
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi menyapa Arka mengucek matanya saat tidak merasakan seseorang di samping nya, dan benar saja saat Arka mengubah posisinya dia tidak mendapatkan Alena di samping nya, "Kemana dia, pagi buta sudah hilang." gumam Arka sambil membenarkan posisinya dari tiduran menjadi duduk.
Tidak mungkin Alena keluar dan beres-beres ataupun yang lain nya, dia tau Alena tidak di perbolehkan oleh Mommy nya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, terkecuali memasak, dan itupun juga harus di temani oleh sang Mommy.
Samar-samar Arka mendengarkan suara gemercik air dari dalam kamar mandi, dan tak lama kemudian Alena keluar dengan handuk yang melilit di tubuh dan di atas kepelanya.
Arka terus melihat gerak gerik Alena dari memakai pakaian sampai Alena duduk di kursi depan meja rias.
"Mau kemana? ini masih pagi." tanya Arka.
Alena melirik. "Bukan urusan mu." sahut Alena dingin.
"Aku suami mu, kemana pun kamu pergi setidak nya bicara padaku." sahut Arka takalah dingin.
Alena memicingkan matanya. "Lalu apa bedanya dengan kamu? apa kamu selalu bicara padaku jika kamu pergi ke mana pun? bahkan sampai pulang larut setiap malam?, pernah?." sahut Alena lagi.
"Jaga batasanmu Alena, jangan memulai keributan, kamu istriku dan aku berhak mengaturmu." tegas Arka lagi.
"Kalau aku tidak mau di atur bagaimana?." Alena berkata dengan nada mengejek, "Aku juga mau pulang larut malam dan menghabiskan waktu ku di luar, impas bukan." sambung Alena dengan wajah datarnya.
"Diam disini, kamu tidak boleh pergi." geram Arka.
"Kenapa?." tanya Alena.
"Karna aku tidak memberimu ijin."
Alena terdiam, dia sudah membuat janji dengan Dinar untuk berkunjung bersama ke makam orang tuanya, dan Alena ingin tau banyak tentang dirinya dan apa yang membuat dia menjadi hidup sebatangkara, Alena yakin jika kehidupan nya yang sekarang bukanlah kehidupan yang dia inginkan mengingat tidak ada satupun hal yang dia bisa ingat dari rumah besar mertuanya.
"Aku tetap akan pergi meski tidak di ijinkan." ucap Alena lagi.
Arka yang marah bangkit dari tempat tidur berjalan mendekati Alena dengam wajah marahnya, "Aku bilang tidak ya tidak, apa kau tuli." teriak Arka sambil memberantakan make up milik Alena yang tertata di meja rias.
"Sudah cukup Arka." teriak Alena takalah keras. "Aku bukan boneka mu, aku bukan pajangan, aku Alena gadis yang kamu nikahi, kamu sendiri yang menjauhiku lalu kenapa sekarang kamu tiba-tiba mengatur kehidupan ku, apa hak mu Arkasya." sambung Alena dengan kata-kata penuh tekanan.
Keberanian Alena tercifta bukan tanpa sebab, dia sudah jengah dengan hubungan nya dan Arka yang tidak memiliki jalan pintas, bagi Alena hubungan nya dan Arka sangat penuh drama, Alena tidak menyukai sesuatu yang berbau kebohongan, dan Arka melakukan semua itu.
"Katakan apa kamu pernah sekali membuat aku merasa menjadi istrimu? tidak bukan? lalu kenapa kamu sekarang malah bersikap seolah-olah kamu adalah suami yang baik?." Alena berkata dengan wajah penuh kemarahan nya.
Arka benar-benar di buat bungkam, dia tidak menyangka jika sikapnya yang cuek dan selalu paulang malam bisa membuat Alena tersakiti, dan Arka juga tidak tau apa yang harus dia katakan sekarang, jujur saja selama ini Arka memang selalu pulang larut, adapun itu karna Arka tidak mau mendesakan keinginan nya untuk melakukan hal suami istri dengan Alena, Arka tidak mau menjalani kewajiban nya tanpa rasa cinta.
Jika dulu dia melakukan nya karna marah dengan sikap Alena yang tidak sopan tiba-tiba menamparnya, maka berbeda dengan sekarang, Arka kasihan pada Alena yang bernasib malang di tinggalkan oleh kedua orang tuanya, Arka dapat melihat kesedihan itu di mata Alena dulu.
