Istri Cantik Tuan Muda Kejam

Istri Cantik Tuan Muda Kejam
Exstra part (Rafa dan Ririn).


^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Tidak pernah terbayangkan jika kisah cinta nya yang semula penuh dendam dan ambisi kini berubah menjadi penuh cinta dan berwarna, hadirnya anak dan cucu-cucu nya membuat pernikahan yang sudah berjalan hampir 37 tahun itu semakin menjadi lebih sempurna.


Banyak hal yang di lalui untuk mencapai kebahagian, begitupun dengan pernikahan Rafasya dan Ririn.


manis pahit kehidupan menjadi pelengkap untuk alur cerita hidup pernikahan nya.


Tidak akan ada satu pun orang yang tahu bagaimana kehidupan seseorang di masa depan, kebaikan dan cinta tulus dari dua anak manusia membuat kehidupan yang semula akan penuh kegelapan menjadi menemukan titik terang, dimana cinta menyatukan sosok yang kasar dengan sosok yang lembut.


"Yakin? ngak akan ada yang mau kamu bawa lagi?." tanya Rafa pada sosok yang masih cantik di usianya yang sudah kepala lima itu.


"Tentu saja yakin sayang, kita kan ngak lama disana." sahut Ririn sambil tersenyum.


Dia benar-benar senang karena akan kembali berlibur dengan suaminya, meski bukan liburan yang pertama kalinya tapi Ririn akan menjadikan liburan ini lebih indah dari liburan biasanya.


"Itu banyak loh sayang, kita bisa beli banyak disana barang-barang itu." lanjut Rafa ingin menggoda istrinya.


Ririn menggeleng, "Kita akan ke desa bukan?, maka dari itu aku harus membawa banyak persiapan buat jaga-jaga." sahut Ririn lagi, dia merasa harus membawa persiapan lengkap karena dia kini bukan lah wanita muda lagi, dia sudah memiliki tiga cucu yang sudah dewasa.


Begitulah wanita, liburan hanya seminggu sedangkan barang-barang yang di bawa sudah seperti orang yang akan pindah rumah saja.


Tapi meski bagaimana pun Rafa tetap sayang istri nya, istri kecilnya yang akan selalu menjadi pemilik hatinya.


Drett.. (suara panggilan telpon).


"Hallo."


"Oma..!! " terdengar suara nyaring suara cucu jahil nya di sebrang telpon, siapa lagi kalau bukan Arfan si tengil.


"Siapa?." tanya Rafa pada sang istri.


Dan Ririn tak menjawab, dia hanya tersenyum dan menggeser tombol lodspeker.


"Oma..!! Opa..!! kalian benar-benar tega hiks..Mama bilang Oma dan Opa mau jalan-jalan, ko ngak ngajak aku sih, Oma Opa jahat, pokonya Arfan kesel sama Oma." Arfan memulai drama nya.


"Arfan ganteng sayang jangan marah ya, Oma dan Opa janji bakalan bawain banyak mainan untuk Arfan sama kakak Bian." ucap Ririn lembut, dia mengiming-imingi mainan agar cucu kesayangan yang bawelnya minta ampun itu tidak marah lagi.


"Yang banyak Oma, jangan bawain mainan buat Nara ya Oma, pokok nya harus buat aku aja." kata Arfan lagi.


Ririn menyerhitkan dahinya, pasti ada masalah dengan cucu-cucu nya itu.


"Loh kok gitu?, Nara juga dong kan kalian semua cucu Oma." kata Ririn sangat lembut.


Dan saat itulah terdengar suara keluhan dari cucu nya, Arfan memang sangat berbeda dari Bian.


"Jadi begitu Oma, pokoknya Nara itu nakal."


"Udah ahk, ngak boleh gitu ngak baik tau kamu sama Nara kan sepupuan, harusnya kamu jagain Nara bukan malah ejek rambutnya." kata Ririn bijak tak lupa dengan kata-kata nya yang lembut.


"Opa! " panggil Arfan


Huh..


Tut..Tut..


"Arfan benar-benar mirip Anaira, ngak kaya Bian yang cool kaya Arka." kata Rafa.


Ririn menyimpan ponselnya dan duduk di samping suaminya.


