DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Malam Pertama


Tuhan telah memberi jalan kemudahan.  Itulah yang ada di pikiran Luth saat ini.  Dengan posisi menimpa tubuh Lyn, wajah mereka hanya hanya berjarak beberapa centi  saja.  Luth tentu tidak mau menggeser posisinya.  Dia hanya tinggal melanjutkan saja skenario yang sudah diatur oleh Tuhan.


Tak perlu permisi, Luth memajukan bibirnya yang hanya perlu maju sedikit saja, menyentuh bibir Lyn.


Tahukah apa yang dirasakan oleh Lyn?  Tidak perlu ditanya bagaimana membuncahnya perasaan Lyn saat bibir mereka bertautan.  Sudah sekian lama ia memendan rasa pada Luth, apakah ada hari yang lebih menyenangkan dibanding hari ini?  Tentu tidak.  Semua rasa mengaduk-aduk batinnya.  Bahagia, grogi, dan gugup berbaur menjadi satu.  


Gerakan Luth tak hanya berhenti di situ saja, pria itu tampak lebih berani melakukan gerakan yang lebih, dan lebih.


Saat pakaian sudah teronggok entah dimana, Lyn memalingkan wajahnya yang memanas melihat tubuh berotot milik Luth.  Meski pandangan remang-remang, namun Lyn masih dapat melihat dengan jelas setiap lekuk tubuh suaminya.  


Kebahagiaan malam itu membuncah dan tak terlukiskan dengan kata-kata.  


Semuanya dimulai.  Begitu lembut.  Jeritan kecil dari mulut Lyn diredam oleh ciuman Luth.  Gadis itu menangis.  Air mata menetes dari kedua sudut matanya.  Namun saat jari tangan mereka bertautan, saat nafas keduanya berpacu, saat mata Lyn hanya mampu terpejam, saat pelukan dan kecupan Luth memburu, tak ada lagi air mata yang menetes.  Lyn dan Luth menjalankan sunah yang membuat keduanya merasakan cinta kian memuncak.  Lalu semuanya berakhir dengan senyuman, kecupan dan pelukan hangat.  


Lyn melilitkan selimut ke tubuhnya saat memasuki kamar mandi.  ia menolak diajak mandi bersama.  Ia mengabaikan ketukan pintu dari luar dan menyelsaikan mandi.  Biarkan saja Luth jamuran menunggu di depan pintu.  Lyn tidak mau mandi bareng.  Malu dan risih.


Berbeda halnya dengan Luth yang terlihat leluasa, tidak ada lagi yang membuat Luth merasa canggung untuk melakukan kemesraan terhadap istrinya.  Ia sudah melakukan hal yang lebih, sekarang semuanya terasa mudah baginya.  


Inilah bedanya laki-laki dan perempuan.  Kaum Adam akan dengan mudahnya melepas kecanggungan saat sudah kapasitas canggung itu sudah terpenuhi, berbeda dengan wanita yang membutuhkan waktu untuk mengusir perasaan canggung.


Lyn dan Luth kembali berbaring di atas sprei yang sudah diganti setelah keduanya selesai mandi. Luth dengan entengnya menarik lengan Lyn, meminta gadis itu supaya tidur dengan posisi miring menghadapnya, memeluk dirinya, kepala nyender di dadanya.  Inilah posisi yang disukai olehnya.  


Lyn tersenyum dengan posisi kepalanya yang berada di dada Luth, lengan melingkar memeluk tubuh gagah suaminya.  Detik berikutnya kepalanya sedikit menggeleng dan mata terpejam mengingat adegan panas yang baru saja tercipta di ranjang itu tadi.  Duuuh… Rasanya masih deg-degan saja.


Luth menyentuh dagu Lyn, mengangkatnya hingga pandangan keduanya kembali bertemu.


“Hei, kenapa?  Kayak orang demam, gemetaran gitu kepalanya?” tanya Luth.


“Eh, apa iya?  Enggak, ah.  Udah, tidur!” ucap Lyn yang langsung memjamkan mata.  Perasaannya masih berbunga-bunga, segala tindakannya yang ganjil tidak ingin diprotes.


Luth pun memejam kan mata.


Tok tok…


“Lyn!” panggil suara dari luar.


Sontak Lyn dan Luth membuka mata, lagi-lagi mereka bertukar pandang.  Lyn sangat mengenal suara itu, tak lain suara Amina.  Mendadak saja, perasaan bahagia yang baru saja membuncah memenuhi batinnya, buyar entah kemana, berganti dengan perasaan was-was.


“Itu mama,” bisik Lyn dengan wajah memucat.


“Aku akan keluar!” bisik Luth sambil melompat turun dari ranjang.


“Nggak sempet.”  Lyn menahan tubuh Luth.  “Keburu ketahuan.”


“Jadi?”  Luth pasrah, mengikuti apa yang akan dikatakan oleh Lyn.


“Sembunyi!”  Lyn panik.


“Dimana?” Luth menuju ke balkon.


“Jangan kesitu!” sergah Lyn membuat Luth balik lagi.


Dugh!  Alih-alih ingin meninggalkan pintu balkon, malah Luth bertabrakan dengan Lyn.  Dagunya terantuk kening Lyn.  


“Aduh!”  Lyn mengusap keningnya.


“Lyn, ada apa?  Kenapa gaduh sekali di kamarmu?”  Amina mendekatkan telinga ke pintu.


“Sebentar!” seru Lyn.


“Sembunyi di kamar mandi aja?” ucap Luth minta kesepakatan.


“Jangan, nanti gawat kalau mama masuk kamar mandi.”


“Lyn, buka pintunya!”  Amina mengguncang handle pintu.  “Jam segini masak udah tidur?”


Haduh!  Mama Amina mengganggu saja, untung kegiatan sunah tadi sudah selesai dijalankan, kalau tidak maka mereka akan kelimpungan tak tentu arah.


“Cepetan sembunyi dimana?” tanya Luth.


“Di sini!”  Lyn menunjuk kolong ranjang.


Luth tak mau berkompromi lagi, ia langsung menyelinap masuk ke kolong ranjang saat Lyn membuka pintu kamar.


Bersambung