
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Dian membuka matanya saat merasakan aroma minyak kayu putih mulai tercium di hidung bengir nya, "Eughhh.." Dian melirik kanan kiri yang nampak hanya dingding berwarna abu-abu, dia baru tersadar jika dia sedang di kamar nya.
"Bangun juga kamu, ngerepotin aja." ucap bu Rita sambil beranjak bediri.
Dian mencoba mengingat-ngingat penyebab dia pingsan dan saat dia mengingat kejadian beberapa jam lalu seketika Dian melotot dengan tangan yang membungkam mulutnya.
Plak..
Dian memukul pipinya sedikit keras dan ya yang terasa hanya lah sakit yang mana membuat Dian kembali membulatkan matanya.
"Ini bukan mimpi, jadi aku beneran di lamar tuan Rey?." batin Dian bertanya-tanya.
"Tamu nya mana bu? mereka masih nungguin aku bangun kan?." tanya Dian pada ibunya.
"Nih minum dulu." bu Rita memberikan segelas air putih pada Dian, "Nyeselkan kamu, di bilangin ganteng ya ganteng, tamunya udah pada pulang baru aja lima menit yang lalu." sambung bu Rita lagi yang mana membuat Dian kembali membulatkan matanya.
" Aaa..ibu ko ngak di tahan dulu sih, kalo gini aku ngak jadi dong di lamarnya." rengek Dian.
"Lah bukan nya kamu emang ngak mau ya?." sahut bu Rita menggoda anak gadis semata wayang nya.
"Siapa bilang orang aku mau ko."sahut Dian cepat.
" Lah bukanya tadi kamu bilang ngak mau di jodohin, terus kata kamu tadi juga kan ngak jaman 2021 masih jodoh-jodohan." bu Rita semakin bersemangat menggoda anaknya.
"iihk..ibu itu kan tadi, kalo sekarang beda lagi." ucap Dian sewot sambil mengerucutkan bibirnya sambil berdiri.
"Mau kemana kamu?." tanya bu Rita yang melihat Dian berjalan.
Dian melirik, " Mau beli es cendol dawet di depan." ucap Dian. "kalo tau di lamar sama dia ngak mungkin aku pake pakaian kaya ibu-ibu rempong kaya gini, ibu sih ngak ngasih tau siapa yang lamar nya, kan jadi malu aku nya." sambung Dian sambil berjalan ke arah pintu.
Ceklek..
Deg..
Jantung Dian serasa sedang lari maraton, bagaimana tidak saat dia membuka pintu hal pertama yang dia lihat itu adalah sosok pria tampan yang tengah tersenyum padanya.
"Tu..an." cicit Dian pelan.
"Ayo duduk, acaranya belum di mulai kita masih nungguin kamu." ucap pria itu yang ternyata adalah Rey si mantan asisten mafia kejam.
Malu-malu Dian mengangguk sambil duduk di kursi yang di sediakan, "Si ibu jahat banget pake ngomong udah pada pergi lagi, kalo tau gini aku kan bisa dandan dulu biar ngak malu pas foto nya." gerutu Dian dalam hati.
Bu Rita kembali duduk dengan wajah yang menahan tawa nya, merasa berhasil telah mengerjai anak gadis nya yang memiliki gengsi selangit itu." Rasain emang enak di kerjain, lagian siapa suruh pake drama pingsan segala tambah malu kan sekarang." batin bu Rita sambil melihat Dian yang menunduk malu.
Setelah pak Andre selesai sekarang giliran Rey yang mengutarakan isi hatinya dan mengikat hati si wanita agar bisa selamanya tertuju padanya.
Rey menatap gadis yang selama dua tahun ini selalu berkeliaran di pikiran nya itu, dia tersenyum melihat Dian yang nampak malu-malu kucing saat bertatapan dengan nya, tidak ada lagi Dian yang jutek yang ada hanya Dian si gadis matrealistis yang nampak berpenampilan apa adanya, rasanya Rey ingin tertawa melihat tingkah Dian sekarang yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
"Aku Rey Anggara Parisky ingin menjadikan mu satu-satunya wanita yang menjadi ratu di hati ku." ucap Rey sambil berlutut tak lupa satu tangan nya memegang kotak kecil berwarna merah yang berisi cincin berlian.
