
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Alena menatap rumah mewah di depan nya dengan tatapan aneh dan bingung, merasa ada yang menganjal di hatinya "Kenapa aku merasa sangat asing? seharusnya aku bisa sedikit mengingat tempat ini jika aku benar-benar istri Arka." batin Alena sambil melihat kesekiling rumah yang di lingkupi dengan taman bunga yang sangat luas.
"Ayo masuk." ajak Arka sambil berjalan dengan tangan yang saling berpegangan dengan Alena.
Keduanya berjalan menuju pintu rumah, dan saat hendak membuka pintu, seseorang tiba-tiba muncul berbarengan dengan pintu terbuka.
"Selamat datang tuan muda, nyonya dan tuan besar sudah menunggu tuan muda di taman belakang." ucap seorang pelayan diangguki Arka.
Arka membawa Alena berjalan melewati beberapa bagian ruangan, pegangan tangan itu tidak Alena lepaskan, dia masih merasa asing dengan rumah ini, apalagi melihat pelayan yang tadi menyambutnya terlihat seperti tidak mengnalinya.
"Mom..Dad.." ucap Arka sambil berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
Ririn diam, terkecuali Rafa yang menatap putra sulungnya dengan wajah yang menahan kesal, "Kamu membuat kami kecewa Arka." ucap Rafa sambil meminum teh hijau buatan sang istri, tatapan nya yang tajam di tambah raut wajah datar membuat suasana semakin terlihat mencekam.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku semakin merasa seperti orang asing." batin Alena yang berdiri tak jauh dari tempat Arka berdiri.
"Mom.." Arka mendekati sang Mommy.
Ririn menarik nafasnya, mencoba untuk bisa bersikap tenang meski sebenarnya hatinya sangat sakit dan kecewa pada sang putra.
"Mommy butuh penjelasan mu Arka." Ririn membuka suaranya.
"Bawa istrimu beristirahat di kamar mu, kasian dia harus banyak istirahat." sambung Ririn yang melihat Alena dengan tatapan yang mengandung arti begini "Gadis yang malang, semoga kamu memiliki keberuntungan yang sama sepertiku."
Arka mengangguk lalu berjalan ke arah Alena. "Ayo, kamu harus istirahat dulu." ucap Arka sambil mengajak Alena berjalan mengikuti langkahnya.
Meski sedikit aneh dan membingungkan Alena menurut dia berjalan mengikuti langkah kaki Arka, saat sudah sampai di kamar Alena duduk, dan melirik Arka yang nampak memperlihatkan raut wajah yang seperti tegang.
Alena ingin bertanya, tapi dia lebih banyak diam untuk saat ini, entah kenapa Alena merasakan rasa yang berbeda dimana dia meraskan jika kehadiran nya tidak diinginkan.
"Kenapa?." tanya Arka yang aneh karna Alena diam saja, tidak sebawel dan semanja di rumah sakit.
Alena melirik Arka lalu membuang muka nya. "Katakan padaku kenapa orang tuamu tidak gembira melihat kedatangan ku, bahkan mereka mengabaikan ku." ucap Alena sambil menatap ke arah samping dengan tatapan kosong.
Diam nya Arka membuat Alena kesal dan berpikir yang tidak-tidak. "Kenapa diam? apa kamu membohongiku, jika sebenarnya kita bukan suami istri !!. " ucap Alena sedikit tinggi, sejak awal membuka matanya Alena memang merasa asing dengan Arka dan dia juga merasa jika semua yang di ucapkan Arka itu penuh dusta.
Arka menghela nafasnya, " Aku suamimu, akan ku jelaskan semuanya tapi nanti bukan sekarang." ucap Arka. "Sekarang kamu istirahat saja, aku akan menemui orang tuaku, banyak hal yang harus kami bicarakan." sambung Arka lagi.
"Kenapa tidak mengajak ku? kalian menyembunyikan sesuatu dariku kan." Alena berpikir jika Arka dan keluarganya menyembunyikan sesutau darinya, apalagi melihat wajah Arka yang tegang itu membuat Alena yakin jika ada yang tidak beres.
