
^^H A P P Y R E A D I N G^^
๐น๐น๐น๐น๐น
Setelah kepulangan keluarga nya dan kerabat suaminya Lili mendekati mertuanya, dan lagi-lagi ucapan selamat kembali dia dapatkan dari keluarga suaminya.
"Andrian kemana?." tanya Dian.
"Lagi ngobrol sama Kiano Bun." jawab Lili seadanya.
"Lili, hati-hati." ucap seorang wanita matang, yang tak lain adalah Hanny.
"Hati-hati apa Ma?." tanya Lili, panggilan Mama itu tercifta karna permintaan Hanny yang menginginkan Lili tuk memanggilnya dengan sebutan Mama.
Hanny tersenyum simpul pada sang kakak ipar, dan hal itu tentu saja membuat Dian melotot, pikiran nya ber-arah pada satu hal, apalagi dia tau ke bar-bar an adik nya itu sangat lah tidak bisa di anggap remeh.
Tatapan tajam berhasil Dian berikan pada adik ipar nya, namun Hanny seolah membalasnya dengan ledekan. "Haha, apa ya reaksi Lili kalau aku bahas MP (Malam pertama)." begitulah arti tatapan Hanny.
Sedangkan arti tatapan Dian."Jangan cuci otak polos menantuku, atau aku kirimi sayur capcay buatan ku."
"Andrian akan makan." kata Hanny sambil menutup mulutnya, merasa puas saat melihat kakak iparnya mengeratkan gigi nya seolah sedang menahan kekesalan.
Lili yang polos mengartikan jika Andrian lapar, dan sebagai istri yang baik dan pengertian tentu saja Lili ingin membuat suaminya senang baik masalah perut atau pun masalah lain nya, Lili akan berkerja keras untuk menjadi istri idaman.
"Hanny kamu suka capcay kan." tanya Dian.
Dan pertanyaan itu jelas saja membuat Hanny merasa mual, masih jelas di ingatan nya saat dia memakan makanan aneh itu, rasanya asin, pedas dan sejak kapan capcay memakai kecap?.
Melihat Hanny yang diam Dian kembali bersuara. "Besok aku akan mengantarkan nya untuk mu, masakan ku kali ini pasti akan lebih enak dari yang bulan lalu." sambung Dian lagi.
Siapa yang mau masakan super tidak enak itu, lebih baik Hanny makan masak-masakan nya sendiri dari pada memasak makanan kakak iparnya, meski rasa masakan nya sama tidak enak tapi setidaknya Hanny tau apa saja rempah yang dia masukan kedalam masakan nya.
"Tidak usah repot-repot kak, masakan suamiku jauh lebih lezat dari masakan resto berbintang." kata Hanny tegas.
"Lili suka capcay." Lili ikut menyahuti.
"Ini khusus untuk Mama Hanny Lili sayang, nanti kalo Lili mau Bunda bisa minta buatin Ayah untuk masakin capcay buat mantu tersayang bunda." kata Dian dengan lembut.
Dan hal itu tentu saja membuat Hanny cemburu, apalagi mengingat putranya yang sama sekali tidak peka dengan keinginan nya untuk segera mendapatkan cucu.
Saat sedang berkumpul Zex dan Rey datang ikut bergabung dengan para istrinya, dan ternyata mereka datang di saat yang genting dimana Hanny yang bar-bar kembali menggoda Lili yang polos.
"Ajak istri mu pulang Zex, ke bar-bar an nya bisa membuat menantu ku tercemar otak nya." Batin Rey.
"Ingat Rey dia adik mu, ke bar-bar an nya sama dengan mu." batin Zex tak terima.
"Aku tau, tapi Lili menantu ku tidak boleh memiliki sikap bar-bar, dia masih kecil." batin Rey.
Zex mendelik, "Cih masih kecil? kalau sudah tau masih kecil kenapa di nikahkan, prodofil." batin Zex lagi.
"Sayang ayo pulang." Ajak Zex akhirnya, dia malas berdebat dengan kakak iparnya, apalagi tatapan Rey yang tajam seolah mengusirnya.
Hanny menoleh pada suaminya, dia masih belum puas menggoda menantu sang kakak, dia mau tau seberapa mesum nya Lili.
tapi melihat wajah tampan suaminya mana tahan Hanny menolak ajakan suaminya untuk pulang?, sudah tentu dia akan menurut.
Setelah kepergian Hanny dan Zex, Lili yang memerah bak tomat karna mendapatkan banyak pertanyaan aneh dari Hanny hanya bisa menahan malu nya, apalagi sampai sekarang Andrian tak kunjung datang menjemputnya.
Lili masih menunduk malu, dan hal itu membuat Rey dan Dian kesal pada Hanny yang telah membuat Lili malu, "Dasar adik ipar bar-bar awas aja ratusan sayur capcay besok akan aku lempar ke meja makan rumah nya." batin Dian.
