DILAMAR LUTH

DILAMAR LUTH
Air


Dengan perasaan tak menentu, dimulai dengan mengumpulkan niat dan doa, Lyn mulai menampung air dari keran yang yang mengucurkan air ke dalam ember. Setelah ember dipenuhi air, Lyn menggeser ember dan mengganti ember lain untuk menampung air.


Lyn menoleh ke arah bak yang jaraknya sekitar sepuluh meter dari keran tempatnya menampung air. Ia harus mengangkat air ke bak tersebut. Yang pertama muncul dalam benaknya adalah rasa lelah.


Lyn kemudian mulai mengangkat ember dan menuangkan air ke bak.


"Lah, Lyn, kok ngangkutin air? Kenapa? Bukannya biasanya diisi pakai air keran aja? Apa kerannya macet?" tanya salah seorang pria yang kos dan terlihat hendak mengambil air wudhu.


Lyn malah terdiam. Bingung mau jawab apa. Mana mungkin ia jawab jujur kalau ia sebenarnya sedang dihukum.


"Kamu buruan wudhu aja deh," celetuk Lyn tak ingin menjawab pertanyaan orang itu.


Pria itu pun melaksanakan kegiatannya, wudhu. Setelah selesai wudhu, pria itu pergi. Lyn aman.


Lyn balik badan, ia terkejut saat menemukan ember yang ia tinggalkan untuk menampung air itu dalam posisi tergeletak, isinya tumpah. Keran sudah dalam keadaan mati. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Luth. Pria itu berdiri di sisi ember yang terguling.


"Luth, kamu apain embernya? Kok digulingin?" Lyn mendekati Luth dengan ekspresi heran. Kadang-kadang Luth memang nyebelin, capek-capek Lyn menampung air, malah ditumpahin.


Pria yang tampangnya terlihat datar itu malah berkacak pinggang dengan santainya. Ia mengangkat alis.


"Om Nuh menghukum kamu lagi?" tanya Luth enteng.


"Iya."


"Udah kuduga. Ya udahlah baknya nggak usah diisi."


"Kamu mau lihat aku dijewer dan diberi hukuman lebih parah dari ini kalau menolak perintah papa? Semua keran yang alirannya memenuhi bak udah pada macet semua, aku pasti dihukum lebih parah dari ini kalau baknya nggak penuh," Lyn panik.


"Kamu dulu dihukum Om Nuh mengisi bak bak ini karena kamu melakukan kesalahan. Sekarang, apa kamu merasa telah melakukan kesalahan?" tanya Luth dengan tatapan intens.


Kepala Lyn menggeleng dengan polosnya. Mukanya tak kalah polos.


"Nah, kenapa kamu menjalani hukuman ini?" ucap Luth. "Hukuman hanya berlaku untuk orang yang bersalah, bukan orang yang nggak bersalah. Om Nih menghukum kamu karena kesalahpahaman, bukan karena sebuah kesalahan. So, kamu jangan kerjakan hukuman ini!" titah Luth mendominasi.


"Tapi kalau aku nggak penuhi bak bak ini, yang ada aku bakalan mendapat hukuman yang lebih parah karena dianggap membantah perintah papa."


"Dengan kamu menjalani hukuman ini, artinya kamu mengakui kalau kamu bersalah. Emangnya kamu bersalah?"


"Enggak sih. Jadi, aku mesti gimana?" Lyn mengernyit bingung.


"Nurut sama aku! Sini!" Luth melangkahkan kaki menuju ke rumahnya yang hanya tinggal berjalan beberapa langkah saja.


Lyn mengikuti Luth. Mereka memasuki pintu samping yang langsung menghubungkan ke gudang, Luth menarik selang.


"Ujung apa?"


Luth menoleh kesal ke arah Lyn. "Ya ujung selanglah, emangnya ujung apa lagi?"


"Oh. Oke." Lyn menuruti perintah Luth, menarik ujung selang keluar.


"Tarik sampai ke bak rumahmu sana!" titah Luth yang sedang mengatur selang supaya tidak terlipat.


Lyn pun menuruti, menarik selang hingga ujungnya sampai di bak. Tak lama air mengucur dari ujung selang tersebut. Luth menghubungkan selang tersebut dengan keran rumahnya.


"Gimana? Ini mempermudah pekerjaanmu kan?" ucap Luth yang menarik selang lain untuk membantu mengisi bak dengan air.


Lyn tersenyum. Senang sekali pekerjaannya menjadi ringan.


Setelah satu bak penuh, ujung selang dipindahkan ke bak lainnya hingga seluruh bak terisi penuh.


"Pekerjaan itu akan terasa mudah kalau dipikirkan dengan ini," ucap Luth sambil menunjuk pelipisnya.


Lyn hanya manyun saja. Dasar Luth, paling suka membanggakan diri. Mengaku-ngaku otaknya cerdas. Nyebelin, tapi nggemesin.


"Ugh, nggak bisa kurangin dikit Ge Er nya ya?" Lyn mengarahkan ujung selang ke wajah Luth, sontak air mengucur membasahi muka pria itu.


Detik berikutnya, byuurrrr.... Lyn gelagapan saat mendapat balasan siraman air dari ujung selang yang dipegang oleh Luth. Cepat-cepat Lyn menghindar guyuran air itu dengan berlari menjauh, namun semprotan air terus mengikutinya, mengenai di punggung, pinggang, dan kepala.


"Stop! Stop! Udah! Luth, udah jangan terusin!" seru Lyn.


Luth tidak menghiraukan teriakan Lyn. Masa bodo dengan permintaan Gadis itu, ia puas melihat Lyn basah kuyup.


"Rasain! Salah siapa beraninya coba-coba mulai ngejahilin aku! Enak, kan? Tuh, nikmati segernya air. Pagi-pagi udah mandi sampai kuyup begitu!" ketus Luth membuat Lyn kuwalahan menghindari air itu.


Tak lama Lyn mengangkat selang di tangannya dan membalas semprotan air dari Luth. Keduanya saling siram.


Akhirnya keduanya sama-sama basah kuyup.


"Lyn, berhenti! Kalau kita ketahuan main air begini, yang ada urusannya malah tambah panjang. Buruan kita beresin ini!" ucap Luth sambil menghentikan serangan siraman airnya.


Tangan Lyn terhempas turun, mengikuti Luth yang duluan menurunkan selang.


Bersambung