
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
"Bian makan yu." ucap Alena lembut pada putra nya.
Bocah yang sedang asyik dengan buku nya itu menggeleng, "No Mam, aku sedang diet." ucap Bian, kembali lagi melihat buku yang ada di tangan nya.
Diet? tau dari mana bocah empat tahun setengah itu tentang diet, benar-benar ya anak ini.
Sedangkan arti diet sendiri di artikan lain oleh Bian, dia kesal karna melihat Mama nya jarang makan dan lebih sering muntah-muntah, bahkan Mamanya selalu mengatakan tidak berselera makan pada papa nya.
Alena menghela nafasnya pelan, lalu duduk di depan sang putra tersayang nya. "Makan ya sayang, nanti kalau ngak makan cacing di perut kamu bisa nangis." Alena berucap kembali.
Bian melirik sang Mama dengan wajah berkerut aneh. "Mana ada cacing nangis, Menurut buku yang aku baca cacing di perut hanya makan-makanan sisa yang ada di perut, itupun kalau pencernaan nya penuh." Bian berucap santai.
Kepandaian Bian membuat Alena tidak bisa berkata-kata, putranya yang satu ini memang tidak bisa di sepelekan kecerdasan nya, bahkan Bian kecil yang masih berusia empat tahun setengah itu tidak bisa di takut-takuti dengan hal kecil sekalipun.
Huhh..
Alena mencoba menahan kesalnya dengan putra nya yang tidak mau makan, mood kehamilan nya benar-benar tidak bisa di ajak kompromi sehingga dia selalu merasa kesal.
"Ayo coba katakan pada Mama apa yang membuat mu tidak mau makan." Tanya Alena lagi.
Pengasuh Bian tiba-tiba datang tapi dengan tangan nya Alena mencoba mengusir kedatangan pengasuh, membuat si pengasuh yang tak lain Nana langsung keluar dari ruangan kamar si tuan muda kecilnya.
Bian menatap sang Mama dengan pandangan yang penuh arti, "Mama juga tidak makan, Mama sering menolak makan dengan alasan tidak berselera, bahkan terkadang Mama juga menangis karna Papa meminta mama makan." Bian mengatakan itu dengan mata yang saling menatap dengan sang Mama.
Alena tidak bisa berkata-kata lagi, putranya memang benar-benar sangat pintar, membuat Alena terharu karna secara tidak langsung putranya mengkhawatirkan nya.
"Mama makan, nanti aku akan makan." ucap Bian, malah menyodorkan sesendok nasi ke bibir sang Mama.
Lagi-lagi Alena di buat terharu dengan sikap putra nya, tidak menyangka putranya yang masih kecil bisa mengerti dirinya.
"Ayah Mama lihat lah apa yang di lakukan oleh cucu kalian, apa kalian tau aku sangat beruntung memiliki nya, cucu kalian sangat pandai, dia sangat menyayangiku."
"Aaaa.." Bian membuka mulutnya, membuat Alena tersadar dari lamunan nya dia membuka mulutnya dan menerima suapan sepesial dari sang putra tersayang nya.
"Bian juga makan, ayo aaa.." kini giliran Bian yang mendapatkan suapan, keduanya makan dengan saling suap menyuapi.
Di ambang pintu yang tidak tertutup rapat nampak Nana yang sedang menyaksikan kedekatan ibu dan anak di depan nya, tanpa sadar air mata Nana jatuh mengenai pipi nya.
"Mama aku merindukan mu." batin Nana sambil terisak.
Buru-buru Nana mengusap air mata yang membasahi pipi nya, dia berjalan cepat ke arah dapur, mengambil segelas air lalu meminumnya sampai habis.
Setelah menghabiskan segelas air Nana langsung duduk di kursi yang di sediakan untuk pelayan, wajahnya nampak terlihat sedih apalagi setelah menyaksikan betapa dekatnya anak asuh nya dan majikan nya.
"Mama dimana, apa Mama tau aku merindukan mama, kenapa mama pergi." Nana mengusap kembali air mata yang ada di pipinya, entah kenapa air matanya terus mengalir tak tertahankan.
Ingatan nya di tarik ke belakang, dimana Nana kecil selalu dimanja Mama nya, saat itu Nana sedang berusia sepuluh tahun, dan semuanya berjalan dengan lancar, dimana dia mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Tapi semuanya tidak bertahan lama, dimana setelah ulang tahun ke tujuh belas tahun nya Mama nya pergi meninggalkan rumah, dan tragisnya lagi Mama nya tidak pernah pulang kembali, membuat Nana sedih jika mengingat Mama nya yang pergi tanpa alasan.
