
Mulai hari itu, Lyn benar-benar merasa seperti seorang pacaran backstreet. Mencuri-curi pandang wajah sang kekasih dari balik dinding rumahnya, pura-pura mengantar makanan ke rumah tetangga, padahal hanya ingin bertemu dengan suami.
Tak hanya sekedar mengantar makanan ke rumah Alisha, Lyn juga kerap mengurus Alisha, seperti membuatkan susu, menyediakan vitamin untuk mertuanya itu, serta mencucikan baju dan menyiapkan makanan untuk mertua.
Pagi-pagi sekali Lyn mengendap-endap ke rumah Luth. Lalu ia memasak, mencuci pakaian, dan membereskan rumah. Semua pekerjaan itu dibantu juga oleh Luth. Pria itu tak mau berpangku tangan, ia sudah terbiasa dengan pekerjaan itu. bahkan lucunya, Luth bersedia membantu Lyn mencuci pakaian. Padahal Lyn mencuci menggunakan mesin cuci, tapi tetap saja Luth membantu gadis itu menuangkan air ke bak.
Luth sadar, ibunya sudah tua, tidak lagi patut untuk melakukan pekerjaan berat meski hanya sekedar mencuci pakaian menggunakan mesin cuci. Sebab butuh tenaga ekstra untuk mengisi air ke dalam bak mesin cuci. Dan hal itu tidak dianjurkan oleh Luth.
Betapa Lyn beruntung memiliki suami sepengertian Luth, yang tampak tak ingin memberatkan Lyn sebagai istri. Luth juga sering melarang Lyn memasak untuk persediaan makan malam, pria itu lebih suka membawa pulang lauk matang saat pulang kerja untuk makan malam.
Dari semua sikap yang ditunjukkan oleh Luth, Lyn menyadari kalau Luth benar-benar mempraktikkan amanah orang tuanya yang menyatakan bahwa istri bukanlah pembantu, bukan orang yang disuruh-suruh untuk melayani kebutuhan suami. Istri adalah pendamping hidup seorang pria, tempat berbagi kasih sayang, menjaga harta suami, juga sebagai ibu dari anak-anak suami. Bilamana Lyn sebagai istri justru menyibukkan diri dengan pekerjaan dapur, maka itu adalah nilai plus baginya sebagai ladang amal.
Tak jarang, Lyn memasak lauk di rumahnya dengan porsi banyak, lalu menyisihkan sebagian lauk untuk dibawa ke rumah mertua.
Rumah tangga Lyn dan Luth benar-benar unik, meski dihantui rasa was-was, kucing-kucingan begini, namun tetap bahagia.
Di kesehariannya, Lyn memang sering menghilang dari rumah karena menyelinap ke rumah Luth untuk menjaga dan merawat Alisha, juga untuk ketemuan dengan Luth. Namun hal itu tidak membuat Amina curiga, sebab Amina jauh lebih menyibukkan diri dan tidak menyadari akan keberadaan putrinya. Mereka jarang berkumpul di satu tempat.
Pagi itu, setelah membereskan rumah Luth bersama-sama dengan pria itu, Lyn pulang lalu mandi dan berkemas hendak ke kampus. Ia menyalami tangan mama dan papanya yang sedang sarapan di meja makan.
“Kamu nggak sarapan dulu?” tanya Amina sambil menunjuk pasta yang ia santap. Tak lain pasta hasil masakan Lyn.
Lyn tersenyum sambil menggeleng. Ia menolak secara halus. Ia sudah sarapan di rumah Luth dengan keromantisan yang tercipta, makan berdua sambil pandang-pandangan. Begitu saja perasaannya sudah melambung tinggi.
“Lyn, berangkat ke kampus dulu, Ma, Pa.” Lyn melenggang pergi. Ia tidak naik mobilnya, melainkan berjalan kaki sampai beberapa meter ke depan rumah, lalu menyelinap masuk ke mobil Luth yang sudah menunggu.
