
Luth melambaikan tangan pada angkot yang melintas. Angkot pun berhenti.
"Yuk, naik," ajak Luth sambil menunjukk pintu angkot.
"Luth, kita naik ini?" tanya Lyn bimbang.
"Terus, maumu naik taksi gitu? Jalanan ibi sepi banget, nggak ada taksi lewat, yang kelihatan pertama kali adalah angkot, ya udah kita naik angkot aja, dari pada pulang jalan kaki. jauh loh."
Lyn mengangguk, ia naik ke angkot disusul oleh Luth yang kemudian duduk di samping gadis itu. Tidak ada penumpang selain mereka.
Luth menyebutkan alamat rumahnya pada supir angkot yang langsung disetujui oleh supirnya.
Lagi lagi Lyn melirik Luth yang duduk di aisinya. Pria itu sadar nggak sih sejak tadi Lyn mencuri pandang ke arah samping? Sepertinya Luth benar-benar tidak sadar diperhatikan oleh Lyn.
Lyn juga melirik posisi duduk mereka yang begitu dekat, lengket. Padahal tidak ada penumpang lain, tapi Luth mengambil posisi duduk bersampingan dengan jarak mepet sekali.
"Subuh subuh begini udah narik angkot, Bang?" tanya Luth yang memilih untuk mengobrol dengan supir mengingat sejak masuk ke angkot suasana di angkot sepi tanpa pembicaraan.
"Iya, Mas. Setiap subuh udah mulai cari penumpang rute ini. Beginilah cari duit untuk istri," jawab supir ramah. "Biasanya para pedagang pasar atau ibu ibu mau ke pasar yang jadi langganan.
"Oh."
"Berdua aja, Mas? Subuh-subuh begini udah keliling kota, pacaran ya?" tanya supir sambil tersenyum simpul.
Hadeh, mulai kepo nih wartawan gadungan. Luth menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Enggak pacaran, ini istri saya," ketus Luth yang tak ingin dianggap berpacaran, membuat Lyn membelalak dan mengulum senyum.
Ternyata begini rasanya disebut istri oleh Luth, langsung nyetrum ke jantung.
Beberapa menit kemudian, angkot berhenti.
Luth dan Lyn turun. Mereka kembali berjalan beriringan. Untuk sampai ke rumah, mereka harus berjalan sekitar dua ratus meter.
"Lain kali hati-hati ya, jangan sampai diculik orang lagi!" ucap Luth. "Kalau keluar rumah tuh biasa aja, nggak usah dandan cantik, repot kan jadinya?"
Lyn lagi-lagi hanya manyun. "Kan kamu yang bikin aku jadi diculik orang, kamu kelamaan datang. Emangnya kemana sih kok bisa selama itu?"
Muka Luth yang datar akhirnya berubah jadi sedikit lebih manis. "Maaf, aku beli sesuatu, jadinya lambat datang."
"Lyn!" Luth berhenti. "Kamu kenapa?"
Lyn masih terisak.
"Ada apa?" Luth tampak bingung, tiba-tiba Lyn menangis.
"Aku hampir aja dilecehin," ucap Lyn sesenggukan.
Luth menghadap Lyn, hanya di jarak dekat, menatap gadis itu intens. Ia menarik tubuh Lyn dan memeluknya.
"Udah, jangan nangis." Luth berusaha menenangkan. "Lyn, kamu mau kan nikah sama aku?" Satu tangan Luth melingkar di punggung Lyn, sedangkan satunya lagi menyerahkan sebuah cincin yang ditunjukkan du depan mata Lyn.
Lyn terdiam, senang sekaligus syok. Diperlakukan begini oleh orang yang di cintai. Matanya menatap cincin yang ada di depan matanya, hanya jarak dua centi.
Lama terdiam, Luth melepas pelukan.
"Katanya minta dilamar, malah bengong lagi. Ya udahlah, ini cincinnya ditarik lagi." Luth menarik cincinnya.
"Tunggu dulu," ucap Lyn sambil mengambil cincin dari tangan Luth. "Cepet banget berubah pikiran. Iya, aku mau nikah sama kamu."
Luth mengusap pucuk kepala Lyn dan menatap gadis itu teduh. "Maaf, aku nggak bisa ngelamar kamu seperti yang kamu harapkan."
Lyn tersenyum.
"Sini, aku pakaikan cincinnya." Luth meraih tangan Lyn, lalu memasang cincin di jari manis gadis itu. "Jangan nangis lagi ya, calon istri."
Senyum Lyn mengembang lebar. "Makasih ya."
Luth mengangguk. "Ya udah, buruan masuk rumah. Mau nikah kan bentar lagi? Takutnya papamu menyadari kepergianmu dari rumah sampai subuh begini, pikiran papamu bisa jelek kalau tau ini."
"Iya, aku pulang. Dadaaaa..." Lyn berlari kecil menuju rumahnya. Sampai di depan rumah, ia berhenti dan menoleh ke arah Luth yang juga berada di halaman rumahnya sendiri. "Topi titipan kamu ketinggalan di taman," ucap Lyn.
"Nggak apa-apa," jawab Luth.
BERSAMBUNG