
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Di ruangan kamar nampak Kiano yang sedang berjalan mundar-mandir layak nya setrikaan, wajah nya nampak resah, gugup dan bercampur aduk.
Sudah 15 menit istrinya di dalam kamar mandi, dan itu membuat Kiano semakin penasaran dengan apa yang di lakukan istrinya di dalam kamar mandi.
"Sayang buka pintunya, kamu kenapa?." panggil Kiano sedikit berteriak.
Hening tak ada jawaban, istrinya sudah hampir tiga puluh menit berada di kamar mandi, dan itu tentu saja membuat Kiano yang menunggu istrinya merasa khawatir, takut terjadi sesuatu dengan istrinya.
Ceklek.. (Pintu terbuka).
Dengan cepat Kiano memegang tangan istrinya, melihat istrinya dari atas sampai bawah, nampak mencari luka atau hal yang membuat istrinya berlama-lama di kamar mandi.
"Kamu ngak papa? kenapa lama di kamar mandi nya?." tanya Kiano, menatap istrinya yang nampak terlihat aneh.
Bukan nya menjawab Anaira malah memeluk suaminya sambil menangis, lalu memberikan alat tes kehamilan yang sudah di gunakan tadi.
Kiano membalas pelukan itu, lalu melihat ke telapak tangan nya dimana terdapat alat tes kehamilan.
"Apa ini?." tanya Kiano, entah pura-pura tidak mengerti, padahal jelas dia melihat dua garis merah di alat itu.
Tapi seolah masih belum percaya Kiano memilih untuk bertanya lagi. "Apa ini." dia mengulang pertanyaan nya lagi dengan wajah yang nampak masih terkejut.
Anaira tersenyum, lalu mengambil tangan suaminya dan di taruh di bagian perut nya.
"Di perut ku ada Kiano junior, sayang." kata Anaira sambil menatap suaminya.
Degg..
Kiano membalas tatapan sang istri dengan tatapan penuh arti, kabar itu tentu saja membuatnya kaget, apalagi ini adalah pengecekan ke sekian kalinya yang di lakukan Anaira.
Sebelumnya Anaira memang selalu mengecek dengan alat tes kehamilan, dan hasilnya selalu negatif, dan itu membuat Kiano sangat sedih apalagi jika melihat istrinya murung setelah hasil tes nya.
Tapi sekarang? Kiano berasa mimpi, doa nya ternyata telah di dengar Tuhan.
"Sayang, kamu hamil?." Kiano merasa sangat terkejut.
"Iya sayang, aku hamil, di dalam perutku ada anak kita, buah cinta kita." sahut Anaira dengan senyuman yang sangat indah.
Rasanya Kiano sangat bahagia, setelah dia tidak egois dengan menerima jabatan CEO, dan membiarkan istrinya melakukan hal yang di inginkan nya kini berbuah keberkahan untuknya, dimana kini dia dan sang istri bisa di percaya oleh tuhan untuk menjaga malaikat kecil nya.
Meski masih berbentuk janin tapi Kiano sangat bahagia, dia menghujani ciuman di wajah istrinya berkali-kali, membuat Anaira terkekeh dengan kelakuan suaminya yang selalu manis saat bersamanya.
"Nanti siang kita cek ke dokter ya sayang." Anaira berucap sambil mengelus perutnya yang masih rata itu.
Kiano mengangguk, "Aku akan mengantarkan mu, aku juga ingin melihat malaikat kecil kita." sahut Kiano sambil tersenyum.
"Tentu saja kamu ikut, ini kan anak mu juga." seru Anaira lagi.
Kiano terkekeh, "Iya, anak kita." kata nya sambil berjongkok, lalu menatap perut istrinya dengan pandangan yang penuh haru.
"Sayang nya Papa yang sehat ya di perut Mama nya, Papa janji akan menjaga kalian berdua karna kalian adalah harta terbesar papa." kata Kiano sambil mengelus perut rata istrinya, lalu mencium perut istrinya beberapa kali.
Hal itu tentu saja membuat rasa geli menerpa Anaira, apalagi Kiano terus menerus menciumi perut nya yang masih rata itu, "Sayang sudah, aku geli hihi." Anaira terkikik kegelian.
"Makasih, makasih untuk semua kebahagian yang kamu berikan padaku, terimakasih karna telah bersedia menjadi pendamping pria sepertiku, aku mencintaimu, sangat mencintai mu sayang." kata Kiano beranjak berdiri dan membawa tubuh istrinya ke pelukan nya.