Meski Alena yang sekarang tidak sekeras dulu, tapi Alena tetap lah Alena gadis keras kepala yang pernah mau memanfaatkan nya yang berjung berkebalikan nya, "Alena aku hanya ing____ " ucap Arka terhenti karna melihat Alena yang seperti menahan sesuatu.
"Kamu kenapa Alena?." tanya Arka sambil memegang tangan Alena.
"Singkirkan tangan kotormu, aku tidak sudi di pegang oleh mu." ucap Alena sinis sambil menepis tangan Arka.
Arka terdiam, milihat Alena yang berlari kearah kamar mandi, suara pintu terdengar jelas karna Alena menutupnya dengan keras dan di susul oleh suara pintu di kunci.
Hoek..
Hoek..
Dan saat Alena mengingat-ngingat kapan dia terakhir kali datang bulan seketika Alena melotot, "Astaga aku telat datang bulan, apa ini artinya aku_____" ucap Alena terhenti karna suara bising dari luar pintu.
"Alena buka !! kamu kenapa, buka pintunya." teriak Arka sambil mengedor pintu kamar mandi.
"Berisik." ucap Alena sambil berdiri lalu berjalan ke arah kamar pintu.
Ceklek..
"Kamu tidak apa-apa?." tanya Arka terlihat cemas.
"Tidak usah drama." sahut Alena dingin.
"Aku suami mu jelas aku mengkhawatirkan mu, kenapa kamu bersikap seperti itu." ucap Arka sambil memegang tangan Alena.
Alena kembali menepis tangan Arka. "Suami? jangan katakan kata-kata itu lagi, aku cape, aku mau istitahat." ucap Alena sambil berjalan ke arah ranjang.
Arka melihat Alena yang menutupi separuh badan nya dengan selimut, dia mengerutkan kening nya saat melihat Alena yang nampak memijat pelipisnya terus menerus.
"Aku akan menelpo dokter, kamu sakit." ucap Arka.
Alena melirik Arka dengan tatapan tajam nya. "Tidak usah, aku tidak sakit." tolak Alena. "Urusi saja urusan mu di luaran sana, jangan perdulikan aku karna aku tau kamu tidak mencintaiku." sambung Alena sambil menutup seluruh badan nya dengan selimut sedangkan Arka hanya diam sambil melihat Alena dengan wajah yang susah di ungkapkan.
"Aku masih belajar Alena." batin Arka sambil mendengarkan suara isakan di balik selimut.
Disisi lain Dinar yang sedang berdandan setelah melewati malam panasnya, senyuman merekah terlihat di sudut bibir pink nan tipis itu, Dinar benar-benar sudah tidak sabar melancarkan semua rencananya, dan kembali menghasut Alena untuk membenci suaminya.
Saat meraskan ada pelukan di pingang nya dia berbalik. "Maaf Mr. kita bisa melakukan nya lain waktu lagi." tolak Dinar yang sudah terbiasa jika si pemenang judi itu meminta bermain lebih dari satu malam.
"Aku bisa membayarmu lebih mahal honey." ucap pria yang usianya masih 40 tahunan itu.
Dinar tersenyum pelayanan nya memang selalu mendapatkan tawaran yang memuaskan, tapi dia selalu menolak karna uang yang di tawarkan pria itu yang menurutnya kurang banyak.
"Berapa?."
"Terserah padamu, asal kau tinggalkan pria tua yang selalu menjual mu itu, ayo ikut dengan ku dan jadi wanitaku." ucap pria itu seraya mencium pundak putih Dinar.
Satu hal yang Dinar sykuri dari dirinya, dia memiliki paras yang cantik dengan body aduhayy seperti gitar spayol. "Akan aku pikirkan." sahut Dinar sambil tersenyum, dia mengenal pria itu karna pria itu sudah menjadi langanan nya di ranjang panas.
Pria itu ikut tersenyum, "Gadis bodoh, dan setelah kamu meningalkan si tua bangka itu kamu akan menjadi budak ku selama-lamanya." batin pria itu sambil tersenyum menyerigai.
____________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa Jejak !!
Mampir juga kecerita Lia dan 3 cwo ganteng dengan sejuta pesona nya❤