung hitam itu, yang tak lain adalah Dinar Ghani yang sudah berhijrah.
"Rere di teliakin maling cama kakak ini, hikss..bunda hikss..kenceng teliak nya." Gadis berambut sebahu bernama Adinda Reyna itu mengadu pada sang bunda.
Mendengar penuturan putri nya membuat Dinar terkekeh. "Tidak apa, ayo salaman kenalan dulu." kata Dinar, mengelap air mata yang membasahi pipi putri nya.
"Bian ayo salaman sama sepupunya." titah Alena lembut.
Namun bukannya menyalami Bian malah menatap tajam Rere dan wajah dingin nya.
dan itu membuat Dinar tersenyum merasakan aura ketidaksukaan dari anak sepupunya pada putri nya.
"Bian ayo, salaman dulu kenalan." ucap Alena lagi.
Mau tak mau Bian mengulurkan tangan nya, dan Rere pun sama mengulurkan tangan nya. "Aku Bian." kata Bian singkat.
"Aku Rere, kak." ucap Rere sambil tersenyum malu-malu.
"Bian Rere ini adalah anak Tanteu kamu, ini Tanteu Dinar sepupunya Mama, jadi kamu dan Rere itu adik kakak ya." ucap Alena menjelaskan.
Dinar tersenyum lalu berjongkok. "Hallo Bian, panggil Tanteu ya, kamu mirip banget sama papa kamu." kata Dinar seraya memegang pipi Bian gemas.
Dan hal itu jelas tidak di sukai Bian, bocah itu langsung melotot membuat pipi bulat nya semakin terlihat. "Tanteu aku bukan anak kecil, jangan cubit." ucap Bian protes.
Alena menggelengkan kepalanya. "Dia memang seperti itu, sudah ayo keruangan tengah biar enak Ngobrol nya." kata Alena, kedatangan sepupunya setelah tiga tahun lama nya tidak bertemu jelas saja membuat Alena kaget, apalagi dengan penampilan terbaru Dinar yang sangat penuh perubahan drastis.
Dinar menikah dengan seorang pria yang bisa menerima nya apa adanya, dan perhatian yang di berikan suaminya padanya membuat Dinar percaya akan keikhlasan, dia telah mengikhlaskan semua yang pernah dia lewati di masa lalu yang penuh kegelapan itu.
Bertobat meminta petunjuk dari Tuhan, dan ya tuhan memberikan sosok pria yang kini menjadi imam nya, membing-bing nya kejalan tuhan, sehingga kini Dinar menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelum nya.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa jejak, ♥️