
Lyn tertidur di kasur sisi Alisha. Ia tadi menemani Alisha nonton televisi. Tapi kantuk malah menyerangnya. Dan kini ia tertidur pulas di sisi Alsiha yang juga sudah lebih dulu tertidur.
Brrrt… brrrt…
Ponsel Lyn bergetar. Gadis ity tergagap dan cepat meraih ponselnya, melihat panggiulan masuk. Papanya menelepon.
“Halo, Pa!” sahut Lyn dengan suara kantuk yang berat.
“Kamu diman, Lyn? Kok, papa lihat di kamar nggak ada? Papa dari tadi nyariin kamu,” sahut Nuh di seberang.
“Lyn di rumah Luth, nemenin Bu Lisha,” jawab Lyn masih dengan mata terpejam.
“Memangnya Luth kemana? Kok, kamu yang nemenin?” Nuh sangat memahami selama ini Lyn kerap sekali mendatangi rumah Alisha setiap kali wanita paruh baya tersebut sendirian. Terkadang Lyn membawakan makanan untuk Alisha, memijiti wanita paruh baya itu, juga mengajak jalan-jalan.
“Keluar,” jawab Lyn dengan kata-kata tak jelas, lebih seperti dengkuran.
“Papa bawain makanan enak ini buat kamu. Mumpung lagi anget. Kalau pulang cepat dimakan ya!”
“Iya. Jangan bilang mama kalau Lyn di sini ya, pa. nanti mama ngamuk.”
“Iya iya. Makanya kamu cepetan pulang, kalau ketahuan mama kamu menyelinap ke rumah tetangga, kamu bisa diamuk loh.”
Lyn hampir tidak mendengar ucapan papanya. Ia mengantuk sekali. Hingga tanpa sadar sambungan telepon sudah terputus. Sesuatu yang mendesak dalam tubuh memaksanya untuk bangkit bangun, berjalan sempoyongan dengan mata terpejam keluar kamar menuju ke kamar kecil yang ada di ujung, dekat dapur.
Selesai dengan kegiatan yang penuh dengan keterpaksaan itu, Lyn kembali ke kamar. Melempar tubuhnya ke kasur dan melanjutkan tidur.
Baru beberapa menit saja Lyn tertidur. Ia merasakan sesuatu yang berat menaimpa dadanya. Masih terpejam, tangannya meraba, menyentuh sesuatu benda yang menimpa dadanya itu. ternyata tangan. Ia tersenyum tipis, Bu Alisha kalau tidur pecicilan juga. Tangan pun bisa sampai menggelepar kemana-mana.
Suara keras membangunkan Lyn hingga matanya terbuka. Sontak ia terkejut menatap wajah Luth yang begitu dekat dengan wajahnya.
“Aaaaaa….”
Lyn dan Luth teriak serentak. Keduanya saling menjauh, bangkit duduk.
Masih kebingungan, Lyn menatap Nuh dan Alisha yang berdiri di pintu kamar sambil tepuk jidat masing-masing.
“Kalian kenapa bisa smapai tidur sekamar begini? Ya allah!” Nuh geleng-geleng kepala.
“Ya ampun, Luth!” Alisha tak kalah menggelengkan kepala dengan kuat.
“Ini nggak seburuk yang ibu dan om pikirkan,” ucap Luth berusaha menjelaskan. “Aku juga nggak tau kenapa Lyn bisa ada di kamarku begini.”
Lyn mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia baru menyadari satu hal yang membuatnya kaget bukan main, bagaimana bisa ia sekarang ebrada di kamar Luth? Bukankah ia tadi di kamar Alisha menemani wanita paruh baya itu tidur? Atau jangan-jangan ia digendong jin dan dibawa ke kamar Luth seperti di cerita-cerita mistis itu?
Eh, tunggu dulu, Lyn baru ingat. Ia tadi sempat terbangun sebentar ke kamar kecil untuk setor, lalu ia kembali ke tidur. Berarti ia salah masuk kamar. Seharusnya masuk ke kamar Alisha, eh malah menyelinap masuk ke kamar Luth. Fix, ini gara-gara mengantuk. Jadinya kacau begini.
“Lyn tadi salah masuk kamar, pa!” jelas Lyn. “Tadinya Lyn menemani Bu Alsiha tidur di kamarnya, trus Lyn kebangun karena kebelet pipis. Eh nggak taunya pas balik ke kamar malah salah masuk kamar.”
“Masak kamu nggak bisa ngebedain mana kamar ibu dan kamar Luth? Bukannya kamu udah hafal betul posisi ruangan di rumah ini?” Alisha tampak bingung, ia benar-benar butuh penjelasan.
TBC