
^^H A P P Y R E A D I N G^^
๐น๐น๐น๐น๐น
Suasana malam yang semula sunyi tiba-tiba menjadi riuh, teriakan mulai terdengar di rumah besar milik Rafasya, dan pelaku nya jangan di tanyakan lagi.
Arka yang kaget karna mendengarkan isakan sang istri mulai panik dan hal itu membuat pria 26 tahun itu menjadi tidak fokus.
"Mobil." teriak nya membuat penghuni rumah yang sudah terlelap menjadi banyak yang bangun.
Di atas Alena berteriak kesakitan, Ririn yang mengetahui menantunya akan melahirkkan takalah ikut panik, sama hal nya dengan Rafa yang ikut panik.
"Aku akan mengangkat Alena, Daddy menyupir." titah Arka tanpa ragu.
Rafa hanya mengangguk, sambil menunggu Arka yang sedang mengendong Alena, Ririn dan beberapa pelayan menyiapkan peralatan persalinan apa yang saja yang harus di bawa ke rumah sakit.
"Tidak apa, jangan panik." ucap Ririn saat Alena di masukan kedalam mobil.
Alena melihat wajah mertuanya lalu mengangguk, "Ya Mom.." sahut nya cepat.
Mobil melaju dengan Rafa yang menjadi supir dadakan, disamping nya ada Ririn yang terus mendoakan kelancaran untuk persalinan sang menantu dan calon cucu nya.
Nyatanya Alena yang sudah mencoba untuk rileks, mencoba untuk tidak panik dan hal itu malah membuat dia merasa panik sendiri, rasa sakit yang luar biasa dan susah di ungkapkan tiba-tiba menyerang, menyelipkan rasa sakit tanpa permisi.
"Sayang." rintih Alena kesakitan.
Arka terus mengusap kepala sang istri memegangi tangan wanita yang kini sedang kesakitan akibat ulah nya, "Aku ada disini, tenaglah." ucap Arka bingung harus mengatakan apa lagi.
Melihat Alena yang seperti itu membuat hatinya sakit, cinta nya..wanita yang kini sudah bersemayam di hatinya sedang kesakitan.
"Peluk aku." pinta Alena dengan wajah yang menahan sakit.
Arka menurut, dia memeluk sang istri dengan perasaan campur aduk, meski dokter sudah mengatakan jika rasanya kontraksi sebelum melahirkan itu tidak akan terasa karna waktu yang terus berputar cepat, tapi tetap saja Arka tidak bisa membiarkan istrinya kesakitan seperti itu.
"Dad cepat!!." ucap Arka yang masih memeluk sang istri.
Rafa yang sedang menyupir mengelengkan kepalanya tak percaya, baru kali ini dia menjadi supir dadakan, dan rasanya di suruh itu ternyata tidak enak.
"Kencangkan lagi Dad, istriku sedang menahan sakit." ucap Arka lagi.
Huh..
Ririn memegang tangan sang suami, mengerti dengan wajah masam yang di baluti panik itu, "Ini demi cucu kita." ucap Ririn pelan.
Rafa tersenyum, istrinya memang sangat beda dari yang lain nya bahkan saat Anaira putri bungsu nya lahir Rafa tidak menghantarkan sang istri karna dia sedang pergi keluar kota, Ririn adalah wanita yang tidak pernah mau merepotkan orang lain, sungguh Rafa merasa beruntung bis menikahi wanita luar biasa sperti istrinya.
Setelah melewati jalanan malam yang sepi selama 15 menit mobil itu menepi di sebuah rumah sakit milik keluarga Rafasya.
Alena di pindahkan ke ranjang pasien, Arka ikut mendorong bersama para suster, meninggalkan Ririn dan Rafa yang masih ada di parkiran.
Sesampai nya di depan ruang persalinan Alena terdiam, lalu melihat suaminya yang kini tengah menatap nya.
"Aku takut." ucap nya pelan.
"Aku akan ikut." sahut Arka lembut.
"Tapi aku takut." ucap Alena lagi.
Arka memegang tangan sang istri, "Kita akan melewati semunya bersama-sama, aku tau kamu adalah wanita hebat.''ucap Arka meyakinkan sang istri. "Ayo kita berjuang bersama." sambung Arka sambil memberikan kecupan yang lama di dahi sang istri.
