
Judul: I Love You Boss.
Penulis : Nilam Nuraeni.
Dari mana saja kamu hah!, dasar anak tidak tau diri, anak sialan susah-susah aku membesarkan mu tapi ini balasan mu hah." teriak Mama Intan sambil menjambak rambut Rara.
"Aww..sakit Ma." ringis Rara kesakitan.
Namun Mama Intan yang emosi malah semakin menambah keras jambak kan nya, membuat Rara semakin kesakitan.
"Lepasin Ma, Mama salah paham ini semua ngak seperti yang Mama pikirkan, aku hanya__" ucap Rara terhenti karena Celina menyela ucapan nya.
"Hanya melayani om-om?, dasar anak har*m, kau mau menciptakan anak har*m seperti dirimu lagi hah!, dasar tidak tau malu." Celina memanasi Mama Intan.
"Tidak Ma, percaya padaku, itu tidak benar." Rara mencoba membela dirinya.
Plakkkk..
Plakkkk..
Sebuah tamparan mendarat di pipi Rara, membuat Rara memegang pipinya yang terasa nyeri dan perih.
"Ma." pekik Rara kesakitan.
"Dasar anak har*m, ternyata bukan hanya ketiga pria itu saja yang brengsek, tapi anak nya juga brengsek, kau memiliki darah setan yang tercampur di tubuhmu." teriak Mama Intan lantang.
Celina yang melihat apa yang di lakukan Mam Intan pada Rara hanya tersenyum mengejek.
"Rasain emang enak, dasar anak har*m." batin Celina.
Brukkk..
Rara tersungkur ke lantai dengan sudut bibirnya yang berdarah, tapi hal itu seolah tidak membuat Mama Intan kasihan dengan Rara, Mama Intan malah menatap Rara dengan wajah penuh kemarahan nya.
"Ma aku yakin Rara telah melayani om-om, lihat saja mana ada pria muda yang mau mengajak dia dengan mobil mewah kalau dia tidak melayani om-om itu."
Ucapan Celina terngiang di telinga Mama Intan lagi, dia marah karena Rara telah berbuat yang tidak-tidak.
"Celina sayang bawa adik mu ke kamar mandi." titah Mama Intan.
"Siap Ma." sahut Celina sambil tersenyum menyeringai.
Puas rasanya dia bisa melihat Rara sengsara, Mama Intan memang sangat menyayangi nya tidak seperti ke Rara, Mama Intan sangat membenci Rara.
Tubuh Rara di bawa oleh Celina, sebisa mungkin Rara berontak tapi saat Rara akan kabur Mama Intan langsung berteriak padanya.
"Pergilah dan rumah ku tak akan terbuka untuk anak har*m seperti dirimu lagi." tegas Mama Intan membuat kaki Rara seketika lemas tak memiliki daya.
"Ma, hentikan Ma, aku tidak melakukan nya sungguh, hiks..dia bos ku Ma, hentikan aku mohon." teriak Rara sambil terisak.
"Hey anak har*m beraninya kamu berteriak di depan Mama, sepertinya dia harus di kasih pelajaran yang lebih dari ini, bagaimana kalau kita menyiramkan air panas saja ke tubuhnya, Mama taukan tubuh Rara sangat kotor." Celina kembali mengolok-olok Mama Intan dan Rara.
"Jangan Ma, jangan aku anak mu Ma, hiks jangan." ucap Rara dengan lirih, bibirnya menggigil karena kedinginan.
Mama Intan merebut shower nya dari tangan Celina. "Kamu memang anak ku, tapi aku tidak pernah menginginkan kehadiran mu karena kehadiran mu adalah derita untuk ku, dalam tubuhmu mengalir darah set*n-set*n itu, aku membencimu, dan aku bukan Mama mu." kata Mama Intan sambil menyiram tubuh Rara dengan air panas.
Aww..
Rara meringis kepanasan, sudah kedinginan kini dia merasakan panas.
dengan cepat Rara berdiri dan langsung mendorong Celina sehingga kini tubuh Celina lah yang terkena siraman air panas nya.
"Mama hiks.. Aaaa..panas." teriak Celina menjerit-jerit.
"Astaga sayang, maafkan Mama.. sini Mama peluk, Maafkan Mama Celina, Mama tidak sengaja." Mama Intan panik sambil mengipasi tubuh Celina dengan kedua tangan nya.
Rara yang melihat betapa perhatian nya Mama nya pada Celina hanya bisa mengepalkan tangan nya, kenapa pada Celina Mama nya bisa bersikap manis? tapi padanya malah sebaliknya.
Dengan langkah yang gontai menahan perih di tubuhnya Rara berjalan ke luar kamar mandi, dia berjalan ke ruang tamu untuk mengambil tas nya, lalu Rara pun melangkahkan kaki nya untuk ke arah kamar nya.
Di kamar Rara hanya bisa menahan rasa sakit nya nyatanya rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya, Mama nya lebih menyayangi anak angkatnya di bandingkan dengan dirinya yang notabe nya anak kandung Mama nya.
"Kenapa Tuhan membuat aku terlahir ke dunia ini jika aku hanya di takdir kan untuk menerima kebencian Mama, hikss..kenapa!." Isak Rara sambil memukul-mukul bantal nya.
Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Mama nya, bahkan Mama nya tidak mempercayai nya sama sekali, dan lebih mempercayai ucapan kakak nya.
Rara mengganti baju nya karena besok dia akan bekerja, dan Rara tidak mau dia demam karena memakai pakaian yang basah di malam hari.
Setelah mengganti pakaian Rara langsung mengolesi bagian tubuhnya yang melepuh dengan salep, air matanya jatuh saat Rara mengolesi salep di tangan nya ke bagian yang melepuh.
Dia sudah terbiasa dengan semua kekerasan yang di berikan pada Mama nya, dan apa di usianya yang sudah dewasa Rara masih pantas mendapatkan tamparan lagi?, apa dia masih pantas di panggil anak har*m lagi.
"Kamu tidak cengeng Rara, ayolah kamu sudah biasa mendapatkan ini, bahkan ini tidak lebih sakit dari masa kecil mu." gumam Rara sambil merebahkan tubuh nya ke tempat tidur nya.
Ingatan nya kembali saat Rara masih berusia sembilan tahun, dimana Rara pernah di kurung di gudang selama satu hari satu malam tanpa belas kasihan, Mama nya hanya memberikan sebotol air minum kecil dengan sepotong roti yang sudah kadaluarsa.
Jika di tanya rasanya bagaimana tentu saja Rara sangat marah sedih dan kecewa, di usianya yang masih membutuhkan sosok peran ibu yang baik dia malah mendapatkan kekerasan dari Mama nya.
"Aku lelah." gumam Rara, lalu matanya mulai tertutup dan tidur.
Udah Epsd 54 ya, yuk kepoin 😊🤭