Istri Cantik Tuan Muda Kejam

Istri Cantik Tuan Muda Kejam
S2.Kepedean.


^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Amanda sudah menyiapkan senyum terbaiknya, tapi yang dia dapatkan hanyalah harapan kepalsuan yang berujung patah hati.


dia terlalu jumawa akan balasan cinta dari pria yang selalu menghiasi pikiran nya.


Tadi siang saat jam makan siang Amanda dengan sengaja masuk ke ruangan Andrian dengan secangkir kopi di bawa nya, kopi yang sudah dia buatkan dengan penuh cinta dan hati yang sedang berbunga-bunga.


Hanya beberapa kata saja membuat Amanda tidak bisa bernafas, dia Menahan rasa sakit di dada nya karena ucapan yang singkat namun menusuk hati itu.


"Lain kali jangan mengantarkan kopi lagi, aku tidak suka padamu, jadi jangan berharap lebih padaku."


Degg..


Rasanya sangat sakit bagaikan di tusuk-tusuk pedang berduri, Amanda langsung merasa patah hati karena secara tidak langsung Andrian telah menolaknya sebelum mengetahui kebenaran akan perasaan nya.


"Aku benar-benar sudah gila!." ujar Amanda sambil tertawa getir menahan pilu nya.


Sakit? tentu saja sakit, bahkan dia di tolak sebelum mengutarakan perasaan nya, ini memang bukan pertama kalinya Amanda di tolak sebelumnya dia juga ingin mendekati CEO nya, tapi berhubung istri CEO galak jadi Amanda tidak melanjutkan obsesinya itu.


Dan sekarang? haha Amanda benar-benar mengutuki hatinya yang telah memilih pria salah, pria yang tidak bisa menjaga perasaan nya.


Drett..


Suara ponselnya membuat Amanda mengalihkan pandangan nya telpon kantor.


"Hallo, saya Amanda, ada yang bisa di bantu?." kembali ke pekerjaan nya.


"Nona Manda ada orang yang mencari anda." ucap seorang resepsionis.


"Iya? siapa?." tanya Amanda.


"Orang itu tidak mau menyebutkan nama nya nona, tapi katanya dia adalah pacar anda nona." tutur si resepsionis.


Amanda terdiam, pacar? bahkan dia baru saja di tolak secara terang-terangan oleh atasan nya.


"Tolong bilang pada orang nya saya sedang tidak ingin di ganggu ya mba, dan tolong juga suruh satpam untuk mengusirnya karena saya tidak merasa mengenali sosok yang sedang bersama Mbak." kata Amanda lagi, lalu menutup telpon nya.


"Benar-benar gila, kenapa hari ini hidupku serasa gila, tadi di tolak, sekarang ada yang ngaku-ngaku sebagai pacarku? apa hari ini hari tersial ku?." gerutu Amanda terus mengoceh.


Sedangkan di lobby dekat resepsionis nampak seorang pria yang nampak memperlihatkan raut wajah tersenyum pada mbak resepsionis.


"Ya sudah Terimakasih, saya akan menunggu pacar saya di luar saja." kata pria itu, lalu berjalan keluar dari perusahaan.


Di luar pria itu langsung mengambil dompet di saku celana nya, di bukanya dompet itu, dan yang pertama dia lihat adalah uang lima ribuan tiga lembar, dua puluh ribu satu lembar dan dua kartu ATM, tak lupa juga satu kartu KTP.


Di keluarkan KTP nya, seketika pria itu terkekeh geli melihat KTP yang fotonya hampir luntur itu.


"Amanda, nama yang cantik, tapi fotonya kenapa seperti mahluk halus saja, tidak terlihat." gumam pria itu seraya memasukan kembali kartu KTP nya kedalam dompet.


Di ruangan nya Andrian nampak sedang menerima telpon, dan raut wajahnya menampakan raut kesal.


"Baiklah, aku akan ke sana tapi transferan nya jangan lupa." ucapnya sambil mematikan ponselnya sepihak.


Huh..


Andrian menghela nafasnya berat saat mendapatkan perintah dari atasan nya itu, dimana dia harus mengantarkan Nana yang kini pingsan di sekolahan Bian, untuk ke rumah sakit.


Saat keluar ruangan nya Andrian melihat ke arah Amanda yang nampak membuang muka padanya, namun hal itu tidak di ambil pusing oleh Andrian, kalo tidak suka ya tidak suka, kenapa harus memaksa?.


Cinta itu bukan hal yang main-main, Andrian memang bukan sosok yang mudah jatuh cinta, dan untuk Amanda menurutnya lebih baik wanita itu patah hati sebelum lanjut lebih dalam, karena jika Amanda terlalu lama menyimpan perasaan untuk nya maka akan menjadi petaka untuk nya di kemudian hari, karena cinta di tolak biasanya selalu tumbuh rasa benci.


