DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Menjelang Malam Itu


Lyn mengaduk air teh di dalam gelas, entah sudah berapa lama ia mengaduk dengan tujuan melarutkan gula. Pikirannya sedang melayang kemana mana, memikirkan apa yang akan terjadi malam ini. 


Duh, kenapa Lyn malah kepikiran ngeres begini? Seharusnya ia tidak memikirkan hal-hal begini? Apakah ini yang dinamakan pikiran cabul? Weh..


Lyn membelalak saat menyadari teh yang sejak tadi dia aduk itu sudah menjadi dingin. Ia menempelkan telapak tangan ke gelas kaca. Benar, sudah tidak panas lagi. Ya sudah, biarkan saja hangat begini.


"Lyn, kamu masih di sini?" tanya Alisha yang baru saja muncul, heran melihat Lyn, sudah hampir setengah jam sejak Lyn mengaku akan membuat teh, sampai kini teh panasnya belum selesai.


"Eh, iya ini, Bu. Udah selesai kok bikin tehnya."


"Ya udah sana, kamu kasih tehnya ke Luth, ini kan malam pertama kamu, jangan malah sibuk sendiri," imbuh Alisha lagi-lagi menyebut kata malam pertama, Lyn kan jadi salah tingkah.


"Lyn duluan ya, Bu. Mau kasih teh nya ke Luth," Lyn beranjak pergi.


"Eh, Lyn. Loh, itu bukan teh yang kamu bawa," seru Alisha membuat Lyn berhenti dan sontak mengikuti arah pandang Alisha.


Seketika Lyn membelalak menatap teko berukuran besar di tangannya. Loh, kok ia malah membawa teko berisi air mineral, bukankah seharusnya ia membawa gelas berisi teh hangat? Ups.


Dengan raut merah merona, Lyn balik lagi, meletakan teko dan menggantinya dengan gelas yang seharusnya dia bawa. Ini nih efek pikiran tidak sinkron. Lyn secepatnya meninggalkan dapur.


Ia berjalan menuju kamar. Jantungnya berdegup saat sudah berdiri di depan pintu kamar Luth, yang saat ini sudah menjadi kamarnya juga. Tangannya terjulur hendak menyentuh handle pintu, namun urung. Tangan itu ia tarik kembali. Beberapa kali ia melakukan hal yang sama, tangannya maju mundur hendak membuka pintu. Ujung-ujungnya malah menjauh dari pintu, lalu mondar mandir di depan pintu.  


Masuk nggak? Masuk nggak? Kok gugup begini? 


Setelah mengumpulkan keberanian, berusaha menyingkirkan rasa malu, Lyn akhirnya nekat membuka pintu. Eh, ternyata Luth tidak ada di kamar. Kembali mata Lyn mengedar melihat ke seisi kamar, kosong. Sosok Luth tidak tampak di kamar itu. Ah, sia-sia sejak tadi Lyn merasa gugup saat hendak masuk kamar, ternyata kegugupan itu seharusnya tidak perlu ada.


Lyn menyelinap masuk, meletakkan gelas ke meja.


Kletek.


Pintu di belakangnya dibuka. Kulit tubuh Lyn meremang mendengar suara itu. Luth kah itu? Huh, Luth yang dulunya adalah teman bermain, kenapa sekarang malah jadi ssperti monster yang menakutkan begini?


Lyn menatap sosok yang baru saja masuk ke kamar melalui pantulan cermin di depannya. Tepat, kali ini benar-benar Luth yang masuk kamar. Pria itu hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang. Rambutnya basah, tetes air dari ujung rambut yang basah membasahi dahinya.


Melihat Luth yang bertelanjang dada, muka Lyn memanas seketika. Namun ia pura-pura cuek, seakan tidak ada apa-apa. Ia duduk di kursi sambil membuka ponsel. Meski pura-pura sibuk sendiri, manik mata Lyn tak dapat diatur, terus bergerak ke arah cermin, menatap gerakan tubuh kekar Luth yang kini tengah membuka lilitan handuk.


"Aaaaaaa…." Lyn berteriak dan langsung menutup matanya.


Tak menjawab, Lyn malah memalingkan wajahnya yang ditutup telapak tangan.


"Hei, ada apa? Ulat bulu?" tanya Luth yang menyadari kamarnya pernah dimasuki ulat bulu, sebab tepat di samping kamarnya ada tanaman daun sirih milik ibunya, yang terkadang daunnya dihinggapi ulat bulu. Lalu dengan mudah ulat bulu menyelinap masuk tanpa permisi, menggelikan.


"Iya, ulat bulu, tuh," ucap Lyn masih di posisi yang sama.


"Buka tangannya dulu, biar bisa nunjukkin ulat bulunya dimana!" titah Luth sambil menarik lengan Lyn yang menutup wajah.


Lyn malah menghindari Luth.  "Ulat bulu punyamu, tuh."


Menyadari maksud ucapan Lyn, sontak Luth membelalak, menunduk menatap ke bawah. 


"Sembrono! Aku masih pakai celana ini," ketus Luth membuat Lyn langsung menyingkirkan telapak tangan dan membuka matanya.


Benar, Luth memakai celana pendek selutut. Lalu pandangannya beralih ke atas, tepat ke mata Luth yang tajam. Mereka bersitatap di jarak sangat dekat. Kenapa ia deg-degan sekali?


"Ya lain kali kalau mau lepasin handuk jangan sembarangan dong, kan bisa di kamar mandi sana," celetuk Lyn salah tingkah.


Luth mengernyit. "Ini kamarku. Aku bebas melakukan apa aja di sini. Kenapa malah jadi kamu yang kasih peraturan? Aneh."


Lyn mendengus. "Ya udah, aku mau tidur. Minggir!" Ia menatap lengan Luth yang ada di sisi kiri kanan tubuhnya.


Luth bertahan pada posisinya, tidak bergerak.


"Luth, awas!" ucap Lyn lagi. Semakin gugup melihat Luth yang menatapnya intens. Apa sih yang sedang di pikirkan Luth? Apa isi pikiran Luth sama sepertinya? Apa Luth juga canggung seperti yang dirasakan Lyn? Tapi jika melihat gelagat dan tatapan mata Luth, pria itu tampak sangat rileks, sama sekali tidak ada tanda- tanda kegugupan.


Pelan Luth menyingkirkan tubuhnya, memberi akses pada Lyn untuk berjalan menuju kasur.


Bersambung


Duh, aku sedih pembaca dan yang nge-like cerita ini sepi, bantu promoin yuk ke grup fb, grup apa aja yg kalian punya biar rame dan author semangat nulis. 😓


Ajak temen-temen kalian baca cerita ini yah