Melihat keuwuan yang di perlihatkan si tuan muda dan nona muda nya membuat para suster dan dokter yang melihatnya replek membalikan badan nya, terlalu geli rasanya jika melihat pria-pria kejam itu menjadi lembek.
"Kenapa istriku tidak kunjung melahirkan!!." ucap Arka sambil memberikan tatapan tajam pada dua dokter wanita dan dua orang suster yang ada di ruangan persalinan itu.
Deg..
Mereka terdiam, sedari tadi mereka bekerja dengan rasa takut nya, apalagi kondisi Alena yang semakin melemah membuat mereka semakin ketakutan.
"Maaf tuan muda, nona Alena masih pembukaan 9." tutur si dokter wanita dengan wajah takut nya.
Arka menatap mereka dengan tatapan tajam nya, bosan mendengarkan jawaban yang hanya itu-itu saja.
"Sayang.."
"Jangan seperti itu, aku yakin kamu bisa." ucap Arka tak tega melihat Alena yang terus menangis.
Bendungan air mata tak tertahankan lagi, Arka menangis saat melihat Alena yang terus merintih dengan Isak tangis itu.
Dan saat itulah para dokter dan suster menjadi saksi lagi, dimana seorang Arka yang menangis karna melihat istrinya kesakitan.
percayalah sekejam-kejam nya pria mereka juga akan luluh jika di hadapkan dengan seseorang yang disayang.
Di luar Ririn dan Rafa sangat panik, saking panik nya Rafa sampai tak sadar jika apa yang dia lakukan sejak tadi membuat Ririn pusing.
"Mas duduk lah, kamu seperti setrikaan Mundar mandir terus." ucap Ririn.
Rafa mengangguk, dia duduk di samping sang
istri menempelkan kepala sang istri di pundak nya, "Apa rasanya melahirkan itu sangat sakit?." pertanyaan konyol itu berhasil keluar dari bibir tipis Rafa.
"Ya, semua wanita akan merasakan itu tapi mereka akan melupakan rasa sakit itu saat melihat bayi yang mereka lahirkan." jawab Ririn lembut.
"Maaf, karna aku tidak pernah bisa menemani mu saat proses persalinan." ucap Rafa.
Ririn tersenyum, "Tidak apa, semuanya sudah berlalu." jawab nya sambil memeluk tubuh kekar sang suami.
Jika boleh jujur siapa yang tidak sedih jika melahirkan tanpa pendamping? Alena beruntung bisa merasakan itu, tapi meski begitu Ririn tidak memikirkan nya yang dia pikirkan sekarang hanyalah keselamatan menantu dan cucu nya yang masih ada di ruangan persalinan.
Alena tak tahan melihat Arka menangis, ini pertama kalinya untuk Alena melihat Arka memangisi nya, "Hey jangan menangis, ini memang sakit..tapi lebih sakit lagi jika melihat mu menagis karena aku." ucap Alena seraya menghapus air mata yang membuat wajah tampan suami nya basah itu.
Dan setelah mengatakan itu Alena kembali meringis membuat Arka panik..
begitupun dengan dokter yang langsung memberikan aba-aba pada Alena.
"Ikuti saya nona, tari nafas buang..tarik nafas buang." ucap sang dokter.
Alena menurut, dia melakukan setiap aba-aba dari sang dokter, dan saat dia mengeden lagi Alena kembali merasakan rasa sakit yang luar biasa itu.
Gengaman tangan dari orang tercinta membuat Alena sedikit bisa tenang, apalagi Arka yang terus memberikan kecupan di dahinya membuat Alena merasa sangat di cintai.
________________
๐น๐น๐น๐น๐น
Minal Aidin wal-faizin... Author mau ngucapin selamat hari raya idul fitri, mohon maaf jika selama Author nulis banyak kata-kata yang belepotan, semoga kakak riaders bisa memaklumi kesalahan di cerita "Istri Cantik Tuan Muda Kejam" yang banyak mengeluarkan emosi berlebih dan tangisan๐๐
Maaf juga Author ngak Upp selama beberapa hari ini, Author lagi pulang kampung dan kalian juga pasti tau kan kalau Author itu tinggal di kampung yang di kelilingi pengunungan, sinyal di kampung Author terlalu mengesalkan, bahkan Author nulis nya juga di Telkom, tempat anak muda beli hoshfot WiFi.
Doain ya semoga Author kembali semangat menulis nya๐โฅ๏ธ