Sepanjang perjalanan mobil yang di kendarai Andrian melaju dengan kecepatan cepat, itu juga adalah perintah atasan nya yang harus cepat-cepat mengantar pengasuh kesayangan Bian ke rumah sakit.


Sesampainya di sekolahan Bian, Andrian langsung melihat Nana yang duduk di bangku dekat taman, sedangkan Bian nampak sedang bermain dengan pengasuh cadangan nya.


"Ayo." ucap Andrian membuat Nana yang sedang memijat keningnya yang sedikit benjol karena kejedot lantai itu langsung memegang dada nya.


"Astaga anda membuat saya kaget tuan." ujar Nana, masih kaget.


"Tuan muda menyuruhku untuk mengantarkan mu ke rumah sakit, ayo aku tidak punya banyak waktu untuk berleha-leha bersamamu." ketus Andrian sambil berjalan ke arah mobilnya.


"Tuan muda, Nanny akan ke rumah sakit dulu, nanti tuan muda sama Nanny Asih dulu ya les nya." ucap Nana lembut.


Bian mengangguk cepat, "Oke Nanny, cepat sembuh Nanny." kata Bian seraya tersenyum lalu memeluk sang pengasuh.


Hal itu tak luput dari pandangan Andrian, dia melihat interaksi Nana dan Bian yang sangat dekat, membuat Andrian sedikit menyungingkan sedikit sudut bibirnya ke atas.


"Tuan." panggil Nana.


"Astaga, kamu mengagetkan ku saja." kini giliran Andrian yang kaget, tiba-tiba saja Nana yang tadi berpelukan dengan Bian kini nampak duduk di jok samping nya.


"Kapan dia berjalan?."


Segera Andrian menancap gas pedal mobilnya, sebelum dia kembali kikuk di depan Nana lagi, apalagi setelah kejadian tadi pagi membuat nya merasa sedikit serba salah.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam, tak ada yang mau membuka suara terlebih dahulu.


Sampai..


"Untuk yang tadi pagi, jangan memikirkan hal aneh-aneh." Andrian membuka suaranya, membuyarkan kecanggungan yang melanda.


Nana melirik, "Ya, lagi pula itu hanya ketidak sengajaan." sahut Nana, lalu mengarahkan pandangan nya lurus ke depan.


Kembali keduanya terdiam, sampai Andrian kembali mendengar Nana yang meringis saat memegang kening nya yang benjol.


"Jangan di pegang kalau sakit, biarkan dokter yang obati nanti." kata Andrian, tapi matanya masih fokus ke jalanan.


"Tapi ini sangat nyeri, perih." ujar Nana, masih betah mengusap pelan kening nya yang benjol.


Sampai Andrian memegang tangan Nana, lalu memberhentikan mobilnya di pinggir.


tanpa seijin Nana Andrian langsung meniup kening Nana yang benjol dengan pelan.


"Bagaimana masih perih?." tanya Andrian masih meniup kening Nana.


Bukan nya menjawab Nana malah melongo menatap Andrian, kenapa pria itu perhatian padanya? sejak kapan si galak beruang kutub itu baik padanya?.


"Nana?." Andrian menepuk pipi Nana pelan.


Dengan cepat Nana memegangi pipinya lalu terdiam, sadar Nana telah salah tingkah buru-buru Andrian menyalakan mobilnya lagi, dan langsung fokus ke jalanan lagi.


Nana mencuri pandang untuk melirik Andrian, dan hal itu di rasakan oleh Andrian, membuat pria itu seketika merinding dengan detak jantung yang tiba-tiba berdetak kencang.


"Ternyata di balik sikap galaknya dia masih punya rasa kemanusiaan juga." batin Nana.


"Kenapa dia terus mencuri-curi pandang pada ku, apa dia tidak punya kerjaan selain melihatku?, dan tolong jantung jangan membuat ku malu karena kau berdetak setelah memandang nya." batin Andrian.


Masih terbayang saat adiknya tadi pagi hampir berdiri, dan sekarang malah jantung nya yang tidak sinkron dengan hatinya.


"Tuan." panggil Nana.


Andrian tak mendengarkan, dia masih mengatur detak jantung nya lagi.


"Tuan." panggil Nana lagi.


"Kenapa? jangan melirik ku terus, karena semua itu tidak akan membuat ku tergoda." kata Andrian cetus.


Nana menggelengkan kepalanya aneh, apa yang di pikirkan oleh Asisten majikan nya itu?


"Tuan berhenti di sini, rumah sakit nya sudah terlewat jauh." kata Nana, dan seketika Andrian melirik Nana dengan pandangan kesalnya.


"Kenapa tidak bilang dari tadi." sungut Andrian mengoceh.


"Anda tidak menjawab panggilan saya, dan yang kedua anda kepedean."tutur Nana, membuat Andrian tidak bisa berkata-kata apa-apa.


________


🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan lupa jejak ♥️