"Dian Ayu Permatasari, maukah kau menjadi istri sekaligus ibu dari anak-anak ku kelak, setia menemaniku di saat suka maupun duka dan bisa menerima semua kekurangan ku?." Sambung Rey sambil memegang satu tangan Dian.
Dian mematung sungguh ini adalah hal yang tidak pernah masuk kedalam kamus kehidupan nya dimana dia di lamar oleh pria yang sempat dia ragukan akan arti cintanya, mengingat masa lalu membuat Dian ingin mengutuki semua sikap bodoh nya dulu, tapi beruntung tuhan masih berbaik hati padanya dengan membiarkan pria itu tetap memiliki perasaan padanya.
Angukan kecil berhasil di gerakan, Dian menarik nafasnya pelan." Ya, aku mau..aku bersedia." ucap Dian sambil tersenyum semanis mungkin, meski dia yakin ekpresi wajahnya sekarang nampak menakutkan karna make up ala badut masih menempel di wajah nya.
Rey tersenyum mendengar ucapan Dian yang menerima lamaran nya, cincin berlian itu berhasil dia pakaikan di jari lentik gadis pujaan hatinya, sungguh tidak ada hal yang membahagiakan lagi emm terkecuali uang hehe.
"Terimaksih kamu sudah mau menerima ku." ucap Rey yang masih berlutut.
Dian tersenyum." Harusnya aku yang bilang makasih, karna tuan sudah mau memperjuangkan aku meski dulu aku per_____" ucap Dian terhenti karna Rey tiba-tiba mencium kedua tangan nya dan langsung berdiri berhadapan dengan nya.
"Tidak apa, itu hanya masa lalu, aku tau cinta itu tidak bisa di paksakan, maka dari itu aku memberi waktu kamu satu tahun lebih agar kamu bisa merasakan arti cinta." ucap Rey seraya membelai pipi Dian.
Dian mematung merasakan geli dengan detak jantung yang terpacu begitu cepat, apakah ini rasanya jatuh cinta? benar-benar membuat Dian merinding, benar kata orang jika cinta bisa di rasakan jika seseorang yang benar-benar menyayangi sudah memilih menyerah, tapi Dian adalah wanita paling beruntung karna masih di beri kesempatan untuk mengakui perasaan nya yang sempat tertunda.
"Aku mencintaimu, pria matre ku." ucap Dian.
Rey terkekeh." Aku pun mencintaimu wanita matrealistis ku." sahut Rey sambil tersenyum lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Dian.
Yang pernah Dian lihat di flm-flm jika si pria sudah mendekatkan wajahnya pasti akan ada hal yang mencurigakan di balik kedekatan wajah itu, dan benar saja Rey terus mendekatkan wajah nya ke wajah Dian sampai hidung mancung Rey bersentuhan dengan hidung bengir minimalis milik Dian.
Dengan cepat Dian menutup matanya, ini adalah hal terintim yang pernah dia lakukan, meski usia nya sudah hampur 25 tahun tapi Dian benar-benar polos bahkan dia belum pernah berpacaran.
"Wajah mu seperti badut." bisik Rey di telinga Dian yang membuat Dian seketika membuka matanya dan melotot tak percaya, padahal khayalan nya sudah terbang jauh bebas.
"Nyebelin ngak ada romantisnya." ucap Dian sambil duduk terlihat merajuk.
Rey terkekeh." Tapi cintakan." ucap Rey dengan tawanya.
"Ya..ya cinta." sahut Dian. " Cinta uang nya ye." sambung Dian sambil tertawa yang membuat Rey gemas lalu mengacak rambut Dian.
_____________
🌹🌹🌹🌹🌹
Kasih ucapan selamat dong buat Rey yang baru melepaskan masa jomlo nya di usia yang ke 30 tahun.