"Kamu harus istirahat Alena." sahut Arka lagi. "Kumohon tidurlah, aku janji akan memberitahumu semuanya, tapi kamu harus sehat dulu." sambung Arka lagi.
"Tap___" ucap Alena terhenti karna mendapatkan ciuman mendadak dari Arka.
Hemphh..
Alena berontak saat Arka tiba-tiba menindih nya, "Lepas." ucap Alena masih marah, dia menendang Arka karna rasa kesalnya yang sudah melampaui batas, apalagi merasakan tangan Arka yang aktif meraba tubuh nya.
Awww..
Alena membenarkan bajunya. "Aku tidak suka dipaksa Arka, dengan caramu yang seperti itu membuatku merasa seperti wanita tidak punya harga diri." ucap Alena sinis sambil melangkah berjalan ke arah kamar mandi.
"Secepat itu dia berubah? kemana Alena yang manja tadi pagi?." batin Arka bertanya-tanya sambil melihat Alena yang sudah masuk dengan pintu yang di tutup dengan keras.
.
.
.
.
"Mom.." ucap Arka sambil duduk di dekat sang Mommy.
Ririn menangis dalam diam membuat Arka langsung memeluk sang Mommy, "Maaf Mom, aku tau aku salah." ucap Arka sambil memeluk erat tubuh wanita yang sudah rela berjuang hidup dan mati hanya untuk melahirkan nya itu.
"Mom.." ucap Arka lagi karna tidak mendapatkan jawaban dari sang Mommy.
"Arka, Mommy tidak mengajarkan mu menjadi orang jahat sayang, Mommy tidak pernah___." ucap Ririn tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.
Isakan Ririn terdengar getir di telinga Arka yang membuat Arka menambah erat pelukan nya, "Mommy merasa gagal Arka, Mommy bukan ibu yang baik..hiks," Ririn berkata sambil menangis yang membuat Arka ikut menangis.
" Jangan katakan itu, Mommy tidak pernah gagal, Mommy adalah ibu terbaik yang aku miliki." ucap Arka sambil terisak, dengan tubuh yang masih memeluk sang Mommy.
Sekejam-kejam nya manusia pasti ada masanya dia akan menangis, ya begitupun dengan Arka, dia menangis tidak terima jika Mommy nya menyalahkan dirinya sendiri atas semua kesalahan dan kegagalan Arka menjadi seorang anak, dia yang salah dan tidak seharusnya dia membuat Mommy nya menangisi semua kesalahan nya.
"Mom.." ucap Arka sambil memberanikan menatap wajah sang Mommy, ketika netra mata keduanya saling bertatapan Arka bisa merasakan mata kesedihan itu, begitupun dengan Ririn yang merasakan jika putranya menyesal dengan semua yang terjadi.
"Mommy memaafkan mu, jangan ulangi lagi dan satu hal lagi Arka, Mommy mau kamu menikahi gadis itu dengan layak, bukan hanya sebatas di atas kertas." ucap Ririn sambil menatap putranya lalu melirik Rafa yang sedari tadi diam menyaksikan drama filu istri dan putranya.
Seketika Rafa tersedak minuman yang di minumnya sendiri, kata-kata yang terakhir di ucapkan Ririn seolah menyindirnya yang dulu juga melakukan kesalahan yang sama. "Aku tau, aku tau." batin Rafa seolah mengakui kesalahan nya di masa lalu.
"Bagaimana Dad?." tanya Ririn sambil melihat pada suaminya.
"Daddy memaafkan mu Arka, jangan ulangi lagi." jawab Rafa.
Ririn menyerhitkan dahinya bukan jawaban itu yang dia inginkan. "Dad, Arka harus menikahi gadis itu, dan itu minggu depan." ucap Ririn tegas.
"Tentu sayang, kita akan menikahkan mereka." jawab Rafa takalah tegasnya.
Arka menghela nafasnya, "Aku tidak yakin." batin Arka.
___________
🌹🌹🌹🌹🌹
Alena lupa ingatan, tapi dia ngak bodoh ya😝
Double Upp? mau?