DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Kebahagiaan Yang Haqiqi


"Mm... Aku takut akan menambah masalah jika aku mengungkapkannya waktu itu, makanya aku menunggu waktu yang tepat. Waktu dimana kita tenang dan dalam keadaan baik. Kupikir inilah waktu yang tepat." Lyn menghela napas.


"Tapi dari mana kamu tau nama itu? Kalau salah orang bagaimana?" tanya Luth ragu.


"Nggak mungkin salah. Sebab aku mendatangi puskesmas tempat Afiqa melahirkan Emran. Aku menanyakan kepada bidan yang waktu itu menangani Afiqa, apakah ada pesan yang mungkin ditinggalkan oleh Afiqa?"


"Lalu?" tanya Luth lagi, semakin tegang.


"Bidan itu mengatakan bahwa Afiqa sempat meminta supaya suaranya suaranya direkam di hape milik bidan itu, di dalam rekaman itu, Afiqa menyebut nama ayah kandung Emran. Waktu itu bidan belum sempat memberi tahukan rekaman itu kepada keluarga Afiqa. Dia lupa. Pun dia nggak tahu rekaman itu harus dia sampaikan kepada siapa. Untungnya aku sempat menemuinya sebelum dia menghapus rekaman itu. Dan aku sudah memindahkan suara rekaman Afiqa ke dalam hape ku."


"Jadi kamu sudah tahu siapa ayahnya Emran. Apakah kamu mengenalinya?" tanya Luth semakin penasaran.


"Ya."


"Ya Allah, siapa dia? Katakan, Lyn!"


"Ishaq."


Luth terkejut bukan main. Sudah sejak tadi ia penasaran dengan nama yang akan disebut sampai- sampai ia menjadi gugup tak menentu. Dan ternyata benar, kegugupannya beralasan. "Mas Ishaq? Suaminya Mbak Khadijja?" 


Lyn kemudian memutar rekaman itu, bukan tipu- tipu. Jelas di dalam rekaman itu adalah suaranya Afiqa. Wanita itu menyebut nama Ishaq sebagai ayah kandung Emran, tak lain suaminya Khadijja.


"Ya Allah, apakah Mbak Dijja tahu soal ini?" Luth geleng- geleng kepala. Tak percaya bahwa kakak iparnya itu ternyata selingkuh dari Khadijja.


Bruk!


Suara keras yang bersumber dari arah belakang membuat Lyn terkejut, dan langsung menoleh. Ia melihat Khadijja sudah berdiri di sana. Ekspresi Khadijja tampak frustasi dan stres, mukanya memucat. Tas di tangannya terjatuh ke lantai.


Tak lama tubuh Khadijja ambruk ke lantai, duduk bersimpuh. Menangis sesenggukan. Pundaknya bergetar hebat. Entah sejak kapan Khadijja sudah ada di sana dan mendengarkan perbincangan antara Lyn dan Luth.


Lyn menghambur mendekati Khadijja. Ia meraih pundak kakak iparnya itu untuk menguatkan.


"Kamu udah tahu kalau anak itu adalah anaknya Mas Ishaq, lalu kenapa kamu nggak ngomong sama aku?" sesal Khadijja sambil menunjuk- nunjuk Emran.


"Maaf, Mbak. Aku minta maaf nggak menyampaikan ini ke Mbak. Tapi menurutku nggak tepat jika aku menyampaikan ke Mbak disaat Emran baru saja kehilangan ibunya. Terlalu banyak masalah di kehidupanku waktu itu. Dan... Pengakuan Afiqa ini juga nggak akan mengubah keadaan. Bahwa Mas Ishaq memang sudah mendapatkan anak dari Afiqa. Ini semua nggak akan berubah." Ia sebenarnya juga ingin menyampaikan hal itu kepada Khadijja, tapi Khadijja sudah keburu tahu duluan.


Khadijja terus menangis. Meratapi keadaan. Ia jelas sakit hati karena merasa telah dikhianati oleh suami.


Khadijja yang awalnya berniat ingin melihat rumah baru Luth yang katanya sudah disulap menjadi gedongan, malah mendapat berita buruk. Ia lalu berlari pergi dan pulang membawa luka hatinya yang menganga lebar.


Setelah kejadian itu, Khadijja tak lagi pernah datang ke rumah itu. Ia harus menelan pil pahit rumah tangganya saat tahu bahwa suaminya berselingkuh dengan wanita lain bahkan sudah memiliki anak di luar nikah. Khadijja bercerai dari Ishaq dan memilih untuk pergi meninggalkan kota.


Sedangkan Hud pun tidak lagi tinggal di rumah elitnya karena ia sudah diberhentikan dari jabatannya sebagai manager akibat kesalahan fatal, ia kehilangan pekerjaan. Ia tak sanggup membayar cicilan rumah dan mobil, sehingga kini tinggal di kontrakan kecil bersama dengan Yesa.


