
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Sinar mentari pagi sudah menyapa di atas langit, namun hal itu seolah tak menganggu dua sosok yang tengah asyik tidur dengan posisi berpelukan itu.
Acara pernikahan yang di hadiri keluarga besarnya itu berjalan lancar, meski terbilang sederhana tapi acara nya sampai malam hari, yang membuat Nana dan Andrian bisa tidur di jam sebelas malam.
tok..tok..tok..
Nana mengeliat saat mendengar suara ketukan pintu, perlahan matanya terbuka dan di liriknya sosok yang kini memeluk pinggang nya itu.
"Tampan." satu kata itu keluar dari bibir merah alami milik Nana..
Entah kenapa melihat suaminya yang masih tidur terlelap membuat nya gemas, apalagi suaminya memiliki pipi yang sangat chabby membuat Nana gemas.
Tok..tok..tok..
Segera Nana sadar dari lamunan nya, dia beranjak berdiri dan berjalan mendekati pintu.
Ceklek..
"Ada apa Bunda." tanya Nana sambil mengucek matanya.
Dian menatap menantunya dengan pandangan aneh nya, lalu ujung matanya sedikit mencuri pandang ke arah kamar, dimana terlihat kaki putranya di atas ranjang, dan bisa di pastikan putranya tidak tidur semalaman.
"Bunda." panggil Nana, heran melihat mertuanya yang bengong di ambang pintu.
"Ahk tidak, Bunda hanya mau menawarkan nasi goreng buatan Ayah." sahut Dian berasalan, padahal niat awalnya itu adalah untuk memastikan apa putranya semalaman bergadang atau malah sebaliknya.
Tapi seperti nya Putra nya begadang karena tidak biasanya Andrian masih tidur sampai se siang ini.
Dan hal itu tentu saja adalah awal baik untuk putranya, Dian tidak sabar untuk menunggu kehadiran cucu nya.
"Bagaimana mau?." tanya Dian, masih dengan mata yang mencuri-curi pandang ke dalam kamar.
"Boleh, aku sama Rian mandi dulu ya Bun, maaf bangun nya kesiangan jadi ngak bantuin Bunda di dapur." ucap Nana tidak enak hati.
Hari ini hari pertama nya sebagai menantu di rumah ini, tapi dia malah bangun kesiangan dan tidak mendapatkan gelar menantu rajin.
Dian memegang tangan menantunya, "Tidak usah sungkan, Bunda paham ko kenapa kamu ngak bisa bangun pagi, tenang aja Bunda juga sering gitu kalo lembur." celetuk Dian sambil tersenyum.
Nana tak bisa berkata-kata lagi, dia tidak habis pikir dengan mertuanya satu ini kenapa pikiran nya terus menjurus ke arah sana, padahal tadi malam jelas-jelas Nana dan Andrian hanya melakukan pemanasan saja.
Setelah kepergian mertuanya Nana menutup kembali pintunya.
"Astaga, kenapa mertuaku pikiran nya liat terus ya." gumam Nana sambil menggelengkan kepalanya.
Mata Nana menatap kesana kesini, di heran siingatnya tadi suaminya masih tidur tapi sekarang?, ranjang nya kosong menyisakan guling dan bantal saja.
"Kemana dia?, cepet banget ngilang nya." ucap Nana sambil melangkah.
Nana mencari ke kamar mandi, namun tak menemukan suaminya, pandangan nya terarah ke sana kesini, dan sampai pandangan tertuju pada kaki yang ada di balik tirai gorden.
Dengan sengaja Nana jongkok, matanya menatap ke arah kolong ranjang dan kolong sopa, membuat Andrian yang sedang bersembunyi merasa sebal dan akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya nya.
"Astaga kaget aku." ucap Nana pura-pura syok.
Andrian sebal dan langsung duduk di pinggir ranjang nya.
"Kamu cari suami ko kaya cari kecoa sama tikus aja, pake acara nyari di kolong sopa sama ranjang lagi." sungut Andrian merajuk.
Nana terkekeh melihat si pipi tembam nya merajuk, di lilitkan nya tangan nya ke pinggang suaminya.
"Iya deh maaf, aku bercanda sayang lagian kamu juga ngapain coba pake acara sembunyi-sembunyi." ucap Nana sambil mencium lengan penggung suaminya.
"Asem." lanjutnya melepaskan pelukan nya dan menutup hidung nya.
"Asem?, yakin asem?." Andrian menatap istrinya.
Dan Nana hanya mengangguk, membuat Andrian langsung membuka baju nya.
"Ayo cium lagi, sini." Andrian mendekap tubuh istrinya, membuat Nana berontak dengan tergelak tawa nya.
