DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Dahsyat


Hari ini adalah hari dimana Lyn merasa menjadi seorang ibu. Ia tampak sibuk mengurus si kecil, juga merawat mertua dengan tulus. Tidak ada apa oun yang diharapkan oleh Lyn dari kesibukannya itu kecuali keridhaan Tuhan. Berharap akan mendapat pelukan hangat dan kasih sayang yang tiada batas dari Yang Maha Luas pemberiannya.


Ditengah kesibukannya mengurus Emran, Lyn menyempatkan diri untuk aktif menulis di dunia maya. Sampai akhirnya tulisannya itu dilirik oleh editor sebuah platform kepenulisan online.


Dilihat dari setiap postingan yang dibanjiri komentar, like dan dukungan, tulisan itu dianggap memiliki nilai jual.


Editor bernama Erik, yang Lyn pun tidak mengenal siapa dia, mengirim pesan melalui Dm di instagram, mengajak Lyn supaya menulis di platform yang dia kelola. tak lain platform online yang baru rilis fan menyajikan novel- novel best seller.


Tak tanggung- tanggung, penawaran fantastis pun dilayangkan kepada Lyn. Ia mendapat penawaran 45 dollar Amerika setiap menulis dengan jumlah seribu kata, belum termasuk bonus update bab dengan jumlah kata yang ditentukan setiap bulannya, juga belum termasuk royalti kontingen yang merupakan pendapatan dari iklan.


Tak mau gegabah menjawab penawaran, Lyn meminta supaya tawaran dinaikkan. dan sepakat di angka 55USD untuk setiap seribu kata yang ditampilkan di platform online.


Ya Allah, tak disangka hasil kreatifitasnya di dunia maya malah berbuntut positif. Ia pun mulai menghitung, andai saja dalam satu bulan ia mampu menulis seratus ribu kata, maka bukan mustahil pendapatan yang akan dia terima menyentuh angka delapan puluh juta, belum lagi ditambah bonus dan kontingen. Otomatis akan bisa menyentuh angka ratusan juta dalam sekali tarik pendapatan dari platform online. Aduh... Lyn tersenyum sembari sujud syukur.


Sejak saat itu, Lyn pun mulai aktif untuk terus menulis, mengajak teman- teman pembaca setianya yang menggeruduk di instagram untuk mengikuti kisah yang dia tulis di platform online.


Terkadang, Lyn menyempatkan diri untuk berdiri di samping rumah, menatap rumahnya yang bersebelahan dengan rumah yang sekarang dia tempati. Ia merindukan ibunya. Apa kabar?


Lyn sering mendapat kiriman makanan dari asisten rumah tangganya yang memasak lebih di rumah Amina, kemudian lauk lebih itu dia antar ke tempat Lyn secara sembunyi- sembunyi.


Lyn pun tak menjadi sibuk karena urusan lauk sudah selalu diantar oleh asisten rumah tangganya itu.


Asisten rumah tangganya juga selalu memberi kabar mengenai kondisi Amina yang sedang sakit.


Tak hanya itu, datang pula seorang sutradara yang ingin menjadikan novel milik Lyn untuk diadaptasi ke perfilman. Tawaran uang kembali diterima oleh Lyn.


Rejeki itu datang dari berbagai sudut dan tak diduga- duga.


Lyn belum mengatakan semuanya kepada Luth, ia masih canggung mengatakannya sebab ia tahu awalnya Luth tidak suka melihat Lyn yang terlihat sibuk dengan hape. Beberapa kali Luth menegur Lyn setiap kali wanita itu tampak fokus dengan layar ponsel. sebab Lyn mengetik cerita melalui hape.


"Jangan karena hape, kamu menjadi lalai, Lyn."


Lyn ingat perkataan Luth tempo hari.


"Maaf kalau kamu nggak suka aku mainin hape." Lyn merangkul Luth dari belakang saat itu. "Aku sebenarnya bukan hanya sekedar sibuk di sosial media, tapi aku sedang menulis. Ini kan juga menghasilkan uang untuk membantu keuangan kita."


"Menulis? Jangan bercanda kamu. Biarkan aku yang menjadi pencari nafkah di rumah ini. Jangan pula kamu melibatkan dirimu mencari nafkah. Kalau kamu kurang bisa menerima nafkah yang aku berikan, kamu boleh menuntut aku supaya aku bekerja pagi dan malam, jadi akan ada uang tambahan. Jangan pula malah kamu yang mencari nafkah, menggantikan posisi laki- laki. Nggak ada satu pun perintah bagi perempuan untuk mencari nafkah." Suara Luth tidak nyaman untuk didengarkan. Bahkan ekspresinya pun tak nyaman juga.


Menyaksikan itu, Lyn jadi bingung dan serba salah. Apakah salah jika ia membantu suami? Bukan maksud kufur nikmat dan tidak mensyukuri pemberian suami atau merasa kurang, tapi ia hanya ingin tulus membantu perekonomian.


Lalu kenapa Luth malah tidak suka?


Lyn perlahan melepas pelukan. Duduk di sisi kasur. "Aku hobi menulis. Kan memang jurusan kuliahku di sastra. Dan aku senang melakukannya. Eh malah dapet bayaran. Jadi uangnya mau untuk apa? Lumayan banget loh hasil ....."


Bersambung