Disisi lain Andrian yang sedang bersama Kiano nampak masih sibuk mengobrol, sedangkan Arka pria yang sudah menjadi bapak dari satu orang putra itu telah pulang duluan karna si gembul Bian yang menangis karna mengantuk.
"Pikirkan lagi, jangan bebani pikiran mu dengan hal yang membuat mu pusing, tapi utamakan perasaan mu." kata Andrian menasehati, meski disini Andrian hanya terpaut satu tahun lebih tua dari Kiano, tapi jelas dia lebih banyak memiliki pengalaman dalam bercinta.
Kiano menghela nafasnya, dia sendiri masih bimbang dengan isi hatinya, tapi saat mendengar Bara mengatakan Ira sebagai calon tunangan nya hal itu jelas membuat api cemburu berhasil keluar dari dirinya.
Dia tau pada akhirnya Ira akan di jodohkan oleh orang tuanya, dan Kiano tidak tau jika yang di jodohkan dengan Ira ternyata adalah Bara, sehingga membuat Kiano menjauhi Ira karna merasa telah di bohongi.
Jelas Ira pernah mengatakan padanya jika Ira ingin mencari pacar, tapi siapa sangka jika pacar Ira ternyata adalah pria yang akan di jodohkan dengan nya, meski keluarga Rafasya belum mengatakan siapa pria yang di jodohkan dengan Ira, tapi jelas dari segi segalanya Kiano sudah yakin jika Bara adalah orang nya.
"Ini sudah larut, istrimu pasti sudah menunggu." Kata Kiano, dia ingin menenangkan hatinya yang masih penuh pikiran tentang Ira.
Andrian baru sadar jika dia mengobrol sangat lama dengan sepupunya bahkan sampai melupakan Lili istrinya.
"Astaga aku hampir lupa jika aku baru menikahi seorang gadis." kata Andrian sambil tersenyum, "Segera pikirkan, ingat sebelum janur kuning melengkung dia bukan milik siapa-siapa dan jangan bohongi perasaan mu, jelas-jelas sejak kecil kalian sudah saling menyayangi." sambung Andrian lagi.
Setelah kepergian Kiano, Andrian berjalan ke arah kamar hotel yang sudah dia sewa selama dua hari, dengan senyuman nya yang mengembang Andrian berjalan ke arah pintu dan membuka pintu.
"Lili sayang.." ucapnya pelan.
Tak mendengar sahutan dari istrinya membuat Andrian berjalan mendekati ranjang, dia mendengar suara gemercik air dan hal itu membuat Andrian tersenyum penuh arti.
"Lili sayang, aku masuk ya..aku juga mau mandi." ucap Andrian sedikit berteriak dan tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka.
Andrian sudah memasang senyuman di wajah tampan nya, namun dia di buat melotot saat melihat siapa wanita yang keluar dari kamar mandi nya.
"Bunda, kenapa bunda ada di kamar ku?." tanya Andrian heran, melihat bunda nya yang memakai daster.
Dian berjalan melewati sang putra ke arah ranjang, "Lili minta di temenin bobo, udah sana tidur sama Ayah kamu, lagian siapa suruh malam pengantin istri di tinggal-tinggal jadi kan Lili nya males sama kamu."ucap Dian seraya memakai sceanker.
"Lili sayang.. kamu dimana?." ucap Andrian sambil berjalan ke kemar mandi.
"Lili tidur, kamu ngak liat apa siapa yang meringkuk di ranjang?." kata Dian lagi sambil menunjuk Lili yang meringkuk di belakang nya.
Andrian memang tidak tau jika gumpalan selimut itu berisikan istrinya, "Bunda pergilah, biar aku yang menemani Lili." ucap Andrian.
"Ngak ada ya, sana keluar.. bunda mau ngerasain nemenin tidur anak gadis, udah kamu tidur sama ayah aja." usir Dian, dia tidak mau menyiakan waktu nya untuk bisa tidur dengan sang menantu, dia belum pernah merasakan tidur dengan anak gadis dan sekarang adalah waktu nya, sebelum Lili menjadi tidak virgin karna ulah putranya.
Dengan helaan nafas kesal dan wajah lesunya akhirnya Andrian keluar dari kamar pengantin nya, malam pengantin yang dia persiapkan dari jauh-jauh hari hanyalah angan, Andrian tidak bisa menolak perintah sang bunda.
Ceklek...
"Sudah son ayo tidur, masih banyak waktu untuk menerobos gawang." ucap Rey yang tengah memejamkan matanya.
Andrian mengangguk. "Ya, bunda menang." ucap Andrian sambil berjalan ke arah kamar mandi, akhirnya malam pengantin nya berakhir di bawah guyuran shower, Andrian kesal tapi bisa apa dia, bunda nya memang selalu bisa memanfaatkan waktu.
__________
๐น๐น๐น๐น๐น
Udah ketawa belum?
Jangan lupa like coment and voteโฅ๏ธ