
Hampir empat jam proses operasi berjalan. Lyn dan Luth menunggu dengan cemas.
"Bagaimana ibu bisa dioperasi? Uangnya dari mana?" tanya Luth bimbang.
Lyn memegang lengan kokoh suaminya, berharap suaminya tidak menjadi rendah diri saat ia mengungkapkan sejujurnya.
"Aku jual emas," lirih Lyn.
Ekspresi wajah Luth berubah aneh, agak terkejut.
"Emas dari mana? Setahuku kamu datang ke rumahku tanpa membawa apa pun," ujar Luth.
"Maafin aku, aku nggak bilang ke kamu soal ini dari awal. Tapi inilah satu- satunya jalan. Ibu harus selamat. Aku ambil emas pemberian almarhum ayah ke rumah. Semoga ini adalah yang terbaik diantara yang baik."
Tak ada lagi kata- kata yang terucap dari mulut Luth. Pria itu diam.
Saat pintu ruang operasi terbuka, Lyn dan Luth bangkit berdiri menyambut bed yang didorong keluar.
Dalam keadaan wajah memucat dan kulit tubuh yang terasa dingin sekali, Alisha terbaring di atas bed, terpejam.
Lyn meraih tangan mertuanya itu. Menggenggamnya erat sambil ikut mendorong bed, mereka memasuki sebuah kamar rawat.
Syukurlah operasi berjalan lancar.
Wajah Alisha tampak pucat pias dalam keadaan mata terpejam.
"Lyn, makasih banyak kamu udah menjadi bagian terpenting untuk ibu di saat- saat keadaan genting begini," ucap Luth dengan tatapan teduh.
Lyn melempar senyum, mengangguk. "Kamu jangan bilang makasih. ini kan emang udah kewajiban aku. Ibu kamu, dia itu juga ibuku."
Luth membeku. Apa yang bisa ia katakan sekarang? Semuanya telah dilakukan oleh Lyn.
Anak kandung Alisha yang jauh lebih memiliki tanggung jawab untuk itu, justru tidak melakukan apa pun. Hud, pria itu selaku putra sulung Alisha justru takluk di bawah perintah istri. sedangkan Khadijja, wanita itu memang menjauh dari orang tuanya karena takut hartanya akan tersenggol.
***
Di rumah yang sederhana itu, Lyn duduk di hadapan Alisha yang terbaring di kasur. Lyn menyuapi mertuanya makan bubur.
Ini adalah hari pertama Alisha rawat jalan di rumah setelah diijinkan pulang.
“Lyn, Luth itu adalah anak yang berbakti. Ibu merasa beruntung sekali ternyata dia mendapatkan istri sepertimu. Sejak kecil, dia memang terlihat berbeda dari yang lain. Dia tampak nggak peduli, diam, tapi sebenarnya sangat peduli.”
Alisha menggeleng.
“Nanti kalau ibu mau ke kamar kecil, ibu bilang aja ya!” Lyn mengangkat mangkuk dan gelas kotor keluar kamar.
Notifikasi masuk yang tak henti meramaikan ponsel membuat Lyn meraih hape nya di meja ruang tamu sesaat setelah meletakkan mangkuk dan gelas ke tempat pencucian piring.
Ya Allah… Postingan Lyn di sosial media yang diupload saat berada di rumah sakit diiringi dengan videonya di rumah sakit itu menuai banyak komentar. Sungguh kebanjiran komentar, dikunjungi oleh banyak orang. yang memberikan dukungan pun banyak sekali.
Lyn terharu, ternyata di belahan dunia ini ada banyak muslim yang peduli terhadapnya, tidak memberikan bantuan secara materiil, anmun doa mereka sangat berarti.
Merasa terdukung oleh situasi, Lyn lalu kembali mengetik untuk menceritakan dan meneruskan kisahnya, memposting apa saja yang menjadi bagian mengharukan, menyedihkan, menyakitkan, juga membahagiakan dirinya.
Begitu kisah kelanjutannya dibagikan, akunnya langsung diserbu dengan komentar yang positif. Seluruh komentar terdengar mengaharukan.
Lyn makin bersemangat untuk menuliskan kisah hidupnya di sosial medianya. Bukan menulis sesuatu yang dapat membuka aib siapa pun, melainkan kisah inspiratif yang dapat membuat orang- orang merasa termotifasi untuk menjadi manusia baik.
“Ehm!”
Lyn terperanjat mendengar suara deheman. Ia mengangkat kepala, menyadari kedatangan Luth yang baru saja pulang kerja.
“Eh, kamu baru pulang?” Lyn mengantongi hape nya, menyambut kedatangan Luth. Ia menyalami tangan suaminya dan mencium punggung tangan itu penuh takzim.
“Sebenarnya udah dari tadi. Bahkan salamku sampai nggak kamu jawab, loh. Kelihatannya asik banget dengan hape? Senyum- senyum sendiri begitu?” Luth memperlihatkan ekspresi tak nyaman.
Lyn malah terkekeh. “jangan cemburu! Bukan tipeku main serong sama laki- laki lain di hape. Ini loh, lihat ini!” Lyn menunjukkan postingannya di sosial media yang dibanjiri komen.
Luth terkesima membaca barisan tulisan yang diunggah oleh istrinya. “Kamu jago banget bikin kata- kata begitu. Indah dibaca. Itulah yang bikin orang- orang tertarik membacanya.” Luth mengangguk- anggukkan kepala.
“Istri kamu ini kan kuliahnya di jurusan sastra.” Lyn nyengir dipuji suaminya.
“Oh… aku sampai lupa soal itu. Aku mandi dulu." Luth tak sengaja menyenggol lengan Lyn saat melewati wanitanya itu.
Yang diseggol langsung menoleh ke lengannya, lalu mengulum senyum. "Dih, kode nih senggol- senggol."
Luth yang sudah masuk ke kamar pun nongol lagi, melempar senyum, lalu kembali menutup pintu. Membuat Lyn geleng- geleng kepala.
Bersambung