Istri Cantik Tuan Muda Kejam

Istri Cantik Tuan Muda Kejam
S2. Sepupu.


^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Alena mengemudikan kendaraan beroda empat itu dengan pikiran yang berkecamuk, ya dia akui jika perasaan nya pada Rio sang seniornya itu masih tetap ada dan sama seperti hari dimana mereka pertama bertemu, meski Alena pernah membuka hatinya pada beberapa pria yang menjadi mantan pacarnya dulu, tetap saja cintanya hanya satu untuk Rio seorang.


Takdir seolah mempermainkan nya, membuat dia harus berada di posisi ini, posisi dimana dia ingin memilih cintanya tapi ego nya sudah memasuki lembah kegelapan, dan dia sudah terjebak di dalam kegelapan itu.


Sulit bagi Alena melupakan rasa itu, bahkan untuk membuang rasa yang sudah terpendam lama itu rasanya sangat sulit, meratapi nasib nya yang kini telah masuk kedalam drama pernikahan lelucon mungkin adalah hal yang


utama untuk Alena sekarang.


"Kak Rio andai saja waktu itu kakak ada di sampingku, menemani ku di saat hari-hari penuh kesedihan itu, mungkin aku tidak akan masuk terlalu dalam kedalam kehidupan yang penuh ambisi ini." gumam Alena sambil mengemudikan mobil nya.


Nasi sudah menjadi bubur, dia menyesal dengan semua nya yang telah dia lakukan seharusnya dia tidak senekat ini, menghalalkan segala cara hanya untuk ambisi balas dendam nya, tapi satu sisi dia juga ingin melihat orang yang menertawakan kehancuran keluarganya itu menderita.


" Ingat mereka yang membuatmu menderita, mereka yang membunuh ayah mamah mu, jangan lupakan semua rasa sakit itu."


Alena menghela nafasnya, seharus nya Rio memang tidak datang lagi kedalam kehidupan nya, hanya membuat rencana dan ambisinya buyar karna terlalu memikirkan masalah cinta yang belum tentu mengarah kemana.


"Itukan Damar, sedang apa dia disana." guman Alena melihat sosok pria yang dia kenali.


Karna penasaran Alena pun turun dari mobilnya, dia berjalan mendekati sosok pria berbaju kemeja dengan jas yang di taruh di samping tangan nya itu.


"Damar." ucap Alena sambil memegang bahu pria di depan nya.


Pria yang sedang duduk di bangku taman itu membalikan posisinya menjadi menghadap ke sumber suara. "Alena, kamu.." ucap pria itu nampak kaget.


Alena mengangguk lalu duduk. "Iya ini aku, kamu kemana kok ngak datang ke pemakaman ayah dan mamah aku." tanya Alena sambil menatap wajah pria di samping nya yang tak lain adalah Damar Gani sepupunya, anak dari Dean om nya.


"Sebenarnya aku datang Al, tapi aku terlalu malu memperlihatkan wajah ku di depan mu." batin Damar nampak sedih.


"Maaf Al, waktu itu aku sedang di luar kota, jadi tidak bisa menghantarkan om dan tante ke peristirahatan terakhirnya." bohong Damar, dia tidak mungkin memberitahu kenyataan sebenarnya jika Papah nya melarang dia untuk menemui Alena.


Alena tersenyum kecut, "Aku paham ko, oh iya Damar selamat ya untuk status kamu sekarang, aku turut senang akhirnya ayah kamu bisa jadi CEO." ucap Alena dengan menekan kata CEO, lalu tersenyum terpaksa yang membuat Damar semakin tersudutkan.


"Al___ " ucap Damar terhenti.


"Sudahlah, aku mau pulang dulu Damar." ucap Alena. " Oh iya titip salam untuk papah mu, bilang padanya tidak akan ada yang abadi jika mengambil hak orang lain, karma akan segera tiba, jangan lupa bilangin ya, bye." sambung Alena lalu berjalan setelah mengatakan itu, jujur saja dia sangat membenci om nya sampai kapan pun dia akan tetap membenci om nya.


"Andai kamu tau Al, aku sama sekali tidak menginginkan hal itu, maafkan aku Al, andai kamu mau menerima cintaku mungkin aku ngak akan menyetujui permintaan papah yang gila itu." batin Damar.