"Ngak apa, setiap anak memiliki kepribadian yang berbeda-beda, dan cucu kita yang satu ini spesial." kata Ririn sambil tersenyum.


Sebuah kota yang mayoritas semua penduduknya adalah seorang petani dan pengrajin tanah liat.


Desa Grindelwald, merupakan salah satu desa


yang terletak di pegunungan Alpen, pemandangan nya yang indah dan udaranya yang sejuk membuat desa Grindelwald menjadi desa paling indah nomer satu di Swiss.


"Ini benar-benar indah." puji Ririn sambil melihat sekitarnya, tidak ada kepadatan rumah seperti di tempat tinggalnya, bahkan kecoa dan tikus pun tidak akan bisa bertahan lama di tempat ini karena desanya benar-benar jauh dari kata kotor, begitu pikirnya.


"Kamu suka sayang?." tanya Rafa.


Ririn mengangguk cepat. "Sangat suka, terimakasih sayang." kata Ririn sambil tersenyum manis.


Rafa senang istrinya bahagia, meski hanya satu Minggu menghabiskan waktu berdua di sini tapi Rafa benar-benar menyiapkan nya dengan sebaik mungkin, bahkan Rafa sampai membeli villa hanya untuk tempat berlibur nya.


Tiba-tiba suara alrm alam terdengar ke telinga Ririn, membuat Ririn langsung melirik ke sumber suara.


"Aku akan memasak." kata Ririn ingin melangkah pergi ke arah dapur.


Namun tangan nya di tahan oleh suaminya, dan hal itu membuat Ririn hampir terjatuh karena kaget, beruntung Rafa buru-buru menangkap tubuh istrinya.


Posisi keduanya saling bertatapan dengan posisi Ririn yang berada di dekapan suaminya.


untuk beberapa menit keduanya larut akan cintanya masing-masing.


"Siapa yang menyangka jika pria kejam yang dulunya sangat menakutkan untuk di pandang kini malah semakin candu untuk di tatap, satu-satunya pria yang berhasil membuatku merasakan cinta sejati, Rafasya Ammar Raid aku mencintaimu." batin Ririn.


"Dia tetap gadis kecilku, gadis lembut dan penyayang yang berhasil meluluhkan hati ku, kebencian yang ada dalam diriku dia hapus dengan sejuta kasih sayang yang dia berikan padaku, aku tidak tau seperti apa kehidupan ku jika tidak ada dirinya, Ririn Anatasya aku mencintaimu, sangat mencintaimu." batin Rafa masih dengan menatap sosok yang kini sedang menatapnya.


Sampai..


"Awww..!! " pekik Rafa merasa sakit.


"Kenapa?, apa yang sakit?." tanya Ririn panik.


"Pinggang ku, kumat." kata Rafa pelan, hampir tidak terdengar.


Buru-buru Ririn membantu suaminya untuk duduk di sopa, mencoba memijat bagian pinggang suaminya sakit.


faktor umur membuat Rafa sering encok, dan itu tidak terjadi satu dua kali.


"Bagaimana? apa masih sakit?." tanya Ririn dengan wajah cemas nya.


Rafa mengangguk pelan, membuat Ririn memeluk suaminya, "Apa kata dokter waktu itu?." tanya Ririn masih dengan memeluk suaminya.


"Dokter bilang hanya sakit pinggang biasa, jangan khawatir suamimu ini tidak apa-apa." kata Rafa sambil mengusap pelan kepala sang istri, ia tau istrinya sangat khawatir pada kesehatan nya.


Mendengar ucapan suaminya Ririn hanya diam, dia benar-benar takut kehilangan suaminya, bahkan jika bisa memilih Ririn dan Rafa ingin hidup bersama selamanya, sampai maut memisahkan keduanya.


Dan kembali terdengar suara alrm alam lagi.


"Astaga, perut kamu minta jatah."


"Jatah kamar?."


"Inget umur! " kata Ririn sambil tersenyum lalu berjalan ke arah dapur, ingin menyiapkan makanan untuk makan malam nya.


🌹🌹🌹🌹🌹


Bian udan sampai Epsd 71, yuk mampir ☺️