Anaira membalas pelukan suaminya, menghirup aroma maskulin sang suami dengan perasaan yang penuh kebahagiaan, kini dia telah di beri kepercayaan oleh tuhan untuk memiliki keturunan, dan Anaira akan berusaha untuk menjaga kepercayaan dari Tuhan untuk nya.
"Aku yang terimakasih, kamu sudah mau menikahi gadis manja ini, aku mencintaimu sayang." kata Anaira sambil mempererat pelukan nya.
Cupp..
Satu kecupan Kiano berikan pada wanita yang telah memberikan kebahagiaan pada nya, membuat Anaira yang merasakan kasih sayang yang luar biasa dari suaminya itu merasa sangat beruntung.
Siapa yang tidak beruntung jika memiliki suami yang penuh kejutan, bukan hanya tampan dan lembut, tapi suaminya adalah sosok pria yang bisa menghargai sosok wanita, dan Anaira bahagia karna bisa menjadi satu-satunya wanita yang di cintai oleh pria seribu kejutan itu.
"Ganti baju yu, aku ngak sabar buat cek bayi kita ke dokter." ajak Anaira berjalan ke ruangan baju.
Kiano mengikuti langkah istrinya, lalu mengambil pakaian yang di pilihkan sang istri, bukan hanya istrinya yang tidak sabar, tapi dia juga sudah tidak sabar untuk mengecek anak nya.
Sedangkan kan di tempat lain terlihat Arka yang baru pulang dari luar kota, wajahnya yang pucat membuat Alena terkejut karena tidak biasanya suaminya sepucat ini.
"Astaga sayang, apa separah ini ketakutan kamu sama si botak?." tanya Alena, sambil memberikan teh hangat untuk suami tercinta nya.
Arka mengangguk lesu, "Iya, melihat kepalanya membuat aku semakin mual sayang." kata Arka sambil meminum teh hangat nya.
Di usap kening suaminya dengan penuh kasih sayang, Alena sangat kasihan pada suaminya yang nampak sangat lesu, tidak seperti biasanya yang selalu ceria dengan pulang membawa banyak oleh-oleh dan mainan untuk putra nya.
Kehamilan kedua nya memang tidak menyusahkan nya seperti ngidam aneh-aneh, tapi sepertinya anak keduanya ingin mengerjai suaminya, terbukti dari apa yang Arka rasakan sekarang.
"Istirahat lah, aku akan membuatkan bubur untuk mu, jangan banyak gerak jika masih lemas." kata Alena lagi.
Cupp..
Satu kecupan dia berikan untuk suaminya yang sedang sakit, Alena tau ciuman nya akan membuat suaminya cepat sembuh.
Dan benar saja Arka tersenyum sambil menunjuk pipi nya, dan beralih ke bibirnya, membuat Alena menggelengkan kepalanya, tapi masih tetap melakukan nya dengan sepenuh hati.
Ceklek...
Tiba-tiba pintu terbuka memperlihatkan sosok bocah kecil yang nampak menampilkan ekspresi terkejut.
"Ih, Mama jorok, Papa kan muntah terus, ko di cium." Bian menatap jijik pada kedua orang tuanya.
Alena replek melepaskan ciuman nya, lalu menatap putranya kikuk, begitupun dengan Arka yang menggelengkan kepalanya melihat putranya yang memperlihatkan ekspresi seperti itu.
"Kemari, pijat Papa." kata Arka mengalihkan pembicaraan.
Bian mendekat, dia naik ke atas ranjang di bantu oleh sang Mama, dan setelah itu Mama nya keluar kamar meninggalkan nya dengan sang Papa.
"Papa, mana mainan." tanya Bian, mencoba memijat sang Papa, meski nyatanya pijatan nya tidak berasa sama sekali, tapi Arka tetap senang karena putranya menyayangi nya.
"Mainan nya nanti beli aja, Papa nya kan sakit jadi ngak bisa beli mainan pesanan kamu." sahut Arka.
Bian melepaskan tangan nya dari tangan sang Papa, lalu menatap papa nya dengan tatapan dingin.
"Ya udah, ngak ada mainan ngak di pijit ya." kata Bian, lalu turun dari ranjang dan berlari keluar kamar.
Huhh..
Arka menarik nafasnya, kini dia di tinggal sendirian, istrinya memasak bubur di dapur, putranya pergi karna tidak di kasih mainan, benar-benar menyebalkan.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
"Istri Cantik Tuan Muda Kejam 2"
Ceritanya Bian dan Lisa nunggu nih😊