“Mau sampai kapan kamu kucing-kucingan begini, Lyn?” tanya Luth saat mobil sudah melaju.
“Sampai aku merasa siap. Sekarang mentalku belum siap menerima resiko,” jawab Lyn.
“Oke, deh. Aku ikuti permainanmu. Aku akan tunggu sampai kamu merasa siap dan aku mengakui semuanya di hadapan mama kamu. Bahkan kamu naik mobilku aja sampai harus ngumpet begini. Kasian banget kan?”
“Memangnya kamu nggak takut ya sama mamaku?”
“Rasa takut itu ada. Tapi ini udah jadi keputusanku. Aku menikahimu dengan segala konsekuensi yang udah aku pertimbangkan matang-matang. Semuanya akan kujalani, bukan kutakuti.”
Sepanjang jalan mereka bersenda gurau. Luth sangat pintar membuat situasi menjadi cair. Seiring berjalannya waktu, kecanggungan pun memudar. Rasa rasa canggung perlahan terusir. Mereka tampak lebih leluasa dan terbiasa.
Jika dipikir-pikir, mobil milik Lyn jauh lebih mewah dan nyaman untuk bepergian, tapi Lyn lebih suka diantar Luth menggunakan mobil berharga level paling rendah yang katanya kreditnya belum lunas itu. Duduk berdekatan dengan Luth lebih indah dibandingkan segalanya.
Lyn mulai merasa terusik saat ponsel Luth terdengar sibuk sekali. Ada banyak pesan masuk ke ponsel yang berada di laci dashboard.
“Luth, itu hape kamu ya? Kedengarannya rame banget? Siapa sih yang ngirimin pesan ke kamu sampai sebanyak itu?” tanya Lyn dengan raut ditekuk, ia merasa tidak nyaman dengan bunyi tersebut. sebab selain dirinya, ada orang lain yang ternyata lebih menyibukkan ponsel Luth. Ia mengira selama ini hanya dirinyalah yang membuat ponsel Luth kedengaran sibuk oleh chat dan pesannya.
Apakah ini yang dinamakan cemburu? Tak masalah kan kalau seorang istri cemburu pada suaminya? Lyn sudah memiliki hak untuk merasakan cemburu pada sesuatu yang menjadi miliknya.
"Itu mungkin temen kerja," ucap Luth sambil memutar mata.
Melihat sikap Luth uang agak berbeda, Lyn mulai curiga, apakah Luth menutupi sesuatu?
"Luth, kita nggak sedang berteman kan?" tanya Lyn polos sekali.
Luth terkekeh. "Siapa bilang kita bertemen, apa kamu udah amnesia? Kamu lupa aku udah ijab qobul sama papa kamu?"
"Kalau begitu, kita nggak boleh ada rahasia. kamu setuju?"
"Mm... Memangnya ada rahasia apa?"
"Aku boleh dong lihat ponsel kamu. Nggak ada privasi yang harus disembunyiin di ponsel kamu kan? Kamu juga boleh lihat isi ponselku kok," ucap Lyn.
Luth tampak enggan menjawab.
"Tenang aja, aku nggak bakalan lihat yang macem macem kok. Seenggaknya kita sama sama mengijinkan untuk pasangan lihat isi ponsel. Entah itu membuka chat di ponsel kamu, atau misalnya menjawab telepon di ponsel kamu gitu? Nggak masalah kan? Kamu juga boleh lihat punyaku, berbuat apa aja sama ponselku. soalnya emang aku nggak ada menyimpan rahasia apa pun dari kamu." Lyn tersenyum lebar kemudian membuka laci dashboard dan mengambil ponsel milik Luth sebelum sempat pria itu menjawab.
Lyn tidak menemukan pola ataupun password di ponsel suaminya. Ia bisa langsung melihat ada tujuh chat masuk dari satu nama, Afiqa.
Bersambung