"Aku akan balas dendam, kalian yang membuat kehidupan ku menjadi berantakan." gumam Alena sambil menancap gas pedal dengan kecepatan yang maksimum, dia mengendarai mobilnya menuju rumah si tuan muda, tidak sadar jika hari sudah mulai sore, dan posisi Alena masih jauh untuk arah pulang.


Alena berjalan mengendap-endap layak nya maling, jujur saja Alena takut jika Arka si tuan muda itu sudah pulang mengingat biasanya Arka selalu pulang tepat waktu yaitu jam 5 sore dan sekarang sudah hampir jam 7 malam, dan bisa di bayangkan jika Arka sudah pulang, mungkin dia akan mendengarkan hinaan berupa ucapan pedas dari suaminya atau lebih tepatnya majikan nya.


"Semoga si tuan kejam itu belum pulang, aku malas mendengarkan ocehan pedasnya." batin Alena penuh harap.


Prok..prok..prok..


"Bagus ya, sudah mulai berani melanggar? mau menjadi gelandangan?." suara yang tidak asing membuat Alena berhenti melangkah dan langsung membalikan posisi tubuhnya menjadi menghadap ke arah sumber suara.


"Sial, kenapa dia harus pulang cepat sih." gerutu Alena di dalam hati sambil melihat pria yang berdiri di depan nya, lengkap dengan tangan yang di silangkan di dada seolah memperlihatkan jika dia adalah penguasa di tempat yang Alena pijak.


"Emm tuan maaf, tadi aku banyak tugas." ucap Alena berbohong, tidak mungkin dia bicara jujur tentang semua aktifitasnya di kampus dan pasca pulang tadi yang bertemu dengan sepupunya.


"Untuk hari ini kamu bisa terlambat pulang, tapi untuk esok dan seterusnya jika kamu melanggar pelaturan maka bersiap lah untuk menjadi gembel." ucap Arka tegas.


Alena mengangguk cepat. "Iya tuan, ini yang terakhir." jawab Alena.


"Dan Pipimu kenapa?." tanya Arka dengan wajah yang masih dingin.


Alena memegang pipinya, memang masih terasa ngilu dan perih saat di pegang, "*H*uh, pantes aja dari tadi ngilu orang masih merah." batin Alena mengerutu sambil melihat layar ponselnya yang memperlihatkan gambar pipianya yang dia zoom.


Tidak mendapatkan jawaban dari Alena membuat Arka kesal lalu berjalan mendekati Alena. "Kau tuli !! aku tanya kenapa pipi mu merah?." nada bicara tinggi itu kembali terdengar di telinga Alena yang membuat Alena kebingungan untuk mencari alasan yang tepat, tidak mungkin dia mengatakan sejujurnya jika dia di tampar karna di tuduh menjadi perusak hubungan seniornya di kampus.


"Emmm ini, emm..jatuh tuan." jawab Alena berbohong.


Arka menghela nafasnya, mencoba untuk meredakan amarah nya karna mendengar ucapan Alena yang penuh dengan kebohongan. "Kompres dengan es batu biar tidak membengkak." ucap Arka. "Dan setelah itu pergi ke kamar ku." sambung Arka lagi lalu pergi begitu saja, meninggalkan Alena yang mematung di tempat nya.


"Apa yang dia makan tadi? kenapa tiba-tiba perhatian? apa jangan-jangan dia jatuh cinta padaku? oh..wajah ku yang cantik ini pasti telah membuat dia tergoda." Batin Alena yang sudah berpikir jauh.


Alena berjalan ke dapur untuk mengambil es batu di kulkas, lalu mengkompres pipinya dengan es batu sesuai perintah si tuan muda.


"Aku yakin dia pasti tidak tega melihat penderitaan ku, semoga dia cepat-cepat membantuku untuk membalaskan dendam ku, dan setelah itu aku akan pergi dengan rasa yang tenang karna telah mengobati rasa sakit hatiku." gumam Alena sambil berkhayal jika Arka mulai menerimanya, dan jika di lihat dari wajah Arka tadi Alena yakin jika Arka sudah mencintainya.


"Ternyata membuat dia jatuh cinta sangat mudah."


___________


🌹🌹🌹🌹🌹


Alena bersiaplah.. jeng..jeng..jeng..


Aku Upp terus tapi like and coment dikit, apalagi Vote ngak ada😐ngak semangat jadinya, hiks.