Sedangkan Lyn dan Luth dinaungi liputan kebahagiaan, hidup bersama dengan Emran, juga Alisha yang kini tampak lebih terawat. 


Lyn dan Luth sudah beberapa kali cek ke dokter mengenai kesehatan keduanya, dan mereka dinyatakan sehat, namun Tuhan belum memberikan momongan. Dokter mengatakan bahwa beberapa bulan lalu Lyn sering stres sehingga mempengaruhi keadaan fisiknya.


Di bulan akhir- akhir ini, Lyn dalam kondisi hepi, Maka keduanya pasti akan mendapatkan momongan dalam waktu dekat jika Tuhan berkehendak. 


Semua yang dialami oleh Lyn dan Luth tak luput dari doa terbaik dari Alisha. Kasih sayang orang tua tak tergantikan.


Lihatlah, setelah apa yang dilakukan oleh Lyn dan Luth yang tulus dalam hal mengurus orang tua, secara kontan Tuhan pun membalas kebaikan mereka yang telah memuliakan orang tua.


Lyn tersenyum mengenang ayat itu. Dan satu kisah yang Lyn tak lupa, mengenai imam besar Imam Al Ghazali yang bermimpi berdialog dengan Allah SWT.  “Dengan modal apa kamu datang menghadap-Ku?” tanya Allah pada Imam Al Ghazali.  Lalu dengan penuh percaya diri Imam Al Ghazali menyebutkan satu per satu amal bajik yang ia lakukan sepanjang hayatnya.  


“Aku tidak menerima deretan amal bajikmu itu.  Aku hanya mau menerima satu amalmu, yakni ketika kamu sedang menulis, seekor lalat masuk ke dalam tinta penamu untuk minum darinya.  Lalu kamu tinggalkan aktifitas menulismu itu sampai lalat itu mereguk puas tinta penamu.”  


Kisah itu mengajarkan bahwa seorang hamba hanya akan diterima amal ibadahnya bila ia sudah mampu merealisasikan kasih sayangnya kepada semua makhluk.  


Bukankah seekor lalat sangat kecil nilainya bagi manusia dibandingkan dengan haji ke Makkah bagi yang berkemampuan?  Kasih sayang, rahmah, adalah cermin ketauhidan dan keimanan seseorang.  Tauhid dan iman belum diakui Allah bila hati kita belum mampu memancarkan kasih sayang kepada sesama makhluk, utamanya sesama manusia.


Terima kasih ya Rabb.


Lyn menangkap tubuh Emran saat bocah itu berlari ke arahnya di teras. Emran kini bisa berjalan tanpa bantuan siapa pun. Lincah.


"Anak pintar!" Lyn meraih tubuh gemuk Emran.


Luth yang baru saja keluar dari rumah, langsung merangkul tubuh Lyn. "Ayo, kita jalan- jalan! Makan spaghetti!"


"Mau dong!" Lyn tersenyum.


Alisha yang baru saja keluar dari rumah, tersenyum menatap Emran digendong oleh Lyn.


"Ibu, ayo ikut! kami mau makan di luar." ajak Luth.


"Tidak, ibu di rumah saja," jawab Alisha dengan senyum cerah bersahaja.


"Ibu yakin?" tanya Lyn.


"Iya. kalian pergi saja sana!" pinta Alisha yang kini tampilannya jauh lebih bugar dan sehat.


"Ya sudh, ibu jaga diri baik- baik di rumah ya!" pesan Luth. Ia dan istrinya menuruni teras, masuk ke mobil.


Alisha tersenyum senang sambilmmelambaikan tangan. Dialah ibu yang mulia. Yang selalu mendoakan anak- anaknya tanpa batas. Meski anak tak mengerti dengan kata bakti, namun percayalah bajwa sebesar-besarnya ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya.


Kenapa harus jauh- jauh mencari amalan untuk surgamu, jika surga itu sudah ada di rumah, yaitu Ibumu. ibu, ibu dan ibu. Ia bisa menggantikan siapa pun, namun ia tidak akan bisa tergantikan.


Biarpun shalatmu berjuta rakaat, sedekahmu berjuta dollar, hajimu berkali- kali, tapi saat kau gores hati ibumu, maka surga bukan milikmu.


Dalam hati Alisha berdoa, "Ya Tuhan, jagalah anak- anakku di saat penjagaanku tak sampai kepada mereka. Peluklah anak- anakku dengan kasih sayang- Mu di saat tanganku tak mampu memeluk mereka. Usaplah air mata mereka disaat tanganku tak mampu mengusapnya."


.


.


.


( Setelah ini langsung baca novel Emma judul ISTRI PRESDIR YANG TERTUKAR di Fi Z Z O ya. Baca GRATIS di sana, sama kayak di noveltoon juga. Yg udah baca pasti tau banget keseruannya. Follow aja instagram @emmashu90. emma aktif berbagi info di instagram )


Mau tau dimana Istri Presdir Yang tertukar update? ikuti instagram emma @emmashu90


TAMAT