Istri Cantik Tuan Muda Kejam

Istri Cantik Tuan Muda Kejam
S2. Hamil.


^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Hoek..


hoek..


Alena kembali memijat pelipisnya, mual dan pusing seolah menjadi rutinitas rutin nya saat ini, ia masih belum siap untuk mengecek ke dokter maka dari itu hari ini Alena akan keluar untuk membeli alat tes kehamilan di apotek terdekat.


"Mau kemana sayang? ko buru-buru gitu?." tanya Ririn membuat Alena menghentikan langkahnya.


Ia tersenyum kikuk, bingung untuk menjawab apa, ingin berbohong tapi Alena takut akan dosa mengingat Ririn adalah mertua yang paling baik sedunia.


" Ini Mom aku mau, emm." ucap Alena mengantung dan sedikit ragu, ia masih takut jika hal-hal yang sering di alami nya itu bukan fase kehamilan melainkan magh.


Melihat Alena yang nampak ragu Ririn tersenyum, ia membawa menantunya untuk duduk bersamanya. "Jangan sungkan, Jika ada masalah cerita pada Mommy ya, karna Mommy akan selalu ada untuk kamu." ucap Ririn memberikan celah untuk menantunya merenung.


"Aku mual dan pusing Mom." ucap Alena sambil menunduk.


Ririn diam mendengarkan, "Lalu?." tanya Ririn belum ingin menduga hal yang lebih.


Alena mengerjapkan matanya, menatap wajah teduh sang mertuanya. "Karna penasaran jadi aku ingin membeli alat kehamilan." sahut Alena lagu.


Ririn terdiam, "Kapan terakhir kamu menstruasi?." tanya Ririn.


"Bulan lalu, dan sekarang sudah telat." jawab Alena.


Seketika Ririn membungkam bibirnya lalu dia tersenyum bahagia, "Alhamdulilah ya alloh, Mommy akan memiliki cucu." ucap Ririn antusias membuat Alena sedikit melengkungkan senyuman nya, dia bahkan belum memeriksa kehamilan nya tapi mertuanya sudah sangat sebahagia ini.


"Mom, tapi aku belum___" ucap Alena terhenti karna melihat Arka dan Rafa yang datang bersamaan dan menghampiri mereka.


"Kenapa sayang? wajah nya nampak sangat bahagia." tanya Rafa heran melihat wajah istrinya yang memperlihatkan wajah seperti orang yang baru mendapatkan undian uang satu gudang saja.


Alena hanya terdiam begitupun dengan Arka yang diam-diam melihat Alena yang nampak memperlihatkan raut wajah kebingungan.


"Apa yang Alena lakukan sehingga Mommy bisa sebahagia itu." batin Arka bertanya-tanya.


"Astaga Dad, sebentar lagi kita jadi Oma, Opah." ucap Ririn sambil tersenyum.


Rafa yang tidak mengerti mengerutkan kaningnya, begitupun dengan Arka yang sama-sama memperlihatkan wajah kebingugan.


"Maksudnya?." tanya Rafa dan Arka bersamaan, lalu keduanya saling melirik dan terdiam.


Ririn melirik Alena, "Emm aku telat datang bulan, mual dan pusing." ucap Alena pelan.


"Itu adalah ciri-ciri hamil muda, Alena hamil Dad." ucap Ririn lagi tak lupa dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.


"Hamil?." ucap Rafa dan Arka bersamaan lalu melirik Alena yang sedang terdiam dengan wajah yang datar.


"Kenapa dia tidak mengatakan hal ini padaku, aku suaminya tapi dia malah mengatakan hal ini lebih dulu pada Mommy." batin Arka kesal.


Arka menarik tangan Alena paksa, "Ikut aku." ucap Arka sambil menarik Alena paksa.


"Lepaskan sakit." ucap Alena sambil mencoba menepis tangan Arka.