Hahaha..
"Sudah bau..! " kesal Nana sambil menggesek-gesekkan kepalanya ke dada bidang suaminya.
Nana menggeleng kepalanya, "Ngak mau, ayo mandi, Bunda udah nunggu kita untuk makan bersama." kata Nana, mencoba melepaskan tubuh nya dari dekapan suaminya.
Terpaksa Andrian melepaskan istrinya membuat Nana langsung replek berjalan ke arah kamar mandi, namun belum juga Nana menutup pintu Andrian sudah ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Ngapain?." tanya Nana.
Andrian mengangkat sebelah alisnya ke atas, "Tentu saja mandi, menurut kamu apa lagi?." sahutnya menyebalkan, membuat Nana hanya bisa menghela nafasnya panjang.
Sepertinya dia akan melepaskan kesucian nya di kamar mandi, benar-benar tidak ada romantisnya, padahal bayangan nya dia akan melakukan nya di tempat yang sangat romantis.
Melihat Nana yang diam membuat Andrian tersenyum, istrinya pasti sudah berpikiran yang enak-enak, padahal dirinya saja masih belum mau melakukan itu.
"Jangan berpikir aneh-aneh, aku ngak akan maksa kamu, ayo mandi kita udah ditunggu nasi goreng Ayah." ucap Andrian sambil tersenyum.
"Aku siap ko." sahut Nana, membuat Andrian yang sedang membuka pakaian nya melirik ke arah istrinya.
Sadar di lirik Nana segera melepaskan pakaian nya, dia pikir suaminya tidak tertarik karena dia masih memakai pakaian nya.
"Yakin?." tanya Andrian.
Nana mengangguk cepat.
"Tentu saja yakin, kamu suamiku dan aku adalah milikmu." sahut Nana cepat.
Istrinya ini benar-benar membuat Andrian gemas, dan membuat Andrian semakin ingin menggoda istrinya.
"Aku mantan duda loh sayang, yakin ngak takut sama si Jon yang udah lama ngak tidur di sarangnya?." Andrian kembali menggoda Nana.
Pipi Nana memerah bak kepiting rebus, tubuhnya menegang saat mendengar ucapan suaminya yang mengatakan si Jon.
Siapa Jon?
"Aku.." ucap Nana terhenti karena Andrian menaruh telunjuknya di depan bibir Nana.
"Sekarang kita mandi, jangan tegang dulu si Jon masih aman di kurung di bawah, sekarang kamu mending cepat mandi nanti si Jon tambah gemes kalo kamu masih polos gitu." ucap Andrian sambil tersenyum.
Buru-buru Nana mandi, begitupun dengan Andrian keduanya bergantian berdiri di bawah shower, begitupun dengan memakai sabun, keduanya terus bergantian.
Dian menatap kedua anak dan menantunya dengan pandangan yang sulit di artikan, rambut keelimis keduanya membuat wanita yang sudah kepala lima itu berpikir yang menerawang.
"Makan sayang, kamu harus makan banyak biar cepat tokcer." ucap Dian kembali menambahkan nasi goreng di piring milik menantu nya.
"Terimakasih Bunda." ucap Nana sambil tersenyum.
Sudah lama tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu membuat Nana terharu, akhirnya dia bisa merasakan lagi rasanya mendapatkan perhatian dari seorang ibu.
Rey melirik putranya, namun yang di lirik malah memperlihatkan wajah sebalnya, membuat Rey mendeuhem melihat wajah putranya yang seperti nya tidak bersahabat.
"kenapa?, apa Bunda mu melakukan nya lagi?." Rey mulai melakukan obrolan dalam hatinya.
"Menurut ayah?." tanya balik Andrian masih dalam hatinya.
"Maklumi saja, Bunda mu ingin segera mendapat kan cucu, apa kau sudah meminum jamu semalam?." tanya Rey.
Uhukk..uhukk..
Andrian tersedak membuat Nana replek memberikan segelas minum nya ke suaminya.
"Hati-hati makan nya, jangan cepet-cepet." kata Nana yang hanya di angguki oleh Andrian.
Mata Andrian menatap ke arah sosok pria matang yang masih terlihat berkharisma itu, namun yang di tatap hanya enjoy memakan nasi goreng buatan nya sendiri.
Andrian tidak meminum jamunya, lalu siapa yang meminum jamu nya?.
Seketika Andrian ingat akan ucapan istrinya yang semalam.
"Sayang haus."
Apa Nana yang meminum nya?.
"Kenapa?." tanya Nana tidak betah di tatap aneh oleh suaminya.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa Jejak ♥️