
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Nana semakin erat memeluk Andrian, dia benar-benar merindukan sosok yang selalu menguatkan nya itu, berbeda dengan Andrian yang kini malu-malu meong, enggan mengakui jika sebenarnya di juga rindu.
"Please don't ignore me, I miss you." ucap Nana sambil memeluk tubuh pria nya itu.
Andrian menghela nafasnya, berbulan-bulan dia tidak mendapatkan kabar, bahkan untuk sekedar menelpon pun dia tidak mendapatkan nya, sekarang Nana datang kembali, apa iya dia bisa mengabaikan nya.
Perlahan tangan besar Andrian mengusap pelan punggung Nana, ikut mengeratkan pelukan nya.
"Kenapa kamu pergi?." akhirnya satu pertanyaan yang selalu ada di kepala Andrian keluar.
Keduanya melepaskan pelukan nya, lalu saling menatap satu sama lain.
"Banyak alasan yang membuatku pergi dulu." Nana menatap netra hitam yang kini sedang menatapnya itu.
"Satu saja, aku tidak butuh banyak alasan." ucap Andrian menyela ucapan Nana.
"Baiklah, aku pergi karena ingin membuatmu merindukan ku, dan sekarang aku kembali karena aku tau kamu merindukan ku." tegas Nana sambil menatap Andrian.
Sebenarnya bukan itu alasan Nana pergi, tapi tidak mungkin juga Nana mengatakan yang sebenarnya, dia tidak mau masalahnya membuat orang sekitar nya terusik, lagi pula Nana sudah biasa melewati masa sulitnya sendiri.
"Kamu bohong." tegas Andrian.
Nana menggeleng. "Tidak." bantah Nana.
Andrian mendekatkan wajahnya pada wajah Nana, lalu menatap nya tajam. "Hidung kamu kembang kempis kalau bohong." celetuk Andrian, membuat Nana replek memegang hidung nya.
"Ngak ada, mana ada kembang kempis orang biasa aja." ucap Nana menutup hidung nya dengan tangan nya.
Keduanya duduk dengan posisi Nana bersandar ke dada bidang Andrian, detak jantung Andrian yang berpacu sangat cepat bisa Nana rasakan, membuat dia terkikik geli, apa seperti ini detak jantung orang yang sedang jatuh cinta?, pikirnya.
Andrian di landa gelisah, apa sekarang saat nya dia mengatakan semua rasa yang dia punya untuk Nana, tapi dia masih ragu, Andrian takut akan di tolak.
"Kenapa diam?." tanya Nana.
"Lalu aku harus apa?." tanya balik Andrian.
"Jantungmu berpacu sangat cepat, seperti sudah di kejar-kejar hutang saja." celetuk Nana santai.
"Tidak." bantah Andrian.
"Sangat cepat, kaya habis lari maraton." sambung Nana sambil terkikik geli.
Benar-benar tidak ada romantisnya, tapi entah kenapa hal itu yang membuat Andrian nyaman dengan Nana, setidaknya dia menemukan sosok yang tidak mengingatkan nya ke masa lalu, begitu pikirnya.
"Mau kemana?."
Andrian yang hendak berjalan menghentikan langkahnya, dan melirik Nana.
"Aku akan mandi." sahutnya sambil berjalan masuk ke kamarnya.
Nana ikut mengekor di belakang, dia masuk kedalam kamar, dan membuat Andrian kaget, kebiasaan Nana yang satu ini benar-benar membuat nya aneh, bisa-bisa nya seorang gadis muda berlagak biasa saja melihat pria yang tidak memakai baju.
"Tidak usah di tutupi aku kan sudah biasa memihatnya, cepat mandinya kita akan makan malam." ucap Nana sambil berjalan melewati Andrian yang mematung di tempatnya.
Dengan santai Nana duduk di tepi ranjang, dan kembali memainkan game nya.
Huh..
Andrian menghela nafasnya, meladeni Nana yang aneh bisa membuat nya setres, dia memilih masuk kedalam kamar mandi dengan pakaian gantinya yang di bawa.
Tapi belum juga Andrian menutup pintu Nana kembali berteriak padanya.
"Jangan lupa kunci, kau tau kucing lapar bisa memangsa mu jika kamu tidak waspada." teriak Nana sambil cekikikan.
Buru-buru Andrian menutup pintu kamar mandinya bukan hanya di tutup tapi di kunci juga, takutnya Nana yang bar-bar bisa nekat menerkamnya.
"Setelah tiga bulan dia kembali dengan keberanian yang sangat dahsyat, astaga jika begini aku tidak akan bisa menahan nya." ucap Andrian yang sedang membuka celana nya.