"Nanny." teriak Bian.
Segera Nana mengusap pipinya yang sedikit basah, dia berjalan mendekati anak asuhnya, "Ada apa tuan muda kecil?." tanya Nana, berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan anak asuhnya.
Bian membawa tangan sang Nanny, lalu berjalan cepat ke kamar nya.
Nana mengikuti langkah anak asuhnya, "Tuan tapi nanti Mama tuan muda akan marah." kata Nana, takut ketahuan majikan nya.
"Tidak, kita hanya berdua, tenang saja Nanny." kata Bian santai.
Dan Nana hanya bisa mengikuti perintah anak asuhnya, entah dari mana Bian tau flm horor itu dari mana, dan sialnya dia tidak bisa menolak permintaan anak asuhnya yang menggemaskan.
Di tempat lain Arka dan Andrian nampak habis meeteng, keduanya berjalan beriringan dengan Amanda yang mengintil di belakang kedua pri tampan itu.
"Sebentar lagi antar semua data nya ke tempat ku, tapi sebelum itu periksa dulu oleh Andrian." ucap Arka.
Andrian hanya diam begitu pun dengan Amanda yang kini sedang salah tingkah, dia mengingat acara meeteng beberapa menit yang lalu, dimana Andrian menatap nya aneh.
Arka masuk ke ruangan nya, dan Andrian yang melihat Amanda diam saja membuat nya heran, apalagi sikap Amanda aneh sejak acara meeteng tadi.
"Kau tuli?, antarkan data nya ke ruangan ku, aku akan memeriksanya terlebih dahulu." kata Andrian dingin, lalu berjalan masuk ke ruangan nya.
Amanda menggelengkan kepalanya, ada apa dengan otaknya? kenapa dia jadi memikirkan Asisten Bos nya yang terkenal jutek dan matre itu?.
Huhh..
Sepertinya otak cerdas nya sudah rusak, sejak kapan dia kagum dengan Andrian, si Asisten galak yang selalu cetus dan dingin padanya.
"Jangan mengingat pria itu lagi Manda, ingat tagihan tas mu." gumam Amanda.
Dan saat Amanda ingin mendaratkan bokong nya untuk duduk di kursi Amanda kembali teringat akan satu hal, dengan gegas cepat dia membawakan data yang di minta Bos nya, namun saat Amanda akan mengetuk pintu ruangan Andrian pintu itu malah terbuka.
"Kenapa lama sekali." Andrian menatap Amanda dengan dingin.
Amanda kikuk, bingung menjawab apa apalagi di tatap seperti itu oleh Andrian membuat dadanya semakin berdegup kencang.
"Ini datanya tuan, maaf lama." ucap Amanda pelan.
Andrian menerima nya lalu berjalan masuk ke ruangan nya tanpa menutup pintu nya, Amanda pun masuk ke dalam, dia duduk tanpa di persilahkan terlebih dahulu.
Hening tak ada suara, Andrian nampak fokus melihat data nya, sedangkan Amanda nampak gelisah melihat wajah Andrian yang nampak tampan jika di lihat semakin dekat.
"Astaga ya tuhan apakah tuan Rian pangeran? kenapa dia terlihat tampan jika sedang fokus seperti itu? pipi nya? Astaga dia sangat menggemaskan." Batin Amanda.
"Apa yang kau lihat?." tanya Andrian menatap tajam Amanda.
Hal itu membuat Amanda gelagapan di buatnya, kegugupan menyertai dirinya, dia mengutuk dirinya yang tidak tau malu malah terang-terangan mencuri pandang pria di depan nya.
"Saya menatap cicak tuan, ya cicak." Amanda menjawab asal.
Andrian mengerutkan sebelah alisnya ke atas bukan kah itu tidak masuk akal?, tapi apa perduli nya, dengan cepat dia menaruh data itu di meja lagi, yang langsung dengan cepat di ambil oleh Amanda.
"Saya permisi tuan, selamat bekerja." kata Amanda pelan, lalu berjalan cepat keluar dari ruangan itu.
"Selamat." gumam Amanda yang sudah ada di luar ruangan, dia mengusap dadanya pelan.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
Ada cinta segitiga nih😅
Jangan lupa jejak, ♥️