DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Endorse


Luth mendatangi rumah Amina, saat itu Bik Ita yang membuka pintu itu.  


“Ada Lyn?” tanya Luth.  untungnya bukan Amina yang membukakan pintu.


“Loh, nggak ada, Mas.  Saya tadi nganterin lauk lewat pintu belakang, dan saya nggak menemukan Nona Lyn.  Kirain Non Lyn sedang keluar.  Jadi saya tarok saja lauknya di meja, ditutupi tudung saji.”  Bik Ita menjawab dengan suara lirih, takut suaranya didengar oleh Amina.


Mendengar jawaban Bik Ita, Luth pun menjadi frustasi.  Ia mengira lyn ada di rumah Amina.


“Apa kabar mama Amina?” tanya Luth.


“Sudah agak mendingan.  Tapi masih perlu perawatan intensif.”


Luth mengangguk.  Kemudian meninggalkan rumah itu dnegan langkah lemas.  Pikirannya diserbu dengan berbagai pertanyaan, kenapa Lyn minggat begitu saja?  Kenapa dia tidak berpamitan pada Alisha?  Setidaknya Lyn berpamitan pada Alisha karena Alisha adalah mertua yang sangat dia sayangi.  Apakah sebesar ini rasa kecewa yang dialami Lyn sampai- sampai dia melakukan hal ini?


Luth takut kehilangan istrinya.  Takut kehilangan sosok Lyn yang baru dia sadari bahwa ia tak seharusnya memaki Lyn.  Rasa kehilangan membuatnya sadar betapa banyak pengorbanan Lyn untuknya.  Kenapa seluruh kebaikan dan kemuliaan Lyn baru dia sadari saat sudah kehilangan begini? 


Luth pulang dengan tangan kosong.  


***


Hari ini Luth mulai bekerja di kantor barunya setelah sempat mengabaikan kantor itu.  Sudah ada laporan masuk mengenai hasil dari produk yang sudah diluncurkan dan didistribusikan.  Setelah launching dan membayar promo, serta didistribusikan ke daerah- daerah, Luth mendapat laporan bahwa produknya laris, digemari masyarakat.


Ini artinya produknya tidak gagal.


Luth juga membutuhkan seorang model untuk endorse produknya.  Semuanya sudah diatur oleh asistennya.  Ia mendapatkan gambaran bahwa usahanya benar- benar akan maju dan pesat.  Dilihat dari grafik penjualan, produknya mampu bersaing.  Padahal produk baru, tapi promonya benar- benar berhasil.


Luth sedang mengecek grafik di laptop ketika asistennya memasuki ruangan setelah mengetuk pintu.


“Ada apa, Lia?” tanya Luth dengan pandangan fokus ke laptopnya.


“Figur yang dipilih untuk endorse sudah datang, pak.  Bisakah Bapak bertemu dengannya?” tanya Lia.


Lia ke luar ruangan, tak lama ia kembali bersama dengan seseorang.  


“Silakan duduk!” ucap Lia mempersilakan tamunya.


Kursi di depan Luth ditarik, sosok itu duduk.


“Jadi.. kamu figuran apa?” tanya Luth masih dengan pandangan fokus ke laptop.


Tidak ada jawaban.


“Maksud saya, selebgram, artis tiktok, atau apa?” sambung Luth.


“Penulis,” jawab sosok itu. “Saya menulis dan kebanjiran followers di instagram, lalu mendadak akun instagram saya mendapatkan centang biru setelah digeruduk banyak pengikut.  Setelah itu, saya sering mendapatkan tawaran endorse.  Salah satunya dari Bapak.”


Luth masih terpaku menatap layar laptopnya.  Ia enggan mengarahkan manik matanya kepada sosok di depannya.  Sejak tadi ia terdiam saat menyadari bahwa ia mengenal suara itu.  


“Lyn?”  Luth menatap Lyn yang duduk di hadapannya dan bangkit berdiri. Ia bahkan tidak tahu bahwa figuran yang dipilih oleh asistennya adalah istrinya sendiri.  jantung Luth rasanya tak karuan.


“Jadi… kamu udah jadi bos di perusahaan baru ini?” tanya Lyn yang sejak tadi bertanya- tanya, kenapa suaminya duduk di kursi kebesaran seorang bos?


“Lyn, gedung ini masih menyewa.  Modal untuk usaha ini juga dari pinjaman.  Tapi… Penanam sahamnya lumayan.  Mereka mempercayai aku.”  Luth memutari meja.  “Inilah yang selama ini aku rintis.  Kamu masih marah sama aku?”  Luth memposisikan tubuhnya berdiri di sisi Lyn.  


Lyn menghela napas.  “Kamu mau sosok figuran yang menerima endorse kan?  Tapi kamu nggak tahu bahwa orang yang kamu tawari untuk mempromosikan produkmu itu adalah aku, benar begitu?  Sekarang kamu udah tahu bahwa figur itu adalah aku, lalu kamu mau batalin kan?  Dan aku pun nggak tau kalau pimpinan di sini itu kamu.  Kalau aku tau, aku pasti nggak akan terima tawaran ini.  Sebab aku tau kamu nggak mau aku terjun di dunia ini.”


Lyn bangkit berdiri.


...Bersambung...