Andrian bukan takut tentang Nana yang menerkam nya, tapi dia takut dirinya tidak bisa menahan diri dan malah berbuat yang tidak-tidak dengan Nana.
Sedangkan Nana yang sedang main game di ponsel nya langsung menghentikan acara maen game nya, dia menarik nafasnya pelan-pelan lalu memegang pipi nya yang hampir memerah.
"Dia semakin menggoda, aku benar-benar sudah gila." sambung Nana kembali bergumam.
Dia sendiri tidak tau kenapa bisa se bar-bar ini, tidak lama melihat Andrian membuat Nana sangat merindukan sosok pria yang kini bersamanya itu.
"Aku harus minum air dingin, melihat duda hot membuatku panas dingin." Nana memilih keluar dari kamar untuk mengambil air dingin agar hawa panas di tubuhnya menghilang.
Setelah selesai mandi Andrian keluar dari kamarnya, namun aneh nya dia tidak menemukan Nana, membuatnya mengerutkan dahinya.
"Kemana dia." gumam Andrian sambil melirik sana sini.
Tak mendapatkan Nana membuat Andrian memilih keluar kamar.
Dan saat keluar Andrian melihat Nana yang tertidur di sopa.
"Astaga dia tertidur." gumam Andrian sambil menggelengkan kepalanya.
Perlahan Andrian mendekati Nana yang tertidur di sopa, di usap pelan kening kepala Nana olehnya.
"Sepertinya dia lelah." ucap Andrian menatap wajah Nana yang sedang tertidur, melihat pipi Nana membuat Andrian tersenyum merasa gemas ingin mencubit pipi Nana yang chabby.
Karena tidak tega melihat Nana yang tertidur di sopa membuat Andrian memilih memangku Nana, dia akan memindahkan Nana ke kamarnya.
Sepertinya ajakan Nana untuk makan malam tidak akan jadi, Andrian tidak tega melihat Nana yang sudah tertidur pulas di sopa nya.
Perlahan Andrian membaringkan tubuh kecil Nana di ranjang nya, melihat anak-anak rambut Nana membuat tangan nya gatal ingin membenarkan, dan terpampang lah wajah cantik Nana.
"Kamu cantik Na, entah kenapa aku semakin menyukaimu." gumam Andrian sambil tersenyum.
Nana mengeliat membuat Andrian yang menatap Nana langsung beranjak berdiri, iman nya semakin menipis rasanya, apalagi saat melihat Nana yang terus mengeliat.
Bagaimana pun Andrian pria normal yang sudah berpengalaman, dan sudah lama dia tidak mendapatkan apa yang kini ada di depan nya.
"Sebar Andrian, kamu harus tahan kamu tidak boleh membuat nya kecewa dengan nafsu birahi mu." batin Andrian sambil memalingkan wajahnya, melihat Nana terus menerus membuat iman nya semakin menipis.
Saat Andrian akan melangkah pergi meninggalkan Nana di kamarnya tiba-tiba tangan nya di tahan oleh Nana.
"Jangan pergi." ucap Nana sambil menguap.
"Baiklah, aku tidak akan keluar." sahut Andrian sambil tersenyum.
Nana menarik Andrian yang membuat Andrian jatuh ke pelukan nya, Nana menatap Andrian yang kini menindihnya, begitupun dengan Andrian yang menatapnya nya.
Degg..
Jantung keduanya sama-sama berdetak kencang, dan netra hitam keduanya masih tetap melekat satu sama lain.
"Nikahi aku." ucap Nana sambil menatap Andrian.
"Kau yakin?." tanya Andrian serius.
Nana tersenyum, "Aku mencintaimu, kamu mencintaiku, jadi tunggu apa lagi?." tanya Nana.
Keduanya sama-sama tersenyum, dan tak lama kemudian Nana memeluk Andrian, membuat wajah keduanya beradu.
"Tidur disini, aku masih merindukan mu." ucap nya sambil tersenyum.
Dan pada akhirnya keduanya tidur satu ranjang tapi Nana dan Andrian masih tau batasan nya, keduanya menaruh guling di tengah sebagai penghalang nya.
Jika Nana tidurnya terlelap karena tidur bersama orang yang di rindukan nya, berbeda dengan Andrian yang terus melirik ke arah gadis yang kini membelakangi nya.
Dia terus menahan birahinya, yang semakin bertambah menit semakin meningkat.
"Sabar Jon, bentar lagi kamu akan terbang."
_________
🌹🌹🌹🌹🌹
Cerita Bian udah sampai Epsd 61, yu mampir 😊
Jangan lupa jejak, ♥️