Ririn melotot melihat apa yang di lakukan putranya, "Dad.." ucap Ririn sambil mengoyangkan tangan suaminya.


Rafa melirik. "Kita lihat saja, aku yakin Arka tidak mungkin berbuat hal aneh pada istrinya apalagi istrinya kini telah mengandung anak nya, tidak ada seorang ayah yang membenci anaknya." ucap Rafa sambil memeluk tubuh ramping sang istri.


"Semoga saja." ucap Ririn dengan helaan nafasnya yang berat, melihat sikap Arka yang seperti itu membuat Ririn kesal karna semua yang Arka miliki benar-benar copasan suaminya.


"Jadi udah siap jadi Oma?." Rafa menggoda istrinya.


Ririn tersenyum. "Kamu siap jadi Opah?." tanya balik Ririn.


"Tentu saja, aku bahkan akan membuatkan acara meriah untuk menyambut kehadiran anggota baru di keluarga Raid, semua orang harus tau kalau kita akan memiliki cucu." ucap Rafa.


Ririn mengelengkan kepalanya, dia rasa itu terlalu berlebihan, "Jangan terlalu berlebihan, sebaiknya kita mengadakan syukuran berbagi dengan anak-anak yatim dan orang tidak mampu saja, itu jauh lebih bermanfaat di bandingkan dengan berpoya-poya tidak jelas." ucap Ririn bijak, dia yakin jika suaminya membuatkan acara pasti pengeluaran bukan sedikit tapi uang yang di keluarkan bisa untuk membeli rumah mewah baru ataupun mobil baru.


Sementara itu di dalam kamar nampak Alena yang sedang melongo melihat apa yang di lakukan Arka, bagaimana tidak jelas tadi Arka membawa paksa Alena untuk mengikutinya dan sekarang setelah sampai di dalam kamar pria itu malah mengelus perutnya dan berulang kali menghujani ciuman pada perut ratanya.


"Sudah geli." ucap Alena sambil mencoba menjauh dari jangkauan tangan dan kepala Arka.


Nihil Arka menahan pingang nya sehingga Alena hanya bisa pasrah saat Arka kembali menghujani ciuman di perutnya lagi, "Jangan bergerak, bayiku merindukan papah nya." ucap Arka sambil menenggelamkan wajahnya di perut rata Alena.


"Ini hukuman." sahut Arka masih betah menenggelamkan wajahnya di perut Alena.


Alena mengerutkan dahinya, "Hukuman apa?." tanya Alena merasa tidak memiliki salah apapun.


"Karna kamu menyembunyikan kehamilan mu." sahut Arka lagi.


"Aku tidak menyembunyikan nya, aku baru merasakan mual selama 3 hari ini, dan akupun belum memeriksanya." tegas Alena.


Arka mendongkakan wajahnya untuk menatap Alena, "Maka dari itu kita harus memeriksa bayi kita." ucap Arka dengan menampakan wajah bahagianya.


"Aku tidak akan masuk dalam drama gilamu, aku tau kamu tidak sepenuhnya menginginkan bayi ini, aku tidak akan tertipu lagi Arkasya." batin Alena.


"Untuk apa?." tanya Alena dengan wajah datarnya.


Arka membenarkan posisinya menjadi duduk. "Tentu saja untuk melihatnya, kita harus tau berapa usianya." ucap Arka antusias.


Alena tersenyum sinis. "Apa telingaku yang bermasalah? sejak kapan kamu menjadi seantusias ini? bukan kah kamu tidak pernah menganggap ada kehadiran ku?." ucap Alena tanpa menatap Arka.


"Tidak, siapa bilang." Arka mengelengkan kepalanya.


"Sudahlah, aku tidak mau ribut dengan mu, bukan nya kamu mau kerja? sana pergi bekerja, aku bisa mengurusi diriku sendiri." ucap Alena sambil beranjak berdiri.


Arka terdiam, mencoba untuk tidak marah dengan apa yang dikatakan Alena yang memang nyata adanya, "Alena aku Papah nya, aku berhak untuk menyayanginya." ucap Arka membuat langkah Alena terhenti.


"Aku tau, tapi aku ibunya, dan dia masih di dalam rahimku, dan selama anak ku masih di dalam perutku aku tidak mau anak ku merasakan rasanya tidak dianggap dan di jauhi." tegas Alena sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.


Arka yang melihat Alena seperti menahan sakit langsung beranjak dari ranjang dan langsung berjalan mendekati Alena.


Brukk..


Alena pingsan, beruntug dengan gerak cepat Arka bisa menahan tubuh Alena sehingga Alena tidak ambruk ke lantai.


"Maaf." ucap Arka sambil memeluk Alena, lalu membaringkan tubuh Alena di tempat tidur.


Ririn dan Rafa kaget saat melihat seorang dokter wanita yang berjalan dengan terburu-buru menaiki tangga, keduanya mengekori merasa ada yang tidak beres, dan mereka juga yakin jika terjadi sesuatu pada menantu dan calon cucu pertama nya.


Sesampainya di kamar sang putra Ririn dan Rafa di suguhkan dengan pandangan dimana menantu nya sedang terbaring tak berdaya di dalam kamar, sedangkan Arka nampak berdiri dengan wajah khawatirnya.


"Ada apa, kamu apakan menantu Daddy." tanya Rafa geram.


Arka mengelengkan kepala, "Aku tidak berbuat apa-apa Dad, kita hanya sedikit berdebat lalu Alena pingsan." jawab Arka tanpa kebohongan sedikitpun.


Ririn menghela nafasnya, dia sendiri tidak tau masalah apa yang di hadapi anak menantunya, tapi jika di lihat dari Alena yang nampak selalu menyendiri dan murung Ririn yakin jika Alena sedang memiliki masalah, dan ia juga yakin jika dalang dari segala masah yang di lalui menantunya itu adalah ulah putranya mengingat Arka selalu bersikap seenaknya.


"Jika kamu mencoba menyakiti hatinya lagi Mommy tidak akan pernah memaafkan mu Arka, sadarlah Alena istrimu dia ibu dari anak mu." ucap Ririn, jujur dia masih menyimpan kekecewaan pada putranya yang sama sekali tidak ada perubahan.


Arka memilih diam, dia mengalihkan padangan nya ke arah Alena. "Bagaimana? apa istriku tidak apa?." tanya Arka pada sang dokter.


Dokter wanita itu tersenyum. "Tidak tuan, nona muda hanya sedikit setres dan hal itu mempengaruhi kehamilan nona yang memang masih renta." tutur sang dokter.


"Hamil?." tanya Arka.


"Iya tuan, kehamilan nona muda sudah memasuki minggu ke 3, dan sebaiknya nona tidak memiliki beban fikiran yang bisa membuat nya setres karna kehamilan nona muda ini sangat renta." ucap sang dokter lagi.


Rafa dan Ririn tersenyum, ternyata mereka benar-benar akan menjadi seorang Opah dan Oma, sedangkan Arka hanya terdiam dengan wajah yang tidak bisa di artikan.


"Aku bahkan hampir mencelakakan anak ku, papah macam apa aku ini." batin Arka lalu pergi begitu saja keluar dari kamar meninggalkan Alena, dokter dan kedua orang tuanya yang masih sibuk menanyakan fase kehamilan.


"Biarkan saja, dia harus merenung." ucap Rafa menahan tangan istrinya.


__________


🌹🌹🌹🌹🌹


Percayalah membuat ide di saat perut berteriak itu sangat sulit, dan Author sebagai penulis pemula juga merasakan hal itu.


Maaf Upp nya ngak bisa Crazy soalnya ide nya cuman dateng saat SAHUR aja.


Jangan lupa jejak !!


Mampir juga ke karya Lia dan 3